Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp 17.903, Dibayangi Konflik Timur Tengah

×

Rupiah Melemah ke Rp 17.903, Dibayangi Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah ke Rp 17.903 — Ilustrasi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot dan kurs Jisdor
Rupiah melemah tipis ke Rp 17.903 per dolar AS di pasar spot, sementara kurs Jisdor menguat ke Rp 17.898.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Harianesia – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia bergerak berlawanan arah pada Rabu (14/10/2026). Di pasar spot, rupiah ditutup melemah tipis, sementara kurs acuan Jisdor justru mencatat penguatan.

Melansir data Bloomberg pada Rabu (14/10/2026), rupiah ditutup melemah tipis 0,02% secara harian ke level Rp 17.903 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.900 per dolar AS.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Kendati demikian, penguatan tercermin pada kurs Jisdor. Berdasarkan data BI, rupiah berada di level Rp 17.898 per dolar AS. Nilai ini menguat 0,18% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang sebesar Rp 17.930 per dolar AS.

InstrumenLevel
Spot (penutupan)Rp 17.903
Perubahan spotMelemah 0,02%
Jisdor BIRp 17.898
Perubahan JisdorMenguat 0,18%

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen eksternal yang perlu dicermati pelaku pasar. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas administrasi perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Baca Juga :  Skema Baru Pembayaran Pensiun Langsung dari Kas Negara Mulai 2027

Selain itu, ketegangan juga meningkat setelah Iran dilaporkan menerapkan strategi baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak global, menjaga harga energi tetap tinggi, dan turut memengaruhi pemilihan umum paruh waktu AS.

Proyeksi IMF dan Sentimen Domestik

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan Oktober 2026, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1%, dari sebelumnya 5% dalam laporan Juli 2026.

Kata Ibrahim, IMF menyoroti dua kekuatan transformative yang membentuk kembali ekonomi global, yaitu geopolitik dan teknologi. Setiap negara dinilai memiliki dampak paparan berbeda dari sisi ekonomi tergantung dari kedekatan dengan wilayah konflik maupun sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas.

“Tidak hanya itu, situasi ekonomi setiap negara berbeda tergantung kepada kemampuan mereka memanfaatkan lonjakan sektor kecerdasan buatan (AI).”

— Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas

Baca Juga :  5 Rute Energi Kritis Dunia: Iran, Suez, dan Malacca - Apa yang Terjadi Jika Ditutup?

Pernyataan tersebut disampaikan Ibrahim di Jakarta, Rabu (14/10/2026), saat memaparkan pandangannya mengenai arah pergerakan rupiah ke depan.

Data CPI AS Jadi Fokus Pasar

Untuk perdagangan Kamis (15/10/2026), pelaku pasar menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk September. Data tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memberikan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Inflasi utama AS pada September diperkirakan meningkat 0,6% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Adapun inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,7%, dari sebelumnya 3,4%.

Apabila inflasi AS melampaui ekspektasi, pasar berpotensi memperhitungkan peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat menopang dolar AS dan membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Data CPI AS menjadi salah satu penentu utama arah kebijakan suku bunga The Fed, yang berdampak langsung pada pergerakan dolar AS dan mata uang berkembang seperti rupiah.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.900–Rp 17.950 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026).

Baca Juga :  Harga Bahan Bakar Minyak di Indonesia Naik 32%, Berpotensi Tingkatkan Angka Kemiskinan: 5 Fakta Terkini

Pergerakan yang berlawanan antara kurs spot dan Jisdor menunjukkan dinamika pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian global. Pelaku pasar domestik disebut tetap mencermati setiap perkembangan geopolitik maupun data ekonomi dari Amerika Serikat sebelum mengambil posisi.

Pertanyaan Umum

Berapa level penutupan rupiah di pasar spot pada 14 Oktober 2026?

Rupiah ditutup melemah tipis 0,02% ke level Rp 17.903 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.900 per dolar AS.

Mengapa kurs Jisdor justru menguat?

Kurs Jisdor BI berada di level Rp 17.898 per dolar AS, menguat 0,18% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang sebesar Rp 17.930 per dolar AS.

Apa yang ditunggu pelaku pasar pada perdagangan 15 Oktober 2026?

Pelaku pasar menantikan rilis data CPI AS untuk September, yang diperkirakan naik 0,6% secara bulanan dan 3,7% secara tahunan, sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Sumber: Kontan

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600