Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

BEI Berencana IPO dalam 2 Tahun ke Depan, Kata Bos Danantara

×

BEI Berencana IPO dalam 2 Tahun ke Depan, Kata Bos Danantara

Sebarkan artikel ini
BEI Berencana IPO dalam 2 Tahun ke Depan — Logo Bursa Efek Indonesia dengan latar gedung bursa dan grafik saham, terkait rencana IPO BEI
BEI berencana melakukan IPO dalam dua tahun ke depan menyusul proses demutualisasi yang sudah berjalan.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mencatatkan sahamnya di lantai bursa melalui initial public offering (IPO) dalam dua tahun ke depan. Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menyebut langkah itu menyusul proses demutualisasi bursa yang sudah mulai berjalan sejak tahun ini.

Rencana tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya Danantara memperkuat dukungan institusional domestik terhadap pasar saham Indonesia. Menurut laporan Financial Times, dukungan itu akan mencakup pengambilan saham di BEI menjelang pencatatan perdana saham bursa tersebut.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

“Kami akan membantu mendorong pasar saham kami agar menjadi jauh lebih baik daripada kondisi saat ini,” kata Pandu, dikutip dari Financial Times, Kamis (8/10).

Sejalan dengan itu, Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan porsi kepemilikan Danantara dalam proses demutualisasi saham BEI berada di kisaran 5% hingga 10%. Angka itu merujuk pada kepemilikan secara individual, bukan keseluruhan konsorsium pemerintah.

  • BEI berencana IPO dalam dua tahun ke depan setelah demutualisasi.
  • Danantara berpotensi mengambil 5% hingga 10% saham BEI secara individual.
  • Konsorsium pemerintah berpotensi menguasai 30% hingga 40% saham BEI.

“Kami sedang bicarakan, tapi mungkin antara 5% sampai 10%,” kata Rosan di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (30/9) lalu.

Baca Juga :  Ekonomi Paruh Kedua 2026 Bisa di Atas 5,5%, Ini Alasan Suahasil

Rosan menjelaskan, total kepemilikan yang berasal dari konsorsium pemerintah dapat mencapai sekitar 30% hingga 40% saham BEI. Konsorsium tersebut berpotensi melibatkan sejumlah pihak pemerintah, salah satunya Kementerian Keuangan.

Perubahan Struktur Kepemilikan Lewat Demutualisasi

Proses demutualisasi mengubah struktur bursa dari organisasi yang kepemilikannya melekat pada anggota bursa menjadi lebih terbuka. Lewat skema itu, pihak lain yang memenuhi ketentuan dapat menjadi pemegang saham bursa.

Kemungkinan IPO sendiri bakal terbuka setelah peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) tentang demutualisasi bursa diterbitkan. Regulasi itu menjadi pintu masuk bagi opsi pencatatan saham bursa di pasar modal.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menuturkan IPO merupakan bentuk ideal dari implementasi demutualisasi bursa. Meski demikian, BEI akan lebih dulu menuntaskan demutualisasi melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

“Kalau di POJK kan sebenarnya kalau demutualisasi itu tidak mesti IPO. Tapi akan ideal nanti (bila) akan IPO. Jadi bisa jadi demutualisasi itu jadi dilakukan sebelum IPO, artinya dibuka dulu pemegang sahamnya siapa, baru IPO.”

— Iding Pardi, Direktur Pengembangan BEI

Iding menyampaikan hal itu kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (18/9). Ia menegaskan, demutualisasi tidak selalu harus berujung pada IPO, tetapi pencatatan saham dinilai sebagai tahap yang paling ideal.

Belum Ada Rencana IPO dalam Waktu Dekat

Meski IPO sudah masuk dalam pembahasan, Iding menyebut BEI belum memiliki rencana pencatatan saham dalam waktu dekat. Bursa masih berfokus menuntaskan tahapan demutualisasi lebih dulu sebelum melangkah ke pasar modal.

Berkaca pada praktik di negara lain, proses dari tahap awal demutualisasi hingga IPO membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun. Durasi itu bergantung pada kesiapan masing-masing bursa.

“Kami di bursa ya setelah demutualisasi itu kan ada pemegang saham baru ya semuanya harus kami rencanakan dengan baik, ketika IPO itu memang harus sudah siap,” ujarnya.

Rencana IPO BEIDalam dua tahun ke depan
Porsi Danantara5% hingga 10% secara individual
Porsi konsorsium pemerintahSekitar 30% hingga 40%
Tahap awalDemutualisasi via rights issue

Dengan skema itu, urutan yang kemungkinan besar terjadi adalah pembukaan pemegang saham baru lebih dulu, baru kemudian pencatatan perdana. Kepastian waktunya masih menunggu terbitnya POJK tentang demutualisasi bursa.

Bagi pelaku pasar, rangkaian rencana ini menandai pergeseran tata kelola BEI dari bursa yang dimiliki anggota menjadi entitas dengan struktur kepemilikan yang lebih terbuka. Kehadiran investor institusional domestik lewat Danantara menjadi salah satu faktor yang disebut dapat memperkuat pasar saham nasional.

Pertanyaan Umum

Kapan BEI berencana melakukan IPO?

Pandu Patria Sjahrir menyebut BEI berencana mencatatkan sahamnya melalui IPO dalam dua tahun ke depan, menyusul proses demutualisasi yang sudah mulai berjalan sejak tahun ini.

Berapa porsi saham BEI yang akan diambil Danantara?

CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan porsi kepemilikan Danantara berada di kisaran 5% hingga 10% secara individual. Sementara total kepemilikan dari konsorsium pemerintah dapat mencapai sekitar 30% hingga 40%.

Apakah demutualisasi BEI harus diikuti IPO?

Menurut Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi, demutualisasi tidak mesti berujung pada IPO. Namun, IPO dinilai sebagai bentuk ideal, sehingga demutualisasi dapat dituntaskan lebih dulu melalui skema rights issue sebelum pencatatan saham dilakukan.

Sumber: Katadata

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600