Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Sobatande: Falsafah Budaya Orang Bekasi di Tengah Perubahan Zaman

×

Sobatande: Falsafah Budaya Orang Bekasi di Tengah Perubahan Zaman

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Bekasi kerap dipahami semata sebagai kota penyangga ibu kota—padat, keras, dan bergerak cepat. Namun di balik wajah urban itu, masyarakat Bekasi menyimpan satu falsafah budaya yang telah lama menjadi fondasi kehidupan sosial: Sobatande. Sebuah nilai yang lahir dari kampung-kampung, tumbuh bersama sejarah, dan terus diuji oleh perubahan zaman.

Bagi masyarakat Bekasi, hidup tidak dijalani secara individual. Sejak lama, ruang sosial seperti pos ronda, mushala, dan warung kopi menjadi tempat bertukar pikiran, menyelesaikan persoalan, sekaligus merawat kebersamaan. Dari praktik sosial itulah Sobatande menemukan maknanya—bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai cara hidup bersama.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Sobatande merepresentasikan semangat gotong royong, kebersamaan, silaturahmi, toleransi, dan persaudaraan. Nilai-nilai ini membentuk karakter masyarakat Bekasi yang dikenal lugas dalam berbicara, tetapi kuat dalam menjaga solidaritas. Kejujuran disampaikan secara langsung, bukan untuk melukai, melainkan untuk menyelesaikan persoalan secara terbuka dan adil.

Baca Juga :  Menhan Sjafrie Tinjau Penertiban Tambang Timah Ilegal di Hutan Produksi Bangka Tengah Bangka Tengah – Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung operasi penertiban tambang timah ilegal yang dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) di Dusun Nadi, Bangka Tengah, Rabu (19/11/2025). Kunjungan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah memperketat pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di kawasan hutan produksi—wilayah yang seharusnya dilindungi dari eksploitasi tanpa izin. Dalam peninjauan tersebut, Sjafrie menerima laporan bahwa aktivitas penambangan berlangsung di area seluas 262,85 hektare, seluruhnya beroperasi tanpa Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH/PPKH). Ketiadaan izin tersebut menguatkan dugaan bahwa praktik tambang ilegal ini telah berlangsung lama dan dilakukan secara terorganisir dengan dukungan peralatan berat. “Penertiban ini bukan sekadar persoalan administrasi. Ini menyangkut keamanan, kerusakan lingkungan, dan tata kelola sumber daya alam yang wajib dipatuhi,” tegas Sjafrie saat meninjau lokasi. Satgas PKH melaporkan sejumlah titik tambang sudah ditutup, sementara alat berat diamankan sebagai barang bukti untuk proses hukum lebih lanjut. Pemerintah pusat juga menegaskan akan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan aparat penegak hukum guna memastikan aktivitas ilegal tidak kembali muncul. Di Kepulauan Bangka Belitung—wilayah yang sejak lama berada dalam tekanan eksploitasi pertambangan—langkah penertiban ini menjadi ujian konsistensi negara dalam menjaga kawasan hutan produksi dari alih fungsi ilegal. Sejumlah penelitian lembaga independen juga mencatat bahwa aktivitas tambang ilegal berkontribusi signifikan terhadap sedimentasi sungai, penurunan kualitas tanah, hingga memicu konflik lahan dengan masyarakat sekitar. Kementerian Pertahanan memastikan operasi penertiban akan dilanjutkan hingga seluruh wilayah bermasalah benar-benar bersih dari aktivitas ilegal. “Kita ingin memastikan kawasan ini kembali pada fungsi ekologisnya dan aturan negara ditegakkan tanpa kompromi,” ujar Sjafrie. (HR)

Dalam Sobatande, gotong royong bukan sekadar kerja fisik, melainkan tanggung jawab moral. Membantu tetangga, menjaga lingkungan, hingga menyelesaikan konflik sosial dilakukan tanpa pamrih dan tanpa transaksi. Prinsipnya sederhana: kepentingan bersama harus didahulukan daripada kenyamanan pribadi.

Bekasi adalah wilayah yang majemuk, baik dari sisi agama, suku, maupun latar belakang sosial. Sobatande berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga kerukunan di tengah keberagaman tersebut. Toleransi tidak dipahami sebagai wacana formal, melainkan sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari—saling membantu dalam kegiatan sosial, menghormati perbedaan, dan menjaga harmoni lingkungan.

Nilai-nilai Sobatande juga memiliki akar historis yang kuat. Ia kerap dikaitkan dengan semangat perjuangan dan keteladanan tokoh-tokoh lokal yang menempatkan persatuan, keberanian, dan pengabdian sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Jejak sejarah itu menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama masyarakat Bekasi.

Baca Juga :  Selusin Gelar WTP: Pemprov Kaltara Kembali Buktikan Transparansi Keuangan Daerah

Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, Sobatande menghadapi tantangan serius. Individualisme, budaya pamer, dan relasi sosial yang semakin transaksional berpotensi mengikis nilai kebersamaan. Gotong royong berisiko bergeser menjadi formalitas, sementara solidaritas sosial terancam menjadi slogan.

Di sinilah Sobatande diuji relevansinya. Ia hanya akan tetap hidup jika dipraktikkan secara nyata—melalui keberanian menegur ketidakadilan, kepedulian terhadap lingkungan sosial, dan kesediaan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Sobatande bukan nostalgia masa lalu, melainkan nilai yang relevan untuk masa depan. Di tengah dinamika perkotaan yang terus berkembang, falsafah ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh mengorbankan solidaritas sosial.

Baca Juga :  Legislator Golkar Mery Pongutan Tinjau Kondisi Rumah Warga dan komitmen perjuangkan Melalui Jalur Legislatif

Selama masyarakat Bekasi masih memegang prinsip kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial, Sobatande akan tetap menjadi jati diri yang membedakan Bekasi dari sekadar kota penyangga. Ia adalah penegasan bahwa kekuatan masyarakat terletak pada kemampuannya menjaga sesama—dan menjaga kampungnya sendiri.

Sobatande bukan hanya budaya. Ia adalah sikap hidup.

Ditulis oleh: Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas alias Mandor Alpin Bule)

Banner Iklan 1
Baca juga:
Baca juga:
Baca juga:
Banner Iklan Harianesia 120x600