Jalin menggagas Gerakan Ibu Cek Dulu, program literasi keamanan transaksi digital bagi perempuan pelaku UMKM, yang diawali dengan edukasi terhadap 100 perempuan di Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (16/10).
Program ini menyasar perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ibu rumah tangga yang menjalankan usaha, kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta anggota komunitas perempuan.
Peserta dibekali keterampilan praktis untuk mengenali transaksi mencurigakan, melindungi data pribadi, dan mengambil langkah tepat saat menghadapi dugaan penipuan.
Langkah PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), bagian dari Danantara Indonesia, itu berangkat dari kenyataan bahwa meluasnya pembayaran digital membuka peluang bagi perempuan pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha. Namun, kemudahan bertransaksi perlu diimbangi kemampuan mengenali berbagai modus penipuan yang dapat merugikan pelaku usaha.
Kesenjangan Literasi dan Lonjakan Transaksi Digital
Program ini relevan di tengah masih adanya kesenjangan antara akses dan literasi keuangan masyarakat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan berada pada 69,57 persen.
Selisih sebesar 24,04 poin persentase menunjukkan bahwa semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan masih perlu diikuti peningkatan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkannya secara aman dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen secara tahunan. Perkembangan itu menunjukkan semakin besarnya peran layanan digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk transaksi usaha sehari-hari.
Selisih antara inklusi dan literasi keuangan menjadi titik rawan: akses yang luas tanpa pemahaman memadai membuka celah bagi penipuan digital.
Bagi perempuan pelaku UMKM, risiko tersebut dapat muncul melalui berbagai situasi yang tampak sederhana, mulai dari bukti pembayaran palsu, tautan yang mengatasnamakan penyedia layanan keuangan, hingga permintaan kode OTP.
Ketika tidak dikenali sejak awal, modus semacam ini berpotensi menimbulkan kerugian yang memengaruhi keuangan usaha maupun keluarga.
Dari Edukasi Menuju Gerakan Komunitas
Melalui sesi Digital Safety Academy, peserta Gerakan Ibu Cek Dulu dibekali kemampuan mengenali berbagai modus penipuan digital melalui simulasi kasus sehari-hari, termasuk langkah pencegahan, pengamanan akun, serta penggunaan kanal pengaduan resmi.
VP Corporate Secretary Jalin Putu Agnia mengatakan keamanan transaksi digital tidak hanya bergantung pada keandalan infrastruktur, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk mengenali dan mengantisipasi risiko.
“Sebagai penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran nasional, Jalin ingin memastikan kemajuan teknologi pembayaran diimbangi dengan peningkatan literasi keamanan digital.”
— Putu Agnia, VP Corporate Secretary Jalin
Bagi perempuan pelaku UMKM, menurut Putu, kemampuan ini penting untuk melindungi transaksi, keberlangsungan usaha, dan keuangan keluarga.
Untuk memperluas dampaknya, Jalin membentuk lebih dari 100 duta keamanan digital melalui Digital Safety Ambassador Activation. Para duta akan memperoleh perangkat edukasi (Digital Safety Toolkit) dan pendampingan, dengan target masing-masing mengedukasi setidaknya lima orang.
Dengan demikian, program ini akan menjangkau 500 penerima manfaat tambahan di luar 100 peserta awal.
- 100 perempuan di Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, menjadi peserta edukasi awal pada Jumat (16/10).
- Lebih dari 100 duta keamanan digital dibentuk dengan target masing-masing mengedukasi lima orang.
- Program menargetkan 500 penerima manfaat tambahan di luar peserta awal.
Ke depan, Jalin berharap Gerakan Ibu Cek Dulu dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia, terutama komunitas perempuan pelaku UMKM yang membutuhkan penguatan literasi keamanan transaksi digital, melalui kolaborasi dengan berbagai mitra lokal.
“Kami ingin Gerakan Ibu Cek Dulu berkembang menjadi gerakan bersama yang tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Harapannya, semakin banyak perempuan pelaku usaha yang mampu melindungi diri dan membagikan pengetahuan kepada komunitasnya, sehingga manfaat ekonomi digital dapat dirasakan dengan lebih aman dan berkelanjutan,” tambah Putu.
Satu Dasawarsa Jalin
Memasuki satu dasawarsa kiprahnya pada November 2026 dengan tema “Menghubungkan Negeri”, Jalin terus memperkuat kontribusinya dalam membangun ekosistem pembayaran nasional yang terintegrasi, aman, dan inklusif.
Sejalan dengan semangat “Melayani Sepenuh Hati”, Jalin berkomitmen agar kemajuan infrastruktur pembayaran tidak hanya memperkuat konektivitas ekonomi nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di seluruh penjuru negeri, termasuk melalui pemberdayaan perempuan pelaku UMKM agar semakin terlindungi dan berdaya dalam ekonomi digital.
Pertanyaan Umum
Apa itu Gerakan Ibu Cek Dulu?
Program pemberdayaan perempuan yang digagas Jalin dan berfokus pada literasi keamanan dalam transaksi digital, diawali dengan edukasi bagi 100 perempuan di Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur.
Siapa saja peserta program ini?
Perempuan pelaku UMKM, ibu rumah tangga yang menjalankan usaha, kader PKK, serta anggota komunitas perempuan.
Apa yang dilatih dalam Digital Safety Academy?
Peserta dilatih mengenali modus penipuan digital melalui simulasi kasus sehari-hari, termasuk langkah pencegahan, pengamanan akun, dan penggunaan kanal pengaduan resmi.
Sumber: Katadata




















