Harianesia – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026) di tengah ketidakpastian pasokan global dan risiko geopolitik Timur Tengah. Berdasarkan data Bloomberg, WTI berada di US$ 99,58 per barel pada pukul 14.40 WIB, turun 1,80% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Meski terkoreksi, peluang penguatan masih terbuka bila WTI mampu mempertahankan level support penting. Pasar kini menimbang dua sentimen pasokan yang saling berlawanan: tambahan pasokan dari Rusia yang menekan harga, dan risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz yang menopang harga.
- WTI diperdagangkan di US$ 99,58 per barel, turun 1,80% pada Senin (19/10/2026).
- Support teknikal berada di US$ 96,70 per barel, resistance di US$ 106,76 per barel.
- Pelonggaran sementara sanksi AS terhadap Rusia berpotensi menambah pasokan global.
Pandangan teknikal: support US$ 96,70 jadi penentu
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai peluang penguatan harga WTI masih terbuka secara teknikal. Harga minyak sebelumnya berhasil menembus level resistance minor pada grafik mingguan, yang mengindikasikan momentum kenaikan berpotensi berlanjut.
“Area US$ 96,70 menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Selama harga mampu bertahan di atas support tersebut, WTI masih berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji resistance berikutnya di US$ 106,76,” ujar Geraldo dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Menurut Geraldo, harga WTI berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu untuk menguji area US$ 96,70 sebelum kembali melanjutkan kenaikan. Namun, apabila harga menembus ke bawah level tersebut, momentum bullish berisiko melemah sehingga prospek penguatan perlu dievaluasi kembali.
| Harga WTI | US$ 99,58 per barel |
|---|---|
| Perubahan | Turun 1,80% |
| Waktu data | Senin, 19/10/2026, 14.40 WIB |
| Sumber data | Bloomberg |
| Support teknikal | US$ 96,70 per barel |
| Resistance teknikal | US$ 106,76 per barel |
Tekanan pasokan dari pelonggaran sanksi AS ke Rusia
Dari sisi fundamental, pelonggaran sementara sejumlah sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Kebijakan tersebut membuka peluang peningkatan pasokan bahan bakar Rusia ke pasar global, yang berpotensi menambah tekanan terhadap harga minyak mentah.
Tekanan terhadap harga dapat meningkat apabila tambahan pasokan masuk ketika permintaan global belum cukup kuat untuk menyerapnya. Situasi ini berpotensi membatasi kenaikan harga, meskipun indikator teknikal masih menunjukkan peluang penguatan WTI.
Risiko Selat Hormuz sebagai penopang harga
Di sisi lain, risiko gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz tetap menjadi perhatian pasar. Jalur pelayaran strategis tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan minyak global.
Apabila distribusi terganggu, kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan dapat meningkat dan menjadi faktor penopang harga minyak. Geraldo menyebut perkembangan kedua sentimen tersebut perlu dicermati untuk melihat arah pergerakan harga minyak selanjutnya.
“Tambahan pasokan dari Rusia berpotensi menekan harga, tetapi risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dan ketegangan di Timur Tengah masih bisa menjadi penopang. Karena itu, perkembangan fundamental perlu diperhatikan bersamaan dengan kemampuan harga mempertahankan support US$ 96,70,” jelasnya.
Dengan demikian, arah pergerakan harga WTI dalam waktu dekat akan bergantung pada perkembangan pasokan minyak global dan risiko geopolitik. Apabila tekanan jual mereda dan harga mampu bertahan di atas US$ 96,70 per barel, peluang untuk menguji resistance US$ 106,76 masih terbuka.
Sebaliknya, peningkatan pasokan yang tidak diimbangi permintaan memadai berpotensi membatasi kenaikan harga minyak. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan fundamental sekaligus pergerakan harga di sekitar level support dan resistance tersebut untuk mengantisipasi perubahan tren.
Pertanyaan Umum
Berapa harga WTI pada Senin (19/10/2026)?
Berdasarkan data Bloomberg, WTI berada di US$ 99,58 per barel pada pukul 14.40 WIB, turun 1,80% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Apa level support dan resistance yang perlu dicermati?
Geraldo Kofit dari Dupoin Futures menyebut area US$ 96,70 sebagai support penting, sementara resistance berikutnya berada di US$ 106,76 per barel.
Apa saja faktor fundamental yang memengaruhi harga minyak saat ini?
Pelonggaran sementara sanksi AS terhadap Rusia berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga, sedangkan risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dan ketegangan di Timur Tengah masih menjadi penopang harga.
Sumber: Kontan




















