Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Bisnis

OpenAI Targetkan Pendapatan Rp1.253 Triliun Akhir 2026

×

OpenAI Targetkan Pendapatan Rp1.253 Triliun Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
OpenAI Targetkan Pendapatan Rp1.253 Triliun Akhir 2026 — Logo OpenAI dengan target pendapatan tahunan 70 miliar dolar AS pada akhir 2026
OpenAI menargetkan pendapatan tahunan sekitar 70 miliar dolar AS atau Rp1.253 triliun pada akhir 2026.
Banner Iklan Harianesia 468x60

OpenAI dikabarkan menargetkan pendapatan tahunan yang disetahunkan atau annualized revenue mencapai 70 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1.253 triliun pada akhir 2026. Angka ini muncul di tengah pembicaraan perusahaan pengembang ChatGPT tersebut dengan investor mengenai pendanaan baru. Proyeksi itu memperlihatkan besarnya potensi bisnis AI, terutama dari layanan yang digunakan perusahaan untuk mendukung operasional mereka.

Namun, kabar mengenai proyeksi pendapatan tersebut juga memicu perhatian investor setelah saham teknologi mengalami tekanan di pasar Amerika Serikat. Indeks Nasdaq 100 tercatat turun 1,4 persen, sedangkan indeks yang mengukur pergerakan saham perusahaan pembuat chip merosot 3,4 persen.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Proyeksi pendapatan OpenAI menjadi sorotan karena industri AI menopang ekspektasi besar terhadap saham teknologi, chip, dan pusat data di pasar global.

Proyeksi pendapatan OpenAI dan cara membacanya

Dikutip dari Yahoo Finance, OpenAI diperkirakan mampu mencapai atau melampaui pendapatan tahunan yang disetahunkan sebesar 70 miliar dolar AS pada akhir 2026. Jika dikonversi menggunakan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS, nilai itu setara Rp1.253 triliun. Angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan pendapatan final yang sudah dibukukan sepanjang tahun.

Pada akhir September 2026, pendapatan tahunan yang disetahunkan OpenAI disebut telah mencapai sekitar 50 miliar dolar AS atau setara Rp895 triliun. Perhitungan ini menggambarkan perkiraan pendapatan selama satu tahun dengan menggunakan kinerja dalam periode yang lebih pendek. Artinya, angka tersebut tidak sama dengan total penjualan yang benar-benar diperoleh OpenAI selama Januari hingga September 2026.

Perusahaan masih harus mempertahankan pertumbuhan bisnisnya agar target yang diproyeksikan pada akhir tahun bisa tercapai. Informasi mengenai proyeksi itu muncul ketika OpenAI berbicara dengan investor mengenai pendanaan baru, sehingga metode perhitungan perlu diperhatikan agar tidak keliru memahami angka yang beredar di pasar.

Pendapatan tahunan yang disetahunkan — estimasi pendapatan selama setahun yang dihitung dari laju pendapatan pada periode tertentu, bukan total pendapatan yang sudah benar-benar diperoleh.

Bisnis perusahaan jadi pendorong utama pertumbuhan

Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan OpenAI adalah perkembangan bisnisnya di kalangan perusahaan. Layanan AI semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan, mengolah informasi, meningkatkan produktivitas, hingga mendukung berbagai kebutuhan operasional. Permintaan dari segmen ini berpotensi memberikan pemasukan berulang bagi OpenAI melalui layanan berbayar.

Baca Juga :  IHSG Turun 4,2%, Purbaya Bingung: Kondisi Fiskal Baik, Tapi Saham Masih Tertekan

Meski demikian, proyeksi pendapatan perusahaan AI perlu dilihat lebih cermat. Pendapatan yang terus meningkat memang menunjukkan adanya permintaan terhadap produk mereka, tetapi angka tersebut belum otomatis menggambarkan keuntungan bersih. Perusahaan tetap harus memperhitungkan biaya pengembangan teknologi, pengoperasian pusat data, kebutuhan komputasi, dan berbagai pengeluaran lainnya.

Hal ini penting karena pengembangan AI membutuhkan dukungan infrastruktur dan investasi yang besar. Semakin banyak pelanggan menggunakan layanan AI, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk memastikan kapasitas komputasi dan kualitas layanannya tetap memadai. Jika pertumbuhan pendapatan mampu mengimbangi biaya tersebut, peluang bisnisnya bisa semakin menarik.

Perbedaan metode perhitungan pendapatan memicu kebingungan

Angka pendapatan OpenAI sempat menjadi perhatian setelah sejumlah pemberitaan menyebut perusahaan tersebut telah memproyeksikan pendapatan tahunan yang disetahunkan mendekati 70 miliar dolar AS. Namun, perhitungan dari investor dan pemberitaan lain menunjukkan angka yang berbeda. Salah satu penyebabnya berkaitan dengan metode penghitungan pendapatan dari penyedia layanan cloud.

Perbedaan cara mencatat pendapatan tersebut bisa menghasilkan angka yang tidak sepenuhnya sebanding antara satu perusahaan AI dan perusahaan lainnya. Situasi ini penting dipahami karena pendapatan tahunan yang disetahunkan sering digunakan untuk menggambarkan kecepatan pertumbuhan bisnis AI, meski metrik tersebut bukanlah ukuran yang seragam untuk semua perusahaan.

OpenAI dan Anthropic, misalnya, dapat memiliki pendekatan perhitungan yang berbeda, termasuk dalam memperlakukan pendapatan dari penyedia cloud. Jika angka pendapatan dua perusahaan AI tampak berdekatan, jangan langsung menyimpulkan bahwa skala bisnis keduanya sama tanpa memeriksa metode perhitungannya.

OpenAIAnthropic
Pendapatan tahunan disetahunkanSekitar 70 miliar dolar AS pada akhir 2026 (proyeksi)65 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026
Setara rupiahSekitar Rp1.253 triliunSekitar Rp1.163,5 triliun
Rencana saham publikIPO ditunda hingga setidaknya 2027Berpotensi menawarkan saham paling cepat November 2026

Anthropic sebelumnya dilaporkan memiliki pendapatan tahunan yang disetahunkan sebesar 65 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026. Dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp1.163,5 triliun. Angka ini memperlihatkan besarnya persaingan di industri AI, terutama dalam merebut pelanggan korporasi. Namun, perbandingan langsung antara Anthropic dan OpenAI tetap perlu dilakukan secara hati-hati karena perbedaan metode pencatatan dan periode pengukuran dapat memengaruhi hasilnya.

Tekanan pada saham teknologi setelah proyeksi disorot

Perkembangan bisnis OpenAI ikut menjadi perhatian pasar setelah saham teknologi memimpin penurunan indeks S&P 500, menyusul pemberitaan mengenai proyeksi pendapatan tahunan perusahaan yang dinilai lebih rendah daripada sejumlah perkiraan sebelumnya. Indeks Nasdaq 100 tercatat turun 1,4 persen, sedangkan indeks yang mengukur pergerakan saham perusahaan pembuat chip merosot 3,4 persen.

Baca Juga :  Penyebab Harga Saham Berbeda dari Harga IPO Setelah Listing

Pergerakan ini menunjukkan bahwa kabar seputar bisnis AI dapat menjadi perhatian investor di tengah tingginya ekspektasi terhadap industri tersebut. Meski demikian, penurunan indeks tidak serta-merta membuktikan bahwa proyeksi pendapatan OpenAI menjadi satu-satunya penyebab tekanan di pasar.

Mengapa kabar mengenai pendapatan sebuah perusahaan AI bisa memengaruhi saham teknologi lainnya? Salah satu alasannya adalah tingginya ekspektasi investor terhadap pertumbuhan industri AI, termasuk kebutuhan terhadap chip, pusat data, dan infrastruktur komputasi. Jika pertumbuhan bisnis AI diperkirakan tidak secepat harapan pasar, investor bisa menilai kembali prospek perusahaan yang dianggap ikut diuntungkan oleh perkembangan teknologi tersebut.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan pasar saham, situasi ini memperlihatkan pentingnya membedakan antara potensi jangka panjang dan ekspektasi jangka pendek. Industri AI masih menawarkan peluang pertumbuhan, tetapi harga saham dapat bergerak naik turun ketika informasi baru mengubah penilaian investor. Pergerakan pasar juga dipengaruhi faktor lain, seperti kondisi ekonomi, suku bunga, dan kinerja masing-masing perusahaan.

Pendanaan Rp537 triliun dan rencana IPO

Di tengah ambisi pertumbuhan bisnisnya, OpenAI dikabarkan sedang berdiskusi untuk menghimpun pendanaan baru senilai US$30 miliar atau lebih. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp537 triliun. Perusahaan tersebut disebut mengejar valuasi sekitar 1,4 triliun dolar AS atau setara Rp25.060 triliun sebelum dana baru masuk.

OpenAI juga dilaporkan menjajaki pembicaraan dengan sejumlah dana investasi dari Uni Emirat Arab, termasuk MGX yang berbasis di Abu Dhabi, untuk membantu menopang putaran pendanaan tersebut. Sebagai gambaran, OpenAI sebelumnya menghimpun pendanaan sebesar 122 miliar dolar AS pada Maret 2026, dengan valuasi 852 miliar dolar AS yang sudah memperhitungkan dana dalam putaran tersebut. Berdasarkan asumsi kurs yang sama, pendanaan itu setara dengan sekitar Rp2.183,8 triliun, sedangkan valuasinya mencapai sekitar Rp15.250,8 triliun.

Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap potensi perkembangan bisnis AI. Namun, valuasi perusahaan tidak sama dengan pendapatan ataupun keuntungan yang dihasilkan, sehingga ketiganya perlu dibedakan ketika menilai kondisi keuangan OpenAI.

Rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) juga menjadi perhatian. OpenAI disebut menunda rencana IPO hingga setidaknya 2027 karena ingin memprioritaskan upaya keselamatan AI. Sementara itu, Anthropic diperkirakan berpotensi menawarkan saham kepada publik paling cepat pada November 2026. Jika rencana tersebut berkembang sesuai perkiraan, persaingan antara kedua perusahaan akan semakin menarik untuk diikuti, terutama dalam hal pengembangan teknologi, penghimpunan modal, dan upaya memenuhi ekspektasi investor.

Target pendapatan Rp1.253 triliun memperlihatkan besarnya ambisi OpenAI dalam mengembangkan bisnis AI hingga akhir 2026. Namun, angka tersebut merupakan proyeksi pendapatan tahunan yang disetahunkan, bukan jaminan pendapatan final ataupun keuntungan bersih perusahaan.

Perbedaan metode perhitungan pendapatan, kebutuhan pendanaan hingga ratusan triliun rupiah, dan ekspektasi investor menjadi faktor penting dalam membaca perkembangan bisnis OpenAI. Sementara itu, tekanan pada saham teknologi mengingatkan bahwa potensi besar industri AI tetap disertai risiko dan ketidakpastian yang perlu diperhatikan.

Pertanyaan Umum

Berapa target pendapatan tahunan OpenAI pada akhir 2026?

OpenAI dikabarkan menargetkan pendapatan tahunan yang disetahunkan mencapai 70 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.253 triliun pada akhir 2026, dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS. Angka ini masih berupa proyeksi, bukan pendapatan final.

Mengapa proyeksi pendapatan OpenAI memengaruhi saham teknologi?

Kabar tersebut muncul ketika saham teknologi memimpin penurunan indeks S&P 500. Indeks Nasdaq 100 turun 1,4 persen dan indeks saham perusahaan pembuat chip merosot 3,4 persen. Penurunan itu tidak serta-merta membuktikan proyeksi OpenAI sebagai satu-satunya penyebab.

Kapan OpenAI berencana melakukan IPO?

OpenAI disebut menunda rencana IPO hingga setidaknya 2027 karena ingin memprioritaskan upaya keselamatan AI. Sementara itu, Anthropic diperkirakan berpotensi menawarkan saham kepada publik paling cepat pada November 2026.OpenAI Targetkan Pendapatan Rp1.253 Triliun Akhir 2026

Sumber: IDN Times

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600