Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

Yield SBN 10 Tahun Berpotensi Melonjak ke 7,8%

×

Yield SBN 10 Tahun Berpotensi Melonjak ke 7,8%

Sebarkan artikel ini
Yield SBN 10 Tahun Berpotensi Melonjak ke 7 — Ilustrasi grafik yield SBN tenor 10 tahun berpotensi naik ke 7,8% dari level 7,6%
Yield SBN tenor 10 tahun berpotensi melonjak hingga kisaran 7,8% dalam jangka pendek.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Harianesia JAKARTA. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berpotensi melonjak hingga kisaran 7,8% dalam jangka pendek. Kenaikan ini dinilai menjadi bagian dari proses penyesuaian harga aset domestik untuk mengembalikan daya tarik investasi obligasi Indonesia di mata investor asing.

Asal tahu saja, yield SBN tenor 10 tahun saat ini sudah berada di level 7,6%. Pun, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 10 tahun juga merangkak naik ke level 154,52 basis poin.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, kenaikan yield SBN perlu dilihat sebagai proses normalisasi harga aset Indonesia. Selama ini, yield domestik dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kombinasi risiko nilai tukar rupiah, kebutuhan pembiayaan eksternal, serta tingginya imbal hasil obligasi global.

Ketegangan Geopolitik Memanas, Harga Minyak WTI Naik 15% Sepanjang Oktober

Menurut Fakhrul, yield domestik perlu diberi ruang untuk meningkat hingga menemukan tingkat keseimbangan pasar atau market-clearing level yang cukup menarik bagi investor asing.

Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran atau balance of payments (BoP). Sebab, Indonesia membutuhkan aliran modal masuk atau capital inflow untuk membiayai defisit transaksi berjalan serta kebutuhan investasi.

“Kalau yield terlalu rendah sementara rupiah masih berada di bawah tekanan, expected return investor asing menjadi kurang menarik.”

— Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia

Fakhrul memperkirakan, yield SBN tenor 10 tahun masih berpotensi bertahan di kisaran 7,6%-7,8% dalam jangka pendek. Bahkan, yield dapat bergerak sedikit melampaui level tersebut apabila tekanan dari faktor global dan domestik masih tinggi.

IndikatorPosisi
Yield SBN 10 tahun saat ini7,6%
Proyeksi jangka pendek7,6%–7,8%
CDS Indonesia 10 tahun154,52 basis poin
Proyeksi akhir tahun7,3%–7,5%

Meski demikian, ia tidak melihat kisaran tersebut sebagai tingkat keseimbangan jangka panjang. Apabila yield mencapai 7,7%-7,8% dan mulai menarik minat investor asing, aliran modal masuk berpeluang kembali meningkat. Kondisi ini dapat membantu memperbaiki neraca pembayaran sekaligus menstabilkan rupiah.

Jika proses tersebut berjalan, yield SBN tenor 10 tahun berpeluang turun lagi ke kisaran 7,3%-7,5% pada akhir tahun.

Indofood CBP (ICBP) Raup Pendapatan Rp 64,45 Triliun per September 2026, Tumbuh 15%

“Yield harus dilepas dulu agar capital flow kembali. Setelah capital flow kembali, yield bisa turun tanpa harus dipaksa,” jelasnya.

Karena itu, area yield 7,7% ke atas justru dapat menjadi titik masuk atau entry point yang menarik bagi investor obligasi asing.

Dorongan agar Pasar Menemukan Harganya Sendiri

Untuk mengantisipasi gejolak pasar, Fakhrul melihat pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu membiarkan proses pembentukan harga atau price discovery berlangsung, sembari memastikan tidak terjadi dislokasi pasar.

Pemerintah perlu memberikan kejelasan terkait pasokan SBN, arah defisit anggaran, serta kebutuhan pembiayaan. Sementara itu, BI perlu menjaga likuiditas dan volatilitas rupiah tanpa menghalangi pasar menemukan tingkat yield yang sesuai dengan kondisi fundamental.

Selain itu, biaya lindung nilai atau hedging cost juga perlu dibuat lebih kompetitif. Dengan begitu, yield tinggi yang ditawarkan SBN dapat memberikan imbal hasil setelah lindung nilai (attractive hedged return) yang tetap menarik bagi investor asing.

  • Yield SBN 10 tahun kini di level 7,6% dan berpotensi menyentuh 7,8% dalam jangka pendek.
  • CDS Indonesia tenor 10 tahun naik ke 154,52 basis poin.
  • Yield diproyeksikan turun ke 7,3%–7,5% pada akhir tahun jika capital inflow kembali.

Pertanyaan Umum

Mengapa yield SBN 10 tahun perlu naik lebih dulu?

Menurut Fakhrul Fulvian, yield domestik belum sepenuhnya mencerminkan risiko nilai tukar rupiah, kebutuhan pembiayaan eksternal, dan tingginya imbal hasil obligasi global. Yield perlu diberi ruang naik hingga mencapai market-clearing level yang menarik bagi investor asing, sehingga aliran modal masuk bisa kembali memperbaiki neraca pembayaran.

Pada level berapa yield SBN dianggap menarik bagi investor asing?

Fakhrul menilai area yield 7,7% ke atas dapat menjadi titik masuk yang menarik bagi investor obligasi asing. Jika yield berada di kisaran 7,7%-7,8% dan mulai menarik minat, capital inflow berpeluang meningkat dan membantu menstabilkan rupiah.

Apa yang perlu dilakukan pemerintah dan BI?

Pemerintah perlu memberi kejelasan soal pasokan SBN, arah defisit anggaran, dan kebutuhan pembiayaan. BI perlu menjaga likuiditas serta volatilitas rupiah tanpa menghalangi pasar menemukan yield yang sesuai fundamental. Biaya lindung nilai juga perlu dibuat lebih kompetitif agar imbal hasil setelah lindung nilai tetap menarik.

Sumber: Kontan

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Baca Juga :  Yield SUN Diproyeksi 7,05%-7,20%, Seri FR0109 Masih Menarik
Banner Iklan Harianesia 120x600