Edukasi

Sobatande: Falsafah Budaya Orang Bekasi di Tengah Perubahan Zaman

Bekasi kerap dipahami semata sebagai kota penyangga ibu kota—padat, keras, dan bergerak cepat. Namun di balik wajah urban itu, masyarakat Bekasi menyimpan satu falsafah budaya yang telah lama menjadi fondasi kehidupan sosial: Sobatande. Sebuah nilai yang lahir dari kampung-kampung, tumbuh bersama sejarah, dan terus diuji oleh perubahan zaman.

Bagi masyarakat Bekasi, hidup tidak dijalani secara individual. Sejak lama, ruang sosial seperti pos ronda, mushala, dan warung kopi menjadi tempat bertukar pikiran, menyelesaikan persoalan, sekaligus merawat kebersamaan. Dari praktik sosial itulah Sobatande menemukan maknanya—bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai cara hidup bersama.

Sobatande merepresentasikan semangat gotong royong, kebersamaan, silaturahmi, toleransi, dan persaudaraan. Nilai-nilai ini membentuk karakter masyarakat Bekasi yang dikenal lugas dalam berbicara, tetapi kuat dalam menjaga solidaritas. Kejujuran disampaikan secara langsung, bukan untuk melukai, melainkan untuk menyelesaikan persoalan secara terbuka dan adil.

Dalam Sobatande, gotong royong bukan sekadar kerja fisik, melainkan tanggung jawab moral. Membantu tetangga, menjaga lingkungan, hingga menyelesaikan konflik sosial dilakukan tanpa pamrih dan tanpa transaksi. Prinsipnya sederhana: kepentingan bersama harus didahulukan daripada kenyamanan pribadi.

Bekasi adalah wilayah yang majemuk, baik dari sisi agama, suku, maupun latar belakang sosial. Sobatande berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga kerukunan di tengah keberagaman tersebut. Toleransi tidak dipahami sebagai wacana formal, melainkan sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari—saling membantu dalam kegiatan sosial, menghormati perbedaan, dan menjaga harmoni lingkungan.

Nilai-nilai Sobatande juga memiliki akar historis yang kuat. Ia kerap dikaitkan dengan semangat perjuangan dan keteladanan tokoh-tokoh lokal yang menempatkan persatuan, keberanian, dan pengabdian sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Jejak sejarah itu menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama masyarakat Bekasi.

Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, Sobatande menghadapi tantangan serius. Individualisme, budaya pamer, dan relasi sosial yang semakin transaksional berpotensi mengikis nilai kebersamaan. Gotong royong berisiko bergeser menjadi formalitas, sementara solidaritas sosial terancam menjadi slogan.

Di sinilah Sobatande diuji relevansinya. Ia hanya akan tetap hidup jika dipraktikkan secara nyata—melalui keberanian menegur ketidakadilan, kepedulian terhadap lingkungan sosial, dan kesediaan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Sobatande bukan nostalgia masa lalu, melainkan nilai yang relevan untuk masa depan. Di tengah dinamika perkotaan yang terus berkembang, falsafah ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh mengorbankan solidaritas sosial.

Selama masyarakat Bekasi masih memegang prinsip kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial, Sobatande akan tetap menjadi jati diri yang membedakan Bekasi dari sekadar kota penyangga. Ia adalah penegasan bahwa kekuatan masyarakat terletak pada kemampuannya menjaga sesama—dan menjaga kampungnya sendiri.

Sobatande bukan hanya budaya. Ia adalah sikap hidup.

Ditulis oleh: Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas alias Mandor Alpin Bule)

Exit mobile version