Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Hukum

“ADILI PELANGGAR ATURAN!” JM-PPK KEMBALI TURUN KE JALAN DESAK PEMPROV JATENG HENTIKAN PABRIK SEMEN DI PEGUNUNGAN KENDENG

×

“ADILI PELANGGAR ATURAN!” JM-PPK KEMBALI TURUN KE JALAN DESAK PEMPROV JATENG HENTIKAN PABRIK SEMEN DI PEGUNUNGAN KENDENG

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Jakarta, Puluhan masyarakat dari *Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK)* bersama *Jateng Guyub* kembali menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin (1/9). Aksi ini merupakan bentuk penolakan lanjutan terhadap rencana pembangunan pabrik semen di kawasan karst Pegunungan Kendeng, Pati-Rembang.

 

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Dengan membawa spanduk besar dan melakukan aksi teatrikal, massa menuntut negara hadir melindungi lingkungan dan petani, bukan justru mengorbankan kawasan karst demi kepentingan industri.

 

*”Swasembada Pangan, Bukan Pertambangan”*

Dalam orasinya, JM-PPK menegaskan bahwa Pegunungan Kendeng adalah lumbung pangan dan sumber air bagi jutaan warga Jawa Tengah. Alih fungsi karst menjadi tambang dan pabrik semen dinilai mengancam keberlanjutan hidup masyarakat.

 

*”ADILI PELANGGAR ATURAN! JANGAN ADILI PEJUANG LINGKUNGAN”* menjadi seruan utama yang dibentangkan di depan gerbang kantor gubernur.

Baca Juga :  Penegak Hukum Dinilai Lemah Hadapi Koruptor Kakap Beraset Triliunan dan Berjejaring Kekuasaan

 

*”SWASEMBADA PANGAN, BUKAN PERTAMBANGAN”* dan *”SAVE KARST KENDENG TOLAK PABRIK SEMEN!”* juga menjadi tuntutan yang terus digaungkan.

 

“Kami datang bukan untuk menolak pembangunan. Tapi pembangunan yang kami minta adalah yang berpihak pada rakyat, pada air, pada tanah, dan pada pangan. Bukan pembangunan yang merusak,” ujar perwakilan JM-PPK di lokasi aksi.

 

*3 Tuntutan Tegas JM-PPK Kepada Pemprov Jateng*

1. *Hentikan Segala Bentuk Eksploitasi di Kawasan Karst Kendeng*

JM-PPK mendesak Gubernur Jawa Tengah mencabut seluruh izin pertambangan dan pembangunan pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Karst harus dilindungi sebagai Kawasan Bentang Alam Karst yang vital.

2. *Hentikan Kriminalisasi Pejuang Lingkungan*

Massa menyoroti masih adanya petani dan aktivis Kendeng yang diproses hukum karena memperjuangkan hak atas lingkungan. “Adili pelanggar aturan, bukan pejuang lingkungan,” tegas mereka.

Baca Juga :  GP Ansor Jawa Barat Gelar Konferensi Wilayah XVII: Fokus pada Inovasi dan Pengembangan

3. *Pastikan Swasembada Pangan dan Kedaulatan Air*

Lewat poster *”DAULAT PANGAN”, “BURUH TANI HEGAT”, “KAWULA KOPI DAYUNAN”*, massa menegaskan Kendeng adalah masa depan pertanian Jateng. Rusaknya karst berarti hilangnya sumber mata air dan lahan pertanian.

 

*Simbol Perlawanan: Aksi Teatrikal Petani Tertindas*

Salah satu daya tarik aksi adalah penampilan teatrikal. Seorang peserta aksi mengenakan kostum karung goni dan caping, duduk bersimpuh sambil memegang bendera Merah Putih.

 

Aksi ini menyimbolkan jeritan petani Kendeng yang merasa tanah dan airnya dirampas, namun tetap setia menjaga kedaulatan bangsa.

 

Spanduk *”KENDENG MELAWAN! USIR PABRIK SEMEN!”* dengan gambar tengkorak petani juga dipasang di pagar kantor gubernur. Sementara bendera *”JATENG GUYUB – BERGERAK & BERJUANG BERSAMA”* dikibarkan sebagai tanda solidaritas lintas komunitas.

Baca Juga :  Diduga Terstruktur dan Kebal Hukum, Peredaran Obat Keras Golongan G Terang-Terangan Beroperasi di Cengkareng dan kalideres

 

*Catatan: Perjuangan Panjang Warga Kendeng*

Konflik Kendeng dengan industri semen sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Warga, terutama dari komunitas Samin, telah menempuh berbagai jalur hukum hingga aksi jalan kaki ratusan kilometer ke Jakarta.

 

Bagi JM-PPK, aksi kali ini adalah pengingat bahwa persoalan Kendeng belum selesai. Selama izin tambang dan pabrik semen masih mengancam, maka perlawanan akan terus hidup.

 

“Kami tidak akan berhenti. Selama karst Kendeng belum aman, selama air masih dikeruk, maka kami akan terus bersuara,” tutup pernyataan JM-PPK.

 

Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Massa membubarkan diri setelah menyerahkan pernyataan sikap ke perwakilan Pemprov Jateng.

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600