Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Amanat DEMOKRASI Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka: Dari Ruang Budaya Ke Piring-piring Rakyat

×

Amanat DEMOKRASI Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka: Dari Ruang Budaya Ke Piring-piring Rakyat

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60
Dari Panggung TIM ke Meja Makan Rakyat: Saatnya Demokrasi Dirasakan, Bukan Sekadar Dirayakan

JAKARTA, 9 Agustus 2026_Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Mujib Hermani, Sekretaris Jenderal proDem, menyampaikan catatan kritis kepada seluruh rakyat Indonesia, Kamis (13/8/2026).

Menurut Mujib, 81 tahun merdeka tidak boleh hanya dirayakan dengan upacara dan bendera. “Kemerdekaan adalah warisan keberanian melawan pembungkaman. Hari ini kita harus jujur bertanya: apakah ruang demokrasi dan budaya kita sudah benar-benar merdeka, atau masih dibungkam oleh praktik kekuasaan dan kepentingan kapital?” ujarnya.

Banner Iklan Harianesia 300x600

proDem menegaskan, persatuan tidak bisa dipaksakan dengan bungkamnya suara berbeda. Persatuan sejati lahir ketika setiap warga, komunitas, dan daerah berani berbicara dan didengar.

EMPAT CATATAN KRITIS UNTUK INDONESIA

1. Jaga Persatuan dengan Ruang Demokrasi yang Terbuka
“Indonesia adalah rumah ratusan suku, bahasa, dan adat. Persatuan tidak cukup dengan slogan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ kalau ruang diskusi, protes damai, dan kritik kebijakan masih dipersulit,” tegas Mujib.
“Sebagaimana para pendiri bangsa menjaga persatuan lewat musyawarah, negara hari ini harus menjamin kebebasan bersuara sebagai fondasi persatuan yang berkeadilan. Demokrasi bukan hanya soal pemilu 5 tahun sekali. Demokrasi adalah budaya sehari-hari.”

2. Selamatkan Ruang Budaya dari Komersialisasi Kapital
Mujib menyorot polemik _Taman Ismail Marzuki [TIM]_ yang dinilai semakin dikomersialisasikan.
“Kami prihatin. TIM yang dulu lahir sebagai rumah seniman dan pusat perlawanan gagasan, kini pelan-pelan berubah jadi ruang yang lebih mementingkan kepentingan kapital daripada kepentingan seniman dan rakyat,” katanya.
“Ketika gedung kesenian, teater, dan galeri lebih banyak dipakai untuk event komersial ketimbang pementasan rakyat, itu sama saja dengan membungkam denyut nadi kebudayaan. Budaya bukan komoditas. Budaya adalah napas demokrasi.”
Ia mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola TIM untuk mengembalikan fungsi TIM sebagai ruang publik bagi seniman, mahasiswa, komunitas, dan warga, bukan sekadar proyek bisnis.
“Jangan sampai anak-anak muda hanya bisa melihat seni dari layar HP karena panggungnya sudah dijual. Ruang budaya harus terbuka, terjangkau, dan berpihak pada seniman.”

Baca Juga :  PC Tidar Kota Tangerang Ikut Konser Amal Peduli Sumatera, Hasil Penjualan Parfum Didonasikan 100 Persen

3. Pemuda Jadi Penjaga Demokrasi, Bukan Sekadar Penonton
Mujib mengibaratkan kemerdekaan seperti _Penjahit Sang Saka_. “Dulu kemerdekaan dijahit dengan keberanian melawan penjajah. Hari ini giliran anak muda Indonesia menjahit masa depan dengan pendidikan kritis, kewirausahaan, dan keberanian mengawal kebijakan publik.”
“Pemuda jangan hanya diajak jadi peserta lomba 17-an. Beri mereka ruang ikut merumuskan anggaran, mengawasi pembangunan, mengelola ruang budaya, dan menyuarakan nasib daerahnya. Kalau pemuda dibungkam, maka masa depan demokrasi juga ikut mati.”

4. Pemerintah, Masyarakat Sipil, dan Rakyat Harus Setara dalam Dialog
Ia mendorong Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, DPRD, tokoh masyarakat, akademisi, perempuan, pemuda, seniman, dan media duduk dalam forum yang setara.
“Pembangunan harus menghormati kearifan lokal DAN hak-hak dasar warga. Keamanan tidak boleh jadi alasan membungkam. Infrastruktur, kesehatan, pendidikan, ekonomi kerakyatan hanya bisa jalan kalau ada kontrol publik yang hidup. Itu prinsip demokrasi: tidak ada pembangunan tanpa partisipasi.”

Baca Juga :  Semangat Berbagi: GPIAI El Shadday dan PC API Gelar Aksi Pasar Murah di Pekayon Jaya

PERAN PRODEM DAN JARINGAN SIPIL DI SELURUH INDONESIA

Sebagai organisasi yang lahir dari gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil, proDem hadir mengawal agar demokrasi tidak berhenti di Jakarta.

Di berbagai daerah, proDem bersama jaringan alumni, akademisi, komunitas seni, dan kelompok warga melakukan 5 kerja nyata:

1. Pendidikan Politik & Budaya Warga: Diskusi kampung, sekolah demokrasi, bedah buku, pemutaran film rakyat, dan literasi anggaran agar warga tahu haknya.
2. Aksi Solidaritas: Mendampingi seniman, buruh, petani, mahasiswa, dan kelompok rentan yang suaranya jarang didengar.
3. Konsolidasi Lintas Daerah: Menghubungkan simpul-simpul aktivis dari Aceh, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya, Yogyakarta, hingga NTT untuk saling menguatkan.
4. Pengawasan Kebijakan Publik: Mengawal APBN, APBD, proyek strategis nasional, dan pengelolaan ruang publik agar tidak dikuasai kepentingan kapital.
5. Menjaga Harmonisasi dengan Kebenaran: Menjunjung prinsip musyawarah dengan tetap menghormati keberagaman, tapi tidak menjadikan keberagaman sebagai tameng pembungkaman.

“proDem ada bukan untuk berhadapan dengan negara, tapi untuk memastikan negara hadir dengan cara yang demokratis. Persatuan tanpa kebebasan adalah hening yang dipaksa,” kata Mujib.

Baca Juga :  Proyek Drainase di Cimanggis Diduga Langgar Aturan, Kabid PUPR Bungkam

HIMBAUAN MENJELANG 17 AGUSTUS 2026

Mujib Hermani mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk:
1. Kibarkan Merah Putih mulai 1 Agustus sebagai simbol cinta Tanah Air, sekaligus ingatan bahwa kemerdekaan harus terus diperjuangkan.
2. Isi kemerdekaan dengan aksi warga: kerja bakti, jaga lingkungan, dukung anak sekolah, dukung seniman lokal, nonton pertunjukan rakyat, dan yang paling penting: berani bersuara untuk kebaikan bersama.
3. Tolak pembungkaman. “Perbedaan pendapat itu sehat. Demokrasi mati kalau kritik dianggap makar. Mari kita jaga agar Indonesia jadi ruang aman untuk berdialog, berkesenian, dan berorganisasi.”
4. Kawal pembangunan dengan data dan solusi. “Sampaikan kritik dengan fakta. Tuntut transparansi anggaran. Pastikan ruang publik seperti TIM benar-benar untuk rakyat, bukan untuk segelintir kepentingan.”

“Sebagai aktivis demokrasi dan anak bangsa, pesan saya sederhana: *Demokrasi harus hadir di setiap kehidupan dan Demokrasi harus sampai ke piring-piring rakyat*. Cintai Indonesia dengan cara menghidupkan demokrasinya dan merawat budayanya. Jangan gadaikan kemerdekaan dengan ketakutan dan jangan jual ruang publik ke kapital,” tutup Mujib.

(DW)

“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Demokrasi Hidup, Budaya Hidup, Rakyat Berdaulat”

Narahubung Media:
proDem – Pusat
Email: prodem.indonesia@gmail.com
IG: @prodem_indonesia

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600