Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Berita

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Tujuh Warga Palestina

×

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Tujuh Warga Palestina

Sebarkan artikel ini
Serangan Israel di Gaza Tewaskan Tujuh Warga Palestina — Ilustrasi serangan Israel di Gaza yang menewaskan tujuh warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya
Sedikitnya tujuh warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Sedikitnya tujuh warga Palestina tewas dalam serangan Israel yang tersebar dari Gaza utara hingga selatan pada Selasa, 20 Oktober 2026. Serangan artileri, tembakan kendaraan militer, dan pesawat nirawak turut melukai sejumlah warga lain. Di tengah gelombang kekerasan itu, rumah sakit-rumah sakit Gaza menghadapi persoalan lain yang tak kalah mematikan: krisis malnutrisi akut yang berulang pada anak-anak.

Laporan Almayadeen menyebutkan korban berjatuhan di beberapa titik dalam satu hari. Di Gaza utara, Mahmoud Khalil Al-Matouq tewas di kawasan Al-Qassasib, Jabalia, dan jenazahnya dibawa ke Kompleks Medis Al-Shifa.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Di Kota Gaza, Karam Abu Hazima tewas akibat tembakan dan bombardemen artileri Israel yang menyasar kawasan Al-Zaytoun. Sebelum itu, serangan terhadap sebuah apartemen permukiman menewaskan Akram Yassin beserta istrinya, Dina.

Di Gaza tengah, Karam Abu Bteihan tewas saat pesawat Israel menyerang dirinya dan seorang warga Palestina lain di luar kompleks pemakaman Al-Sawarha, kawasan Al-Zawaida. Korban yang terluka parah dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah.

Baraa Maarouf tewas saat mengendarai sepeda motor di dekat Wadi Gaza, sebelah utara kamp pengungsi Nuseirat. Pesawat nirawak Israel juga menyerang kamp pengungsi Al-Bureij, sementara tembakan dari kendaraan militer Israel melukai seorang warga Palestina di sebelah timur Al-Maghazi.

Warga Palestina memeriksa sebuah kafe yang hancur akibat serangan udara Israel di pelabuhan Gaza, dekat pantai di Kota Gaza, pada 18 Agustus 2026. — (EPA/MOHAMMED SABER)

Di Gaza selatan, Kompleks Medis Nasser mengumumkan kematian Majd Muhammad Fakhri Hassan, remaja berusia 15 tahun yang terkena tembakan Israel di Qizan al-Najjar, sebelah selatan Khan Younis. Enam warga yang terluka juga tiba di rumah sakit tersebut setelah penembakan di sekitar garis kuning, dan tiga orang lainnya dilaporkan terluka akibat tembakan Israel di Al-Mawasi, Rafah.

Baca Juga :  Cegah Karhutla, Prabowo Tertibkan Regulasi dan Korporasi

Malnutrisi Akut yang Tak Kunjung Usai

Di luar korban serangan langsung, anak-anak Gaza menghadapi ancaman yang berlangsung lama. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 466 kematian akibat kelaparan dan malnutrisi sejak 2024, dan 157 di antaranya adalah anak-anak.

Selama periode 2024 hingga Agustus 2026, tim medis mencatat 158.001 kasus malnutrisi akut pada anak di bawah lima tahun. Sebanyak 28.716 kasus di antaranya tergolong malnutrisi berat.

  • Tujuh warga Palestina tewas dalam serangan Israel pada 20 Oktober 2026 di Gaza utara, tengah, dan selatan.
  • Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 466 kematian akibat kelaparan dan malnutrisi sejak 2024, termasuk 157 anak.
  • Tercatat 158.001 kasus malnutrisi akut pada anak di bawah lima tahun sepanjang 2024 hingga Agustus 2026.

Kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan sekitar 74.200 anak masih membutuhkan perawatan akibat malnutrisi akut hingga April 2027. Angka itu menunjukkan krisis tidak berhenti pada korban yang sudah tercatat.

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Tujuh Warga Palestina

Anak-anak Palestina yang kehilangan tempat tinggal menonton film di sebuah bioskop terbuka darurat di dekat reruntuhan bangunan yang hancur di lingkungan Al-Sheikh Redwan, Kota Gaza, 15 Oktober 2026. — (EPA/MOHAMMED SABER)

Kisah di Balik Angka

Di Rumah Sakit Anak Al-Rantisi, Kota Gaza, bayi perempuan 16 bulan bernama Sanaa Nael Abdullah baru diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan intensif tujuh hari akibat malnutrisi berat. Ibunya mengatakan Sanaa telah mengalami tiga episode malnutrisi sebelumnya sejak berusia lima bulan, ketika keluarganya menghadapi kelaparan dan pengungsian.

Keluarga itu kini tinggal di tenda dan sangat bergantung pada makanan yang dibagikan secara kolektif. Harga susu formula yang mahal memaksa sang ibu mengurangi pemberian susu kepada Sanaa dari tiga kali menjadi sekali sehari. Pada saat yang sama, tiga anak lainnya juga membutuhkan makanan dan perlengkapan dasar.

Baca Juga :  Kebakaran Gunung Lawu Hanguskan 230 Hektare, Pemadaman Berlanjut

Kondisi serupa dialami Saifullah Hijazi, remaja 14 tahun yang berat badannya hanya 22 kilogram. Setahun lalu, serpihan rudal menghantam lehernya hingga menyebabkan kelumpuhan sebagian dan kesulitan makan. Ayahnya tewas dalam serangan terpisah, dan ibunya kini kesulitan memperoleh makanan yang sesuai dengan kondisi kesehatan anaknya.

“Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia terus merasa pusing dan sakit kepala, serta terus tertidur.”

— Ibu Saifullah Hijazi, kepada Quds News Network

Beban di Ruang Perawatan

Kepala layanan nutrisi terapeutik sekaligus konsultan anak di Rumah Sakit Al-Rantisi, Dr Ahmed Basal, mengatakan unit perawatan malnutrisi menerima sekitar 25 hingga 30 pasien setiap bulan. Rumah sakit hanya merawat pasien dengan kondisi berat, sementara anak-anak dengan malnutrisi ringan dan sedang ditangani melalui layanan rawat jalan.

Menurut Basal, sekitar 70 persen pasien di unit tersebut berusia di bawah satu tahun. Ia menjelaskan kemiskinan, pengangguran, tingginya harga kebutuhan pokok, dan terbatasnya akses terhadap makanan bergizi menjadi faktor utama yang memperburuk krisis. Banyak keluarga tidak mampu membeli susu, telur, daging, dan sayuran segar.

Persoalan itu diperparah air yang tercemar dan buruknya sanitasi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko infeksi, sementara malnutrisi membuat tubuh anak semakin lemah melawan penyakit.

Rumah sakit juga menghadapi kekurangan obat-obatan, antibiotik, dan perlengkapan nutrisi terapeutik. Persediaan larutan rehidrasi yang dibutuhkan untuk menangani anak-anak dengan malnutrisi serta gangguan pencernaan turut terbatas.

Basal memperingatkan kekurangan pasokan dapat memperlambat penanganan medis. Dampak ekonomi perang dan terbatasnya akses pangan terus membuat anak-anak rentan mengalami malnutrisi berulang.

Baca Juga :  Gunung Merapi Masih Siaga, 100 Kali Guguran Lava dalam Sepekan

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Tujuh Warga Palestina

Sila Rifaat Abu Aqlein (6) menjalani pemeriksaan rutin di pusat prostetik di Kota Gaza, Senin (12/10/2026). Bocah asal Gaza itu kehilangan kaki kanannya akibat serangan di kawasan Zeitoun pada 3 Desember 2023. — (EPA/MOHAMMED SABER)

Krisis malnutrisi memperlihatkan bahwa ancaman terhadap warga Gaza tidak hanya datang dari serangan militer, tetapi juga dari memburuknya akses pangan, air bersih, dan layanan kesehatan sehari-hari.

Bagi anak-anak yang telah kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, keterbatasan makanan bergizi serta layanan kesehatan membuat pemulihan semakin sulit. Tanpa perbaikan akses pangan, air bersih, dan pasokan medis, anak-anak Gaza berisiko terus terjebak dalam siklus kelaparan, penyakit, dan malnutrisi.

Pertanyaan Umum

Berapa korban tewas dalam serangan Israel pada 20 Oktober 2026?

Sedikitnya tujuh warga Palestina tewas dalam serangan yang tersebar di Gaza utara, Kota Gaza, Gaza tengah, dan Gaza selatan. Sejumlah warga lain dilaporkan terluka akibat artileri, tembakan, dan serangan pesawat nirawak.

Berapa banyak anak Gaza yang tercatat mengalami malnutrisi?

Tim medis mencatat 158.001 kasus malnutrisi akut pada anak di bawah lima tahun selama 2024 hingga Agustus 2026, dengan 28.716 kasus di antaranya tergolong berat. Kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan sekitar 74.200 anak masih membutuhkan perawatan hingga April 2027.

Apa penyebab utama malnutrisi berulang pada anak-anak Gaza?

Menurut Dr Ahmed Basal dari Rumah Sakit Al-Rantisi, faktor utamanya adalah kemiskinan, pengangguran, tingginya harga kebutuhan pokok, dan terbatasnya akses terhadap makanan bergizi. Kondisi ini diperparah air tercemar, sanitasi buruk, serta kekurangan obat dan perlengkapan nutrisi terapeutik di rumah sakit.

Sumber: Republika

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600