Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali menguat pada perdagangan Selasa (3/11), setelah ditutup naik 0,79 persen ke level 5.098 pada Senin (2/11).
MNC Sekuritas dalam risetnya memperkirakan IHSG masih berada pada bagian wave (iv) dari wave [v] pada label hitam. Dalam skenario itu, indeks berpeluang menguat menuju 5.456–5.564.
Namun, IHSG juga berpotensi berbalik koreksi pada wave (v) dari wave [v] menuju 4.763–4.845 bila menembus 4.907. Posisi support saat ini berada di rentang 5.012–4.907, sedangkan resistance di level 5.326–5.460.
Proyeksi IHSG: Skenario Naik dan Risiko Koreksi
Proyeksi MNC Sekuritas bertumpu pada hitungan wave, sehingga arah IHSG dibaca dari posisi gelombang harga. Dalam label hitam, indeks disebut masih berada di bagian wave (iv) dari wave [v].
Selama level support bertahan, skenario penguatan ke 5.456–5.564 tetap terbuka. Area 5.012–4.907 menjadi zona yang perlu dicermati karena menjadi batas bawah support yang disebut MNC Sekuritas.
Di sisi atas, resistance berada di 5.326–5.460. Level itu menjadi area yang diperkirakan dapat menahan kenaikan sebelum indeks mencoba menembus target yang lebih tinggi.
Risiko utama muncul bila IHSG menembus 4.907. Dalam kondisi itu, MNC Sekuritas melihat potensi koreksi pada wave (v) dari wave [v] dengan target 4.763–4.845.
- IHSG ditutup menguat 0,79 persen ke 5.098 pada Senin (2/11).
- MNC Sekuritas memproyeksikan penguatan menuju 5.456–5.564.
- Koreksi berpotensi terjadi bila 4.907 ditembus, dengan target 4.763–4.845.
Dengan demikian, proyeksi IHSG untuk Selasa (3/11) tidak berdiri pada satu arah. Ada skenario penguatan, tetapi ada pula level yang menjadi pemicu koreksi.
Bagi investor, support dan resistance menjadi acuan untuk membaca pergerakan indeks. Support di 5.012–4.907 menunjukkan area yang diperkirakan menahan penurunan, sementara resistance di 5.326–5.460 menunjukkan area yang diperkirakan membatasi kenaikan.
Pergerakan IHSG pada Senin (2/11) menjadi acuan awal. Kenaikan 0,79 persen membawa indeks ke 5.098, level yang kemudian dipakai MNC Sekuritas untuk membaca skenario wave.
Dalam riset tersebut, MNC Sekuritas tidak hanya menyebut arah indeks. Mereka juga menetapkan support, resistance, dan level pemicu koreksi.
Level 4.907 menjadi garis pemisah antara skenario naik dan koreksi. Selama level itu bertahan, proyeksi utama tetap penguatan ke 5.456–5.564.
Rekomendasi Saham MNC Sekuritas untuk 3 November
MNC Sekuritas merekomendasikan empat saham yang menarik dicermati pada perdagangan Selasa (3/11), yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).
Keempat saham itu menggunakan strategi Buy on Weakness. Strategi ini berarti akumulasi pada area harga yang lebih rendah, bukan mengejar harga yang sedang naik.
Saham BBRI sebelumnya menguat 0,71 persen ke level 2.820, disertai tekanan jual. MNC Sekuritas memperkirakan posisi BBRI saat ini berada pada bagian wave [b] dari wave B.
Investor dapat menerapkan Buy on Weakness pada kisaran 2.650–2.760, dengan target harga 2.950 dan 3.070. Stop loss disarankan di bawah 2.590.
Saham ESSA sebelumnya menguat 6 persen ke level 530, didukung munculnya volume pembelian. MNC Sekuritas memperkirakan posisi ESSA berada pada bagian wave [c] dari wave 4.
Strategi Buy on Weakness untuk ESSA disarankan pada kisaran 505–520, dengan target harga 550 dan 585. Stop loss berada di bawah 492.
Saham MAPA sebelumnya terkoreksi 0,87 persen ke level 570, didukung munculnya volume pembelian. MNC Sekuritas memperkirakan posisi MAPA berada pada bagian wave B dari wave (B).
Untuk MAPA, Buy on Weakness disarankan pada kisaran 535–570, dengan target harga 605 dan 640. Stop loss berada di bawah 525.
Saham PGEO sebelumnya menguat 2,76 persen ke level 930, disertai peningkatan volume pembelian. MNC Sekuritas memperkirakan posisi PGEO berada di awal wave 3 dari wave (C).
Buy on Weakness untuk PGEO disarankan pada kisaran 900–920, dengan target harga 975 dan 1.060. Stop loss berada di bawah 890.
| Saham | Pergerakan terakhir | Area beli | Target harga | Stop loss |
|---|---|---|---|---|
| BBRI | Menguat 0,71 persen ke 2.820 | 2.650–2.760 | 2.950 dan 3.070 | Di bawah 2.590 |
| ESSA | Menguat 6 persen ke 530 | 505–520 | 550 dan 585 | Di bawah 492 |
| MAPA | Terkoreksi 0,87 persen ke 570 | 535–570 | 605 dan 640 | Di bawah 525 |
| PGEO | Menguat 2,76 persen ke 930 | 900–920 | 975 dan 1.060 | Di bawah 890 |
Rekomendasi itu memuat area beli, target harga, dan stop loss sebagai bagian dari rencana transaksi. Keempat saham tersebut memakai strategi Buy on Weakness yang sama.
BBRI dan PGEO disebut menguat pada perdagangan sebelumnya, sedangkan MAPA terkoreksi. ESSA mencatat kenaikan terbesar di antara keempat saham, yaitu 6 persen ke level 530.
Meski demikian, posisi wave masing-masing saham berbeda. BBRI berada pada wave [b] dari wave B, ESSA pada wave [c] dari wave 4, MAPA pada wave B dari wave (B), dan PGEO di awal wave 3 dari wave (C).
Perbedaan posisi wave itu menjadi dasar MNC Sekuritas menetapkan area beli dan target harga yang tidak sama. Semua level tersebut merujuk pada riset yang sama untuk perdagangan Selasa (3/11).
Riset ini difokuskan pada perdagangan Selasa (3/11). Karena itu, area beli, target harga, dan stop loss yang disebut berlaku untuk satu sesi tersebut.
Investor tetap perlu mencermati level support dan resistance IHSG. Pergerakan indeks dapat memengaruhi sentimen terhadap saham-saham yang direkomendasikan.
Pertanyaan Umum
Apa proyeksi IHSG untuk 3 November?
MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguat menuju 5.456–5.564 selama masih berada pada wave (iv) dari wave [v]. Namun, indeks berpotensi koreksi ke 4.763–4.845 bila menembus 4.907.
Saham apa saja yang direkomendasikan MNC Sekuritas?
Ada empat saham, yaitu BBRI, ESSA, MAPA, dan PGEO. Semuanya menggunakan strategi Buy on Weakness dengan area beli, target harga, dan stop loss masing-masing.
Apa itu strategi Buy on Weakness?
Buy on Weakness adalah strategi akumulasi saat harga melemah ke area tertentu. Dalam riset ini, MNC Sekuritas menetapkan kisaran beli untuk setiap saham, bukan mengejar harga yang sedang naik.
Sumber: JawaPos




















