Edukasi

Dukung Pekan Peduli Sampah 2026, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Lisiawati Lase: Tangerang Harus Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Berbasis Perawat Pertiwi

TANGERANG_HARIANESIA.COM_ Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Fraksi PDI Perjuangan Dapil IV (Kec. Pasar Kemis, Kec. Sindang Jaya, Kec. Rajeg), Lisiawati Lase, menyatakan dukungan penuh terhadap Pekan Peduli Sampah 2026 yang akan digelar di Jakarta pada 9 hingga 14 November 2026.

Lisiawati menilai gerakan ini harus menjadi momentum untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah dari beban menjadi nilai.

“Kabupaten Tangerang harus jadi contoh pengelolaan sampah berbasis Perawat Pertiwi Sampah harus jadi nilai, bukan jadi beban APBD,” tegas Lisiawati, Senin, 3 November 2026.

Pekan Peduli Sampah 2026 adalah rangkaian acara lingkungan hidup berskala nasional. Berdasarkan informasi resmi panitia, agenda terbagi dalam dua rangkaian.

Pertama, Rangkaian Khusus Undangan pada 9–11 November 2026
yang diisi dengan Eksebisi Mini, Forum Best Practice, serta Talkshow dan Workshop.

Kedua, Rangkaian Publik pada 12–14 November 2026 yang dipusatkan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Agenda publik meliputi Eksebisi, Talkshow, Workshop, Peresmian, serta Kids Activity, Games, dan Pertunjukan Musik.

Sorotan utama pada rangkaian publik adalah peluncuran Program 3000 Teba & Waste Station. Lisiawati menilai program ini sangat relevan untuk direplikasi di Kabupaten Tangerang.

Program tersebut merupakan inisiatif strategis berbasis komunitas untuk mengatasi penumpukan limbah langsung dari sumbernya, dengan menggabungkan kearifan lokal dan infrastruktur modern.

Ada dua komponen utamanya:

1. Inovasi Teba Modern (Fokus Sampah Organik)
Kata “Teba” berasal dari kearifan lokal Bali yang berarti halaman terbuka di belakang rumah untuk pembuangan sisa alami. Dalam versi modern, Teba dirancang menjadi instalasi komposter efisien berupa lubang biopori atau sumur vertikal sedalam 2 hingga 2,5 meter yang diperkuat buis beton. Bagian atas ditutup rapat dengan lubang kecil, bagian bawah terbuka menyentuh tanah.

Fungsinya menjadi wadah khusus sisa makanan, potongan sayur, buah, dan guguran daun. Sampah diurai mikroorganisme tanah menjadi pupuk kompos. Keunggulannya ramah lingkungan, mencegah bau dan sarang penyakit, serta mengurangi beban limbah organik rumah tangga secara instan.

2. Pembangunan Waste Station (Fokus Sampah Anorganik)
Waste Station berperan sebagai stasiun atau pos pengumpulan sampah terpadu di area publik. Cara kerjanya sebagai pos drop-off tempat warga menyetorkan sampah non-organik yang telah dipilah dari rumah, seperti botol plastik, kardus, kertas, hingga sampah elektronik.

Sampah yang terkumpul akan disalurkan ke industri daur ulang. Dalam kemitraan serupa, warga yang menyetor sampah bersih bahkan bisa mendapatkan poin atau insentif bernilai ekonomi.

“Melalui 3000 titik Teba dan Waste Station, targetnya jelas: mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA secara signifikan. Ini edukasi gaya hidup zero waste dari hulu, dari rumah kita sendiri,” kata Lisiawati.

Ia menegaskan, Dapil IV yang meliputi Pasar Kemis, Sindang Jaya, dan Rajeg memiliki potensi besar menjadi percontohan, karena peran ibu-ibu sebagai Perawat Pertiwi sangat kuat dalam memilah sampah.

Pekan Peduli Sampah 2026 mengusung tema _Selaras, Peduli, Bertindak untuk Bumi_.

(Dwi Wahyudi)

Exit mobile version