Jakarta – Korupsi ibarat sebuah lingkaran setan tidak jelas ujung pangkalnya korupsi juga sudah menjadi bagian budaya masyarakat yang melibatkan hampir semua sektor dan dilakukan oleh siapapun mereka tidak peduli predikat yang disandangnya pejabat, rakyat biasa, bahkan oleh seorang Kyai sekalipun, jadi Ibarat penyakit korupsi di negara Indonesia yang mayoritas penduduk nya Islam ini sudah terlanjur kronis tidak seperti dulu para Ulama dan Kyai dalam kehidupannya bersosialisasi dengan masyarakat” Ujar Dr.Syarif Hamdani Alkaf ‘ Rabu 14 Januari 2026.
Dimana korupsi menjadi ‘momok’ bagi sebuah prasyarat tegaknya negara demokratis sebab korupsi sendiri merupakan salah satu penyalahgunaan kekuasaan yang bermuara pada struktur sosial-politik masyarakat Indonesia jika kita mau jeli melihat korupsi ternyata bukanlah sebuah masalah moral semata seperti yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat namun seperti kita tahu bahwa praktik korupsi ini seolah-olah menjadi sesuatu yang biasa di dalam kegiatan pemerintahan.
Sebagai mana diketahui” KPK menetapkan eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi kuota haji, miris melihatnya beragam persoalan pelik masih mengiringi perjalanan bangsa Indonesia masalah paling krusial yang tengah kita hadapi adalah persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme, alhasil, lubang kemiskinan makin melebar dan kesemrawutan birokrasi kian menggurita sehingga kekecewaan masyarakat terhadap penyelenggara negara pun semakin menggumpal.
Dr. Syarif menilai berbagai persoalan yang menerpa bangsa ini umumnya bersumber dari pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 yang makin memudar, seperti para elit politik, pegawai pemerintahan kepala daerah dan anggota dewan sudah tak malu lagi melakukan korupsi, bahkan saat tertangkap tangan dan digiring petugas, mereka masih bisa tertawa tanpa perasaan malu sedikit pun di hadapan publik.
Lebih lanjut Pakar Hukum Ahli Pidana” Dr. Syarif Hamdani Alkaf .SH.,MH menilai rasa malu di tengah masyarakat semakin merosot hal itu terlihat dari masih terjadinya korupsi, kongkalikong, kekerasan, fitnah, caci maki, dan berbagai keburukan lainnya dan itu adalah tanda-tanda merosotnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat kita dimana situasi ini sungguh sangat memprihatinkan” Ungkapnya.
Betapa sangat luar biasa para pejabat publik itu tidak hanya manis saat kampanye, akan tetapi perilaku mereka seharusnya juga mencerminkan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat umum, bukan malah sebaliknya menilep uang rakyat demi untuk memperkaya diri dan kelompoknya tanpa memperdulikan nasib rakyat yang dari hari ke hari semakin terhimpit oleh kebijakan yang tidak berpihak pada mereka, hal ini bukti pudarnya budaya malu di Indonesia dimana sejumlah pejabat memiliki kasus yang berbeda-beda, mulai dari kasus asusila, hingga kasus korupsi meski pada akhirnya mereka diproses secara hukum, namun publik menilai vonis hukumannya sangat ringan dan tidak setimpal atas perbuatannya.
Jadi bagaimanapun korupsi lebih parah dibandingkan dengan kejahatan kriminal biasa, logikanya kejahatan biasa mungkin hanya merugikan satu atau beberapa orang saja, sedangkan korupsi yang dirugikan bisa sampai seluruh penduduk negeri terlebih korupsi adalah kejahatan berlipat ganda selain menawarkan dosa pribadi pelaku korupsi juga harus menanggung dosa munafik akibat melakukan kejahatan dengan kecurangan yang dilakukan dengan sembunyi terlebih dilakukan oleh orang yang terhormat ” Tutup Dr.Syarif . (Tim)
