JAKARTA_HARIANESIA.COM- Mantan mesin rekrutmen Negara Islam Indonesia Ken Setiawan kini berbalik 180 derajat. Dari yang dulu menyebut Pancasila “togut”, kini ia jadi pengkampanye implementasi Sila 1 Pancasila.
Pernyataan itu disampaikannya di kontrakan Wehalim, Bandar Lampung, bertepatan dengan refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945. Ken menilai implementasi Pancasila dimulai dari pemahaman Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
[FOTO LEAD DI SINI]
_Caption foto 2 alinea gaya Harianesia.com:_
_Ken Setiawan saat menyampaikan tafsir implementasi Pancasila di Bandar Lampung. Mantan rekruter NII ini kini jadi pengkampanye paling vokal Sila 1 Pancasila. Ia menegaskan Sila 1 adalah ikrar cinta Tuhan dan tanah air, bukan sekadar hafalan._
_Lewat NII Crisis Center dan buku “Tuhan Kita Sama”, Ken aktif menjadi mediator konflik keagamaan termasuk kasus penolakan gereja. Baginya, perbedaan adalah takdir ilahi untuk saling mengenal “li-ta’arafu”, bukan saling memusuhi. Foto: Dok. Pribadi/Ken Setiawan_
Catatan Redaksi – Crop Area:
Gunakan Foto 1 Ken pakai batik + peci depan mic. Crop 16:9, fokus dari dada ke atas. Potong sedikit sisi kiri-kanan biar muka + mic jadi titik fokus. Background gelap biarkan. Kontras + ketajaman naik 10-15%.
Jumat 30/5- Ken tidak menutupi masa lalunya. Ia mengaku pernah memakai agama untuk membangun kebencian. Pemahaman sempit membuatnya eksklusif dan menolak perbedaan.
“Agama dulu membuat saya jadi pemarah, tapi kini agama mengantarkan pada semangat hidup untuk bangkit dan bermanfaat untuk sesama,” ujarnya.
Dari penyesalan itu ia merumuskan konsep “bonus berantai”. Jika Sila 1 diimplementasikan, maka efeknya akan mengalir ke sila-sila berikutnya.
Sila 1 = Cinta Tuhan, Cinta NKRI, Cinta Keberagaman
Bagi Ken, Sila 1 bukan sekadar pengakuan 1 Tuhan. Konsekuensinya adalah mencintai ciptaan Tuhan, termasuk tanah air dan seluruh anak bangsa yang berbeda keyakinan.
“Perbedaan itu takdir ilahi untuk saling mengenal ‘li-ta’arafu’, bukan saling memusuhi,” tegasnya.
*Bonus Berantai Sila 2-5*
Ken mencontohkan cara Bung Karno memeras Pancasila jadi Ekasila: Gotong Royong pada 1 Juni 1945. Ia merumuskan sebaliknya: mengurai Sila 1 jadi bonus berantai.
“Jika sila pertama dipahami dan diimplementasikan, maka dapat bonus sila kedua: kemanusiaan yang adil dan beradab,” jelas Ken.
Efek domino itu berlanjut ke Sila 3 Persatuan Indonesia, Sila 4 Kerakyatan, dan muaranya Sila 5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Rukun Islam Jadi Strategi
Ken juga menafsir ulang Rukun Islam sebagai strategi, bukan ritual individual. Syahadat adalah loyalitas pro-rakyat. Sholat berjamaah hapus kasta sosial. Zakat distribusi kekayaan. Puasa latihan solidaritas. Haji kongres akbar lintas bangsa.
“Musuh para nabi bukan perbedaan agama, tapi penguasa zolim yang menindas,” katanya.
“Saatnya kita bersatu, agar hidup sejahtera, rukun, aman, damai meski beda agama,” pungkasnya.
Narahubung:
Ken Setiawan – NII Crisis Center
[No HP/email narahubung]
Lampiran:
1. Foto Ken Setiawan http://1.jpg – Lead 16:9
2. Foto Ken Setiawan http://2.jpg – Alternatif
3. Cover buku “Tuhan Kita Sama”.jpg
SEO Data:
Meta Description: Ken Setiawan, mantan rekruter NII, jelaskan implementasi Pancasila dimulai dari Sila 1. Dipahami maka dapat bonus sila 2-5 hingga keadilan sosial
Slug: /nasional/ken-setiawan-implementasi-pancasila-sila-1-bonus-2-5
Tag: Ken Setiawan, Pancasila, NII Crisis Center, Deradikalisasi, Toleransi, 1 Juni
Dwi




















