Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Bisnis

Rights Issue CMNP: Rencana Penambahan Modal Babah Alun

×

Rights Issue CMNP: Rencana Penambahan Modal Babah Alun

Sebarkan artikel ini
Rights Issue CMNP: Rencana Penambahan Modal Babah Alun — Ilustrasi grafik saham dan dokumen korporasi terkait rencana rights issue CMNP
PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk mengkaji rencana penambahan modal melalui rights issue setelah persetujuan RUPSLB 26 Mei 2026.
Banner Iklan Harianesia 468x60

PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) sedang mengkaji rencana penambahan modal melalui penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Kajian itu menyusul keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 26 Mei 2026.

Direktur Independen CMNP Hasyim menyatakan perseroan masih menganalisis aksi korporasi tersebut. “Pemegang saham telah menyetujui rencana PUT III HMETD,” tulis Hasyim dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, dikutip Rabu (21/10).

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Perseroan belum mengungkapkan besaran dana yang ditargetkan maupun jadwal pelaksanaan. Meski begitu, izin pemegang saham lewat RUPSLB pada Mei menjadi dasar pijakan pembahasan lanjutan.

EmitenPT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
Aksi korporasiRights issue atau PUT III HMETD
Dasar keputusanRUPSLB 26 Mei 2026
StatusMasih dikaji perseroan

Kepemilikan Babah Alun

Di sisi lain, Hasyim memastikan belum ada rencana perubahan atas kepemilikan pemegang saham utama, Mohammad Jusuf Hamka atau Babah Alun. “Pemegang saham utama perseroan akan tetap mempertahankan kepemilikannya,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan posisi Babah Alun tidak berubah seiring pembahasan rights issue. Kajian penambahan modal tetap berjalan tanpa mengubah struktur kendali saat ini.

CMNP sendiri dikenal sebagai emiten jalan tol yang dikendalikan pengusaha berjuluk Babah Alun tersebut. Nama Jusuf Hamka melekat kuat pada perusahaan ini di mata pelaku pasar.

Baca Juga :  Jaringan PRIMA Gandeng 8 Mitra Baru Perkuat Pembayaran Digital

Strategi Babah Alun Saat IHSG Terkoreksi

Di tengah pembahasan tersebut, Babah Alun menyatakan akan memanfaatkan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan untuk membeli saham. Penurunan pasar terjadi setelah pengumuman MSCI pada pekan lalu memicu tekanan di pasar modal Indonesia.

Lewat akun Instagram resminya @jusufhamka, ia menyebut koreksi tajam sebagai peluang mengakumulasi saham. Ia menyoroti saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang menawarkan dividen menarik.

“Ini adalah kesempatan untuk membeli. It’s time to buy. Karena turunnya udah dibikin tajam dan biasanya kalau sesuatu yang sudah turun tajam akan berbalik arah lagi untuk naik dengan tajam.”

— Mohammad Jusuf Hamka (Babah Alun)

Ia bahkan menyebut kelompok usahanya menyiapkan dana Rp 5 triliun untuk berbelanja saham di pasar pada Senin (19/10). “Pasti hari Senin saya akan belanja dan kita, di kelompok kita, Rp 5 triliun kita akan belanja di market untuk hari Senin,” katanya.

Saham Perbankan Jadi Incaran

Babah Alun menilai saham perbankan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) layak dicermati karena potensi dividennya.

Baca Juga :  BTN Kaji Opsi Buyback Saham dengan Pertimbangan Kondisi Keuangan

Menurut dia, penurunan harga saham perbankan membuka peluang bagi investor memperoleh imbal hasil dividen atau dividend yield yang lebih tinggi. Ia mencontohkan saham Bank Mandiri yang sempat diperdagangkan di kisaran Rp 6.000–Rp 7.000 per saham, lalu turun ke kisaran Rp 3.300–Rp 3.500 per saham.

  • Perseroan masih mengkaji rights issue atau PUT III HMETD yang telah disetujui dalam RUPSLB 26 Mei 2026.
  • Pemegang saham utama, Babah Alun, dinyatakan tidak berencana mengubah kepemilikannya di CMNP.
  • Kelompok usaha Babah Alun menyiapkan Rp 5 triliun untuk membeli saham di pasar pada Senin (19/10), dengan perbankan sebagai incaran.

Dengan asumsi dividen Rp 450 per saham dan harga Rp 3.500 per saham, ia memperkirakan dividend yield Bank Mandiri mendekati 12% per tahun. “Ini lebih bagus dari deposito,” ujarnya.

Ia menilai investor berpeluang memperoleh pendapatan dividen selama memegang saham tersebut. Selain itu, investor berpotensi meraup keuntungan apabila harga saham kembali meningkat.

Namun, pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan pasar yang belum sepenuhnya mereda. Pengumuman MSCI pekan lalu menjadi pemicu koreksi, sementara otoritas pasar masih mencermati dampaknya terhadap aliran dana asing.

Baca Juga :  BEI Kembali Terapkan Short Selling, Analis Ingatkan Risiko Sentimen

Bagi CMNP, fokus utama tetap pada kajian rights issue yang telah mendapat lampu hijau pemegang saham. Perseroan belum membeberkan apakah dana hasil penambahan modal akan dipakai untuk ekspansi jalan tol, pelunasan utang, atau keperluan lain.

Keterbukaan informasi kepada BEI menjadi satu-satunya kanal resmi sejauh ini. Pasar menantikan rincian lanjutan, termasuk struktur HMETD dan rasio penerbitan saham baru.

Pertanyaan Umum

Apa itu rights issue yang sedang dikaji CMNP?

Rights issue adalah penambahan modal dengan menerbitkan hak memesan efek terlebih dahulu kepada pemegang saham lama. CMNP menyebut rencana ini sebagai PUT III HMETD yang telah disetujui dalam RUPSLB 26 Mei 2026.

Apakah Babah Alun akan mengubah kepemilikan di CMNP?

Menurut Direktur Independen CMNP Hasyim, belum ada rencana perubahan. Pemegang saham utama akan tetap mempertahankan kepemilikannya.

Mengapa saham perbankan disebut menarik?

Babah Alun menilai penurunan harga saham perbankan membuat dividend yield lebih tinggi. Ia mencontohkan Bank Mandiri dengan asumsi dividen Rp 450 per saham dan harga Rp 3.500 per saham, yang menurut hitungannya mendekati 12% per tahun.

Sumber: Katadata

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600