Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

GPM Kota Yogyakarta Hadir Bersama Mahasiswa NTT: Bakti Kasih sebagai Wujud Marhaenisme Bung Karno

×

GPM Kota Yogyakarta Hadir Bersama Mahasiswa NTT: Bakti Kasih sebagai Wujud Marhaenisme Bung Karno

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Yogyakarta_HARIANESIA.COM, 25 Agustus 2026 — Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah rakyat melalui kegiatan Bakti Kasih bersama 25 mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT), mayoritas berasal dari Kabupaten Manggarai, yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta dan dimana orang tuanya merupakan korban gempa terparah sehingga kesulitan dalam mengirimkan biaya hidup di Kota Yogyakarta.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 25 Agustus 2026 tersebut diwujudkan dalam aksi pemberian sembako kepada para mahasiswa dan bertempat di SMA Santo Thomas, Gendeng, Baciro, Kota Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri Ketua RW setempat Susilo, Komandan Linmas Kelurahan Baciro Laksmono, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP GPM Antonius Fokki Ardiyanto, serta sejumlah pengurus DPC GPM Kota Yogyakarta.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Wakil Ketua Bidang Kebencanaan DPC GPM Kota Yogyakarta, Yulianto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian sosial GPM kepada generasi muda yang sedang berjuang menempuh pendidikan jauh dari daerah asalnya.

«“Bagi GPM, bakti kasih ini bukan sekadar memberikan sembako. Ini adalah bentuk kepedulian dan solidaritas antarsesama anak bangsa. Mereka datang dari NTT, khususnya Manggarai, ke Yogyakarta untuk belajar dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, sudah semestinya kita sebagai sesama anak bangsa saling menguatkan,” ujar Yulianto.»

Baca Juga :  Peredaran Rokok Ilegal Menggila di Majalengka–Kuningan, LPK-RI Desak Razia Warung dan Bongkar Distributor

Menurut Yulianto, kegiatan tersebut sejalan dengan spirit Marhaenisme Bung Karno, yang menempatkan manusia sebagai subjek perjuangan dan menekankan pentingnya keberpihakan kepada rakyat kecil serta membangun kehidupan bersama atas dasar gotong royong.

Marhaenisme, lanjutnya, tidak boleh berhenti menjadi gagasan yang hanya dibicarakan dalam forum-forum diskusi. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan konkret, termasuk melalui kepedulian terhadap mahasiswa, kaum muda, pekerja, dan masyarakat yang membutuhkan dukungan.

«“Bung Karno mengajarkan bahwa perjuangan harus berpijak pada rakyat. Maka bagi kami, Marhaenisme harus hadir dalam tindakan. Ketika ada mahasiswa dari daerah yang sedang berjuang di Yogyakarta, GPM harus mampu menjadi bagian dari keluarga mereka,” tegasnya.»

Kegiatan Bakti Kasih tersebut diinisiasi oleh Wakil Ketua Bidang Kepemudaan dan Mahasiswa DPC GPM Kota Yogyakarta, Iwan, sebagai bagian dari upaya membangun ruang kebersamaan antara GPM dengan kalangan mahasiswa dari berbagai daerah yang berada di Yogyakarta.

Baca Juga :  Video Viral Kepala Desa Kaduagung Berbaring di Atas Uang Kini Hilang/Take Down dari Jejak Digital, Ada Apa? Merasa?

Menariknya, kegiatan tersebut juga menghasilkan langkah konkret di bidang pemberdayaan ekonomi. Salah satu mahasiswi asal NTT yang hadir dalam kegiatan tersebut mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Restaurant Joglo Jeron Beteng, yang merupakan tempat usaha milik Bapak Stevie, Ketua Dewan Penasehat DPC GPM Kota Yogyakarta.

Bagi GPM, kesempatan kerja tersebut menjadi contoh bahwa gerakan sosial tidak berhenti pada pemberian bantuan sesaat, tetapi harus diarahkan pada pemberdayaan dan kemandirian.

Yulianto menegaskan bahwa memberikan sembako adalah bentuk kepedulian, sementara membuka akses terhadap pekerjaan merupakan bentuk pemberdayaan yang lebih berkelanjutan.

«“Inilah yang kami maksud dengan semangat Marhaenisme. Jangan hanya membantu orang untuk melewati hari ini, tetapi juga membuka jalan agar mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bantuan sosial harus bisa menjadi jembatan menuju kemandirian,” ungkapnya.»

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua RW Susilo, jajaran Linmas Kelurahan Baciro Laksmono pihak SMA Santo Thomas, serta seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan tersebut.

Baca Juga :  Dinilai Lalai dan Merugikan, Ponpes Nurul Furqon Digugat Rp5 Miliar ke PN Kelas I A Cibinong

Menurutnya, keberadaan mahasiswa NTT di Yogyakarta merupakan bagian dari wajah Indonesia yang beragam. Pertemuan antara mahasiswa dari berbagai daerah dengan masyarakat Yogyakarta menjadi ruang penting untuk memperkuat persaudaraan kebangsaan.

«“Yogyakarta adalah rumah bersama. Anak-anak muda dari Manggarai, NTT, Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan berbagai daerah lainnya datang ke sini untuk belajar. Tugas kita adalah memastikan mereka merasa menjadi bagian dari keluarga besar Indonesia,” katanya.»

GPM Kota Yogyakarta berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih erat dengan komunitas mahasiswa NTT dan berbagai kelompok mahasiswa lainnya. Ke depan, GPM mendorong agar kegiatan sosial, kepemudaan, pendidikan, kebudayaan, hingga pemberdayaan ekonomi dapat terus dikembangkan.

“Marhaenisme bukan sekadar kata, tetapi keberpihakan yang diwujudkan dalam kerja nyata. Dari kepedulian, tumbuh persaudaraan; dari persaudaraan, lahir gotong royong; dan dari gotong royong, kita membangun Indonesia yang berkeadilan sosial,” pungkas Yulianto.

(DW)

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600