Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

IHSG Naik? Waspadai Profit Taking & Rekomendasi Analis Jumat (4/9)

×

IHSG Naik? Waspadai Profit Taking & Rekomendasi Analis Jumat (4/9)

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan IHSG menguat 1,09% ke 6.667,89 pada Kamis 3 September 2026
IHSG menguat 1,09% pada Kamis 3 September 2026, dengan risiko profit taking pada Jumat.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,09% ke level 6.667,89 pada perdagangan Kamis, 3 September 2026. Pergerakan ini membuka peluang bagi indeks untuk melanjutkan kenaikan pada perdagangan Jumat, 4 September 2026, meskipun investor tetap dihadapkan pada risiko aksi ambil untung setelah reli yang cukup tajam dalam sepekan terakhir.

Penguatan IHSG didorong oleh sentimen positif dari berbagai sisi. Mayoritas bursa Asia tercatat menguat, sementara imbal hasil US Treasury mengalami penurunan. Rupiah juga berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat, ditambah dengan kenaikan harga emas dan batu bara yang turut menyokong indeks. Dari dalam negeri, pasar menyambut positif konfirmasi Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru, serta data inflasi Agustus yang masih terjaga dalam kisaran target.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Level Teknikal dan Proyeksi Jangka Pendek

Head of Research KISI Muhammad Wafi mengatakan bahwa IHSG telah berhasil menembus area resistance di kisaran 6.635–6.666. Jika momentum bullish berlanjut, indeks berpeluang menguji resistance berikutnya di level 6.700–6.730. Sementara itu, support terdekat berada di 6.476–6.500. Wafi menekankan bahwa kenaikan yang cukup tajam setelah sepekan rally membuat risiko profit taking perlu diwaspadai.

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan, meskipun koreksi jangka pendek tetap terbuka. Ia memperkirakan support berada di 6.655 dan resistance di 6.714. Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan IHSG berpeluang menguji 6.705, namun aksi ambil untung menjelang akhir pekan bisa menahan laju indeks. Alrich menempatkan support di 6.600 dan resistance di 6.700.

Baca Juga :  IHSG Turun 4,2%, Purbaya Bingung: Kondisi Fiskal Baik, Tapi Saham Masih Tertekan

Sentimen Eksternal Menjadi Perhatian

Para pelaku pasar akan mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk nonfarm payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran, yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Selain itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada 6 September 2026 juga menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi harga minyak global, yang berimbas pada sektor energi dan perekonomian domestik.

Di tengah peluang lanjutan penguatan IHSG, sejumlah saham menjadi pilihan analis untuk perdagangan Jumat. Wafi merekomendasikan CDIA dengan strategi trading buy pada area 660–690, target harga 735 dan 765, serta stop loss di bawah 630. Selain itu, SMRA direkomendasikan pada area 316–322 dengan target 336 dan 344 serta stop loss di bawah 310. Analis lain juga merekomendasikan ASII di rentang 5.125–5.200, BMRI di 4.510–4.590, dan CDIA di 745–785.

Alrich menyarankan investor untuk mencermati saham-saham berikut pada perdagangan Jumat:

  • JPFA — emiten pakan ternak yang kinerjanya didukung oleh harga komoditas.
  • PANI — saham di sektor perkapalan yang menarik perhatian.
  • CPIN — produsen pakan ternak lainnya dengan prospek positif.
  • ANTM — emiten tambang emas dan nikel yang diuntungkan kenaikan harga komoditas.
  • ARCI — saham di sektor properti yang mulai menunjukkan momentum.

Namun, para analis mengingatkan bahwa investor harus tetap waspada terhadap fluktuasi harga yang mungkin terjadi. Aksi profit taking menjelang akhir pekan bisa menekan indeks, terutama jika tidak ada katalis baru yang signifikan.

Pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir menunjukkan tren penguatan yang cukup konsisten. Indeks berhasil bangkit dari level support psikologis 6.400-an dan kini mendekati level 6.700. Meskipun demikian, volatilitas masih tinggi dan investor disarankan untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat, terutama bagi yang melakukan perdagangan jangka pendek.

Baca Juga :  5 Alasan Thailand vs Malaysia: Persaingan yang Semakin Panas di Kawasan ASEAN

Dari sisi fundamental, inflasi Indonesia yang terjaga di bawah 3% menjadi angin segar bagi pasar modal. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi Agustus 2026 tetap terkendali, sehingga memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan. Hal ini turut memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Selain itu, konfirmasi Destry Damayanti sebagai Gubernur BI yang baru mendapat respons positif dari pelaku pasar. Destry dikenal sebagai figur yang memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan dan diharapkan mampu menjaga stabilitas moneter serta mendorong pertumbuhan kredit. Pasar menilai bahwa kepemimpinan yang jelas di BI akan mengurangi ketidakpastian kebijakan.

Dari sisi eksternal, penurunan imbal hasil US Treasury memberikan sentimen positif bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia. Ketika imbal hasil obligasi AS turun, investor cenderung mencari aset berisiko lebih tinggi di negara berkembang, termasuk saham. Apresiasi rupiah terhadap dolar juga turut mendukung aliran modal asing masuk ke pasar saham domestik.

Kenaikan harga emas dan batu bara menjadi katalis tambahan. Emas yang menembus level psikologis 2.500 dolar AS per ons memberikan keuntungan bagi emiten tambang seperti ANTM. Sementara itu, harga batu bara yang masih tinggi mendukung kinerja emiten energi dan komoditas. Namun, investor perlu memantau perkembangan pertemuan OPEC+ karena keputusan mengenai produksi minyak dapat mempengaruhi harga energi secara global.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Strategi Baru: Dari Panda Bond Hingga BBM Baru

Dengan berbagai faktor tersebut, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang 6.600–6.730 pada perdagangan Jumat. Jika indeks berhasil menembus resistance 6.700, maka potensi kenaikan menuju 6.730 atau bahkan lebih tinggi terbuka lebar. Namun, jika gagal bertahan di atas 6.655, koreksi ke level 6.600 atau lebih rendah bisa terjadi. Para analis menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi dan tidak terlalu agresif dalam menambah posisi di tengah ketidakpastian jangka pendek.

Pertanyaan Umum

Apa yang dimaksud dengan profit taking?

Profit taking adalah aksi menjual saham yang telah mengalami kenaikan harga untuk mengunci keuntungan. Tindakan ini sering dilakukan oleh investor setelah terjadi reli harga, sehingga berpotensi menekan indeks atau harga saham tersebut dalam jangka pendek.

Saham apa yang direkomendasikan analis untuk perdagangan Jumat, 4 September 2026?

Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain CDIA (area 660–690), SMRA (316–322), ASII (5.125–5.200), BMRI (4.510–4.590), serta JPFA, PANI, CPIN, ANTM, dan ARCI. Namun, investor disarankan untuk memperhatikan level support dan resistance serta stop loss yang ditetapkan.

Apa faktor eksternal yang mempengaruhi IHSG saat ini?

Faktor eksternal utama meliputi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (NFP), kebijakan suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta pertemuan OPEC+ yang dapat mempengaruhi harga minyak. Selain itu, pergerakan imbal hasil US Treasury dan nilai tukar rupiah juga ikut mempengaruhi aliran modal asing ke pasar saham Indonesia.

Sumber: Kontan

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600