Banda Aceh_HARIANESIA.COM– Nonton bareng film dokumenter _Pesta Babi_ yang digelar PW KAMMI Aceh pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, berlangsung aman tanpa pembubaran. Lebih dari 100 mahasiswa dan warga memadati Chirasa Kopi, Lamnyong, Banda Aceh, untuk menyaksikan film Watchdoc yang mengangkat konflik agraria di Papua.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu ditutup dengan diskusi dan foto bersama peserta mengepalkan tangan. Momen tersebut diabadikan dengan teks: _“‘Pesta Babi’ Tak Dibubarkan, Potret Solidaritas Aceh–Papua”_.
Kepala Bidang Kebijakan Publik PW KAMMI Aceh Khairul Rahmad menyebut nobar ini sebagai ruang refleksi atas praktik ketidakadilan yang masih terjadi. “Kita mengadakan nobar ini untuk kembali melihat realita yang terjadi di negeri kita,” kata Khairul.
*“Kolonialisme Gaya Baru”*
Khairul menegaskan, _Pesta Babi_ memperlihatkan wajah kolonialisme yang berganti baju. “Kurang lebih, apa yang tergambar dalam film ini menunjukkan bagaimana kolonialisme masih bisa terjadi di negeri sendiri pada masa sekarang,” ujarnya.
Film dokumenter rilisan April 2026 itu merekam perampasan tanah adat di Papua oleh ekspansi sawit dan tambang, disertai kekerasan aparat terhadap warga yang menolak.
*Tak Ada Represi, Diskusi Menguat*
Berbeda dengan sejumlah daerah yang melaporkan intimidasi, nobar di Banda Aceh berjalan tertib hingga akhir. Diskusi menyorot minimnya pemberitaan arus utama soal Papua dan sikap negara terhadap masyarakat adat.
“Anak muda Aceh punya memori kolektif soal konflik. Karena itu kami merasa dekat dengan penderitaan rakyat Papua,” kata Khairul. Ia menyebut antusiasme peserta sebagai bentuk solidaritas lintas wilayah.
KAMMI Aceh berencana menggelar roadshow nobar serupa di kampus-kampus. “Ini ikhtiar membangun kesadaran kritis. Solidaritas Aceh-Papua harus dijaga,” ujarnya.
Pesta Babi produksi Watchdoc Documentary telah diputar di lebih dari 30 kota sejak April 2026. Film ini memicu diskusi publik soal operasi militer, krisis kemanusiaan, dan oligarki sumber daya di Papua.
Dwi




















