Dari Denpasar, Pengusaha Muda Bali Dorong Semangat Nasionalisme melalui Inovasi Pengolahan Sampah, Penguatan Industri Bernilai Tambah, dan Perjuangan Mewujudkan Indonesia Berkelanjutan
Denpasar – Setiap 10 November, bangsa ini kembali mengingat pekik Bung Tomo di Surabaya. Tapi di Denpasar, pada 10 November 2026 ini, seorang pengusaha muda Bali memilih memaknai Hari Pahlawan dengan cara yang berbeda.
Bukan dengan upacara. Melainkan dengan pertanyaan: apa yang tersisa dari nasionalisme ketika sampah menggunung di TPA Suwung, ketika teknologi kita masih mengimpor, dan ketika geopolitik dunia kian menekan negara-negara berkembang?
Itulah refleksi yang disampaikan Made Hiroki, pemilik PT Solusi Aksara / Solusi Aksara Pirolisis.
Bagi Hiroki, Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa medan perang telah bergeser.
“Jika generasi 1945 berjuang dengan bambu runcing untuk merebut kemerdekaan, generasi sekarang berjuang melawan ketergantungan teknologi, krisis lingkungan, dan ketimpangan ekonomi,” kata Hiroki kepada awak media, Senin, 10 November 2026.
“Ketika Nasionalisme Diuji di Meja Ekonomi”
Dalam pembacaan Hiroki, perubahan tatanan global tidak bisa lagi dibaca dengan kacamata hitam-putih. Perang dagang Amerika-China, perebutan rantai pasok semikonduktor, hingga krisis energi Eropa, semuanya bermuara pada satu kata: kedaulatan.
Indonesia, dengan kekayaan alam melimpah, sering disebut sebagai calon kekuatan ekonomi Asia Pasifik. Namun, kata Hiroki, kekayaan tanpa kemampuan mengolah hanya akan menjadikan Indonesia sebagai penonton di rumah sendiri.
“Bangsa besar tidak cukup hanya punya tambang, sawah, dan laut. Kita harus punya kemampuan mengubahnya menjadi nilai tambah. Itu butuh ilmu, teknologi, dan industri,” ujarnya.
Ia menyebut, kemandirian ekonomi adalah bentuk nasionalisme paling konkret hari ini. Nasionalisme bukan lagi soal orasi di mimbar, melainkan soal keberanian membangun pabrik, laboratorium, dan lapangan kerja di dalam negeri.
Pesan ini, menurutnya, harus sampai ke generasi muda. Bukan hanya menjadi pencari kerja, tapi pencipta kerja. Bukan hanya pengguna teknologi, tapi pengembang teknologi.
“Dari Bali: Sampah sebagai Medan Juang Baru”
Di titik inilah Hiroki membawa narasi itu ke halaman rumahnya sendiri: Bali.
Bersama PT Solusi Aksara dan PT Aksara Cristy Legal, ia mendorong inisiatif pengolahan sampah berbasis teknologi pirolisis. Di tengah citra Bali sebagai pulau pariwisata dunia, di baliknya ada persoalan kronis yang tak kunjung usai: sampah.
TPA Suwung yang overload, sampah plastik di pantai, dan beban APBD untuk pengelolaan sampah menjadi potret yang bertolak belakang dengan citra Bali yang hijau.
Hiroki melihatnya dari sisi lain. Ia merujuk pada teknologi Polaris asal Jepang — sebuah mesin pirolisis termal yang mampu memproses jenis sampah tertentu menjadi residu berupa abu.
Abu tersebut, dalam rancangan yang tengah ia kembangkan, berpotensi diuji lebih lanjut di laboratorium sebagai bahan baku material seperti keramik, dengan tetap memperhatikan standar keselamatan dan kepatuhan lingkungan.
“Bagi kami, sampah bukan akhir. Sampah bisa menjadi awal dari ekonomi sirkular. Tapi semua harus berbasis data teknis dan pengujian yang bertanggung jawab,” katanya hati-hati.
Ia menekankan, pendekatan ini bukan klaim instan. Perlu riset, perlu uji lab, perlu izin lingkungan. Namun gagasan dasarnya jelas: mengubah beban menjadi potensi nilai.
Bagi Bali, gagasan ini punya arti lebih. Bali bukan hanya rumah bagi orang Bali. Ia adalah wajah Indonesia di mata dunia. Ketika Bali bersih, dunia melihat Indonesia maju. Ketika Bali gagap mengelola sampah, dunia melihat Indonesia abai.
“Tri Hita Karana di Tengah Mesin Industri”
Menariknya, Hiroki tidak melepaskan gagasan teknologinya dari akar budaya.
Ia berulang kali menyebut Tri Hita Karana filosofi Bali tentang keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.
“Kemajuan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Pariwisata tidak boleh membunuh kebudayaan. Inovasi teknologi harus memperkuat keseimbangan itu, bukan merusaknya,” ujar Hiroki.
Di sinilah letak tarikan Tempo dalam kisah ini: seorang pengusaha muda yang mencoba mendamaikan dua dunia yang sering dianggap bertolak belakang mesin industri dan kearifan lokal, modernitas dan tradisi, Denpasar dan dunia.
“Generasi Muda: Jangan Hanya Jadi Penonton Sejarah”
Di akhir refleksinya, Hiroki mengajak generasi muda untuk keluar dari jebakan romantisme sejarah.
Banyak anak muda, kata dia, berpikir perjuangan hanya milik mereka yang memegang senjata atau duduk di kursi kekuasaan. Padahal, setiap orang punya medan juangnya masing-masing.
“Pengusaha berjuang dengan membuka lapangan kerja. Ilmuwan berjuang dengan riset. Petani berjuang dengan menjaga pangan. Pekerja berjuang dengan profesionalisme. Itu semua adalah kepahlawanan masa kini,” katanya.
Hiroki menutup perbincangan dengan kalimat yang ia tulis sendiri di poster Hari Pahlawannya tahun ini:
“Perjuangan tidak berhenti setelah kemerdekaan diraih. Kini, tugas generasi penerus adalah menjaga kedaulatan bangsa melalui ilmu pengetahuan, inovasi, karya nyata, dan pengabdian kepada rakyat.”
Sebuah kalimat yang sederhana, tapi di tengah kebisingan geopolitik dan tumpukan sampah di sudut-sudut kota, terasa relevan.
Dari Denpasar, pesan itu dikirimkan. Dari Bali untuk Indonesia. Tentang bagaimana menjadi pahlawan, tanpa harus menunggu perang.
Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2026.
Pahlawanku Teladanku, Melangkah Bersama, Melanjutkan Perjuangan.
Terus Bergerak, Berinovasi, dan Mengabdi untuk Indonesia.
Made Hiroki
Pengusaha Muda Bali
Pemilik PT Solusi Aksara / Solusi Aksara Pirolisis (+62 821-1457-8833)




















