Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

Pasokan Biofuel Terbatas, Prioritaskan untuk Pesawat dan Kapal

×

Pasokan Biofuel Terbatas, Prioritaskan untuk Pesawat dan Kapal

Sebarkan artikel ini
Pasokan biofuel terbatas — Pesawat komersial dan kapal laut sebagai prioritas pemanfaatan pasokan bahan bakar nabati atau biofuel.
Pemanfaatan bahan bakar nabati dinilai lebih mendesak diprioritaskan untuk sektor transportasi laut dan udara.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Pemanfaatan bahan bakar nabati di Indonesia dinilai lebih mendesak diarahkan ke sektor transportasi laut dan udara dibandingkan sektor transportasi darat. Tingginya laju konsumsi energi kendaraan darat diproyeksikan melampaui kemampuan produksi biofuel domestik, sementara sektor maritim dan penerbangan komersial hampir tidak memiliki alternatif energi bersih selain bahan bakar cair rendah karbon.

Kebijakan transisi energi nasional selama ini masih menitikberatkan pencampuran bahan bakar nabati pada kendaraan bermotor di jalan raya. Padahal, percepatan elektrifikasi kendaraan berbasis baterai telah menawarkan jalur dekarbonisasi yang jauh lebih efisien untuk moda darat.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Kesenjangan Pasokan Biofuel dan Kebutuhan Transportasi

Peringatan mengenai ketimpangan neraca pasokan tersebut diungkapkan oleh koalisi organisasi masyarakat sipil dalam peluncuran laporan kajian pada Selasa (29/9/2026). Kajian kolaboratif ini disusun bersama oleh Yayasan Madani Berkelanjutan, Institute for Essential Services Reform (IESR), Koaksi Indonesia, dan Landscape Alliance.

Kajian bertajuk Menakar Ambisi dan Realitas: Masa Depan Biofuel Indonesia dalam Kerangka Transisi Energi yang Berkeadilan tersebut memproyeksikan kapasitas pasokan biodiesel dan bioetanol nasional hanya mencapai kisaran 26,6 juta kiloliter pada 2030.

Volume pasokan tersebut tidak sebanding dengan laju kebutuhan sektor darat yang sangat masif. Berdasarkan pemodelan riset, kebutuhan bahan bakar nabati untuk armada transportasi darat diperkirakan menembus 42 juta kiloliter pada 2030, kemudian melesat hingga 81,6 juta kiloliter pada 2050.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kebutuhan armada kapal laut. Sektor transportasi laut diproyeksikan hanya memerlukan pasokan bahan bakar nabati sekitar 0,09 juta kiloliter pada 2030, sehingga alokasi untuk sektor ini dinilai jauh lebih terukur dan berpeluang tuntas didekarbonisasi.

Baca Juga :  5 Fakta Terbaru tentang Bank: Inflasi, Suku Bunga, dan Dampaknya pada Ekonomi

Dilema Elektrifikasi dan Keterbatasan Teknologi Mesin Berat

Lead Program Transisi Energi Berbasis Komunitas Madani Berkelanjutan, Riza Egi Arizona, menggarisbawahi bahwa strategi transisi energi tidak semestinya menyamaratakan kebutuhan setiap lini mobilitas. Karakteristik teknis dan ketersediaan opsi bahan bakar alternatif menjadi faktor penentu efektivitas transisi.

“Sementara kebutuhan bahan bakar cair di laut dan udara itu lebih sulit digantikan.”

— Riza Egi Arizona

Transportasi darat memiliki fleksibilitas dekarbonisasi yang luas melalui adopsi kendaraan listrik berbasis baterai, ekspansi jaringan kereta api, dan pembenahan angkutan umum massal. Kematangan ekosistem kendaraan listrik di jalur darat menjadikan ketergantungan pada bahan bakar cair nabati semestinya mulai diturunkan secara bertahap.

Di sisi lain, kapal kargo lintas samudra dan pesawat komersial menghadapi kendala teknis mendasar terkait bobot serta kepadatan energi baterai. Mengganti sistem penggerak armada pelayaran dan penerbangan jarak jauh membutuhkan bahan bakar dengan densitas energi tinggi yang hanya dapat dipenuhi oleh bahan bakar cair.

Penyelarasan Alokasi Bahan Baku

Untuk menyusun peta jalan transisi energi yang terukur, para peneliti merekomendasikan pertimbangan menyeluruh dalam menetapkan prioritas distribusi komoditas nabati. Evaluasi menyeluruh dinilai mendesak agar komoditas perkebunan domestik tidak dipaksa menanggung beban target yang melampaui daya dukung lingkungan.

Terdapat tiga parameter utama yang harus dipertimbangkan secara saksama dalam menentukan arah pemanfaatan bahan bakar nabati:

  • Keseimbangan antara kapasitas pasokan riil dan proyeksi volume kebutuhan bahan bakar di masa depan.
  • Kesiapan serta kematangan teknologi mesin penggerak pada masing-masing moda transportasi.
  • Ketersediaan opsi dekarbonisasi alternatif di luar penggunaan bahan bakar cair.

Memaksakan pemenuhan seluruh konsumsi energi transportasi darat melalui biofuel dinilai berisiko memperparah deforestasi dan memperuncing konflik agraria. Beban produksi kelapa sawit dan tebu yang berlebihan juga dapat mengganggu stabilitas pasokan pangan serta mempersempit ruang diversifikasi pertanian nasional.

Arah Baru Melalui HVO dan SAF

Para periset menyarankan agar arah kebijakan energi nabati nasional mulai digeser ke produk turunan yang lebih ramah spesifikasi teknis sektor non-darat. Langkah ini mencakup pengalihan fokus menuju bahan bakar yang bisa langsung digunakan tanpa modifikasi signifikan pada mesin pesawat maupun kapal.

Pemanfaatan hydrotreated vegetable oil (HVO) dinilai sangat potensial untuk menjawab kebutuhan armada pelayaran dan mesin industri berat. Karakteristik teknis HVO memiliki stabilitas penyimpanan yang lebih tinggi serta pembakaran yang lebih bersih dibandingkan biodiesel generasi awal.

Sektor penerbangan internasional juga membutuhkan percepatan penyediaan sustainable aviation fuel guna menekan jejak emisi penerbangan komersial. Bahan bakar avtur berkelanjutan ini telah diakui secara global sebagai instrumen paling efektif untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di industri dirgantara.

Prioritas alokasi pada sektor maritim dan aviasi dinilai sebagai langkah paling rasional untuk mengoptimalkan manfaat iklim dari bahan bakar nabati. Penataan ulang fokus distribusi ini memastikan setiap tetes biofuel yang diproduksi memberi kontribusi dekarbonisasi terbaik tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem daratan.

Pertanyaan Umum

Mengapa biofuel dinilai lebih cocok untuk transportasi laut dan udara?

Transportasi laut dan udara menghadapi kendala teknis berat jika beralih ke baterai listrik karena faktor bobot dan kebutuhan daya jelajah yang panjang. Sementara itu, transportasi darat telah memiliki jalur dekarbonisasi yang lebih mudah melalui adopsi kendaraan listrik berbasis baterai.

Berapa proyeksi defisit pasokan biofuel untuk sektor darat di Indonesia?

Kapasitas pasokan biodiesel dan bioetanol pada 2030 diperkirakan hanya mencapai sekitar 26,6 juta kiloliter. Jumlah tersebut jauh di bawah kebutuhan transportasi darat yang diproyeksikan menembus 42 juta kiloliter pada 2030 dan melonjak hingga 81,6 juta kiloliter pada 2050.

Apa peran HVO dan SAF dalam transisi energi sektor transportasi?

Hydrotreated vegetable oil (HVO) berfungsi sebagai bahan bakar bersih pengganti solar untuk sektor perkapalan dan mesin industri, sedangkan sustainable aviation fuel (SAF) digunakan untuk memangkas jejak karbon pesawat terbang tanpa memerlukan perombakan armada yang ada.

Sumber: Katadata

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600