HARIANESIA.COM – Kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari jabatan, kekuasaan, maupun pencapaian duniawi. Lebih dari itu, kepemimpinan membutuhkan karakter yang kuat, kompetensi, integritas, serta landasan keimanan yang menjadi pedoman dalam menjalankan setiap amanah.
Pesan tersebut disampaikan anggota DPR RI, Dr. H. Mulyadi, MMA, saat berbagi wawasan dan pengalaman bersama peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan XX MUI Kabupaten Bogor di Bumi Sultan, Kecamatan Jonggol, Selasa (3/11/2026).
Dalam pertemuan yang berlangsung penuh pembelajaran tersebut, Mulyadi memperkenalkan filosofi 5C dan 7A sebagai prinsip yang dapat diterapkan dalam membangun karakter, membentuk kepemimpinan, sekaligus menjalani kehidupan yang bermakna.
Ia menjelaskan, filosofi 5C mencakup character (karakter), competence (kompetensi), clear (bersih), clear (tuntas atau selesai), serta chemistry (kemampuan membangun hubungan baik dengan sesama).
Kelima prinsip tersebut menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan, tetapi juga harus berkarakter, menjaga integritas, bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan, serta mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, filosofi 7A terdiri dari Allah, Al-Qur’an, adzan, ajal, akhlak, amal, dan akhirat. Ketujuh unsur tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia harus senantiasa berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan, pembentukan akhlak, serta tanggung jawab atas setiap perbuatan.
Menariknya, filosofi 7A tersebut juga diwujudkan melalui sebuah bangunan berbentuk tiang di lokasi pertemuan. Simbol tersebut merepresentasikan nilai-nilai yang disampaikan Mulyadi sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjadikan keimanan sebagai fondasi dalam kehidupan dan kepemimpinan.
Berbagi Perjalanan Hidup dan Makna Kesuksesan
Tidak hanya menyampaikan konsep kepemimpinan, Mulyadi juga membagikan pengalaman perjalanan hidupnya, mulai dari membangun usaha hingga memasuki dunia politik. Ia menceritakan proses dan pengalaman yang dilaluinya, termasuk keterlibatannya dalam dunia usaha bersama Prabowo Subianto sebelum memperoleh kesempatan untuk berkiprah sebagai anggota legislatif.
Dari perjalanan tersebut, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hadir hanya karena kecerdasan atau kesempatan. Dibutuhkan ikhtiar, kerja keras, keimanan, amal saleh, kesabaran, serta konsistensi dalam mengajak kepada kebaikan.
Menurutnya, setiap orang perlu memiliki pemahaman yang jelas mengenai arti kesuksesan sebelum menentukan arah dan tujuan hidup.
“Kalau ujungnya ingin sukses maka definisikan dulu sukses itu apa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jabatan, kekayaan, popularitas, maupun kedudukan sosial. Kesuksesan sejati harus memiliki makna yang lebih luas, yakni bagaimana manusia mampu menjalankan tujuan penciptaannya untuk beribadah kepada Allah SWT.
“Jadi yang disebut sukses adalah beribadah,” tuturnya.
Membangun Bangsa Dimulai dari Pembangunan Jiwa
Dalam pembahasan mengenai umat dan kebangsaan, Mulyadi turut mengingatkan pentingnya membangun kualitas manusia sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Menurutnya, pembangunan tidak seharusnya hanya berorientasi pada infrastruktur dan kemajuan fisik. Pembentukan mental, karakter, akhlak, serta pola pikir masyarakat juga harus menjadi perhatian utama.
Ia mengutip pesan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya dulu, baru bangun badannya,” sebagai pengingat bahwa pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan fisik.
Pesan tersebut relevan dengan peran para kader ulama yang diharapkan mampu hadir sebagai bagian dari solusi di tengah masyarakat, melalui ilmu, keteladanan, serta kontribusi nyata dalam kehidupan sosial.
Menutup pertemuan, Mulyadi mengajak seluruh peserta untuk tidak pernah berhenti belajar, terus meningkatkan kapasitas diri, dan menjadikan setiap pengalaman sebagai sumber pembelajaran.
“Teruslah menjadi orang bodoh yang mau belajar, terus menjadi orang miskin yang bekerja keras untuk bisa menjadi kaya,” pesannya.
Pertemuan bersama peserta PKU Angkatan XX MUI Kabupaten Bogor tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan tentang kepemimpinan, keimanan, dan pembangunan karakter.
Melalui filosofi 5C dan 7A, Mulyadi mengajak para peserta untuk memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang posisi, melainkan tentang nilai, keteladanan, dan tanggung jawab dalam memberikan manfaat bagi sesama.
Harapannya, nilai-nilai yang dibagikan tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang berintegritas, berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi umat serta bangsa.
Heri
