Cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 tercatat USD 146,8 miliar, naik tipis dari posisi akhir September 2026 yang sebesar USD 146,3 miliar. Bank Indonesia (BI) menyebut posisi itu tetap memadai untuk menopang ketahanan sektor eksternal di tengah tekanan pasar keuangan global yang belum mereda.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan perubahan posisi cadangan devisa pada bulan lalu terutama dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Selain itu, penerimaan pajak dan jasa ikut menambah kas devisa negara.
Di sisi lain, posisi tersebut juga tergerus oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo. BI turut mengeluarkan devisa untuk kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, langkah yang ditempuh sebagai respons atas ketidakpastian pasar keuangan global.
| Posisi akhir Oktober 2026 | USD 146,8 miliar |
|---|---|
| Posisi akhir September 2026 | USD 146,3 miliar |
| Selisih | naik sekitar USD 0,5 miliar |
| Kecukupan impor | 5,3 bulan impor |
| Kecukupan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah | 5,2 bulan |
| Standar kecukupan internasional | sekitar 3 bulan impor |
Ramdan merinci, angka tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor. Bila pembayaran utang luar negeri pemerintah turut diperhitungkan, cakupannya menjadi 5,2 bulan impor.
“Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.”
— Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI
Dengan begitu, cadangan devisa per akhir Oktober 2026 masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang lazim dipakai, yakni sekitar tiga bulan impor. Selisihnya mencapai lebih dari dua bulan impor.
BI menilai posisi cadangan devisa saat ini cukup untuk mendukung ketahanan sektor eksternal. Selain itu, cadangan devisa dinilai mampu menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Bantalan di tengah tekanan global
Perkembangan cadangan devisa Oktober 2026 terjadi di tengah dua tarikan yang berlawanan. Di satu sisi, pemerintah menarik pinjaman luar negeri dan menerima pajak serta jasa yang menambah pasokan valuta asing. Di sisi lain, kewajiban membayar utang luar negeri yang jatuh tempo dan kebutuhan menstabilkan rupiah menguras sebagian cadangan.
Hasil akhirnya nyaris datar: hanya bertambah sekitar USD 0,5 miliar dalam sebulan. Angka itu menunjukkan cadangan devisa tidak mengalami penurunan meski BI mengeluarkan dana untuk menahan pelemahan rupiah.
BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga. Keyakinan itu bertumpu pada cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing, seiring persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional.
Imbal hasil investasi yang masih menarik disebut menjadi salah satu faktor yang menopang minat investor asing. Aliran modal masuk itu pada gilirannya membantu menjaga pasokan valuta asing di pasar domestik.

Sinergi BI dan pemerintah
Dalam keterangan resminya, Ramdan menegaskan bank sentral tidak bergerak sendiri. BI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas perekonomian.
“BI juga akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas perekonomian guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.”
— Ramdan Denny Prakoso
Pernyataan itu menempatkan cadangan devisa bukan sekadar angka statistik, melainkan bantalan kebijakan. Ketika pasar keuangan global bergejolak, cadangan devisa menjadi sumber dana untuk menstabilkan rupiah tanpa harus bergantung pada pinjaman darurat.
Bagi pelaku usaha, posisi cadangan devisa yang stabil memberi kepastian bahwa kewajiban luar negeri jangka pendek tetap bisa dilunasi. Bagi pemerintah, angka itu menjadi ruang gerak untuk membiayai kebutuhan tanpa menambah tekanan berlebihan pada nilai tukar.
Yang perlu dicermati, kenaikan Oktober 2026 terbilang tipis. Dengan selisih hanya sekitar USD 0,5 miliar, posisi cadangan devisa praktis bertahan di level yang sama seperti akhir September 2026, ketika angkanya USD 146,3 miliar.
Artinya, tambahan devisa dari pinjaman luar negeri serta penerimaan pajak dan jasa hampir seluruhnya terserap oleh pembayaran utang dan operasi stabilisasi rupiah. Komposisi itu menggambarkan beban ganda yang ditanggung bank sentral pada periode tersebut.
Meski demikian, BI tetap menempatkan kecukupan cadangan devisa sebagai ukuran utama. Dengan cakupan 5,3 bulan impor, Indonesia masih memiliki ruang fiskal eksternal yang lebih lebar dibanding ambang batas internasional sekitar tiga bulan impor.
Pertanyaan Umum
Berapa cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026?
Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa akhir Oktober 2026 sebesar USD 146,8 miliar. Angka itu naik tipis dari posisi akhir September 2026 yang mencapai USD 146,3 miliar, dengan selisih sekitar USD 0,5 miliar.
Apa yang memengaruhi posisi cadangan devisa bulan lalu?
Menurut Ramdan Denny Prakoso, posisi tersebut terutama dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Sebaliknya, pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah menyerap sebagian cadangan.
Apakah cadangan devisa masih dianggap memadai?
BI menilai posisi tersebut memadai karena setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor bila pembayaran utang luar negeri pemerintah turut dihitung. Angka itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Sumber: Kumparan




















