Harianesia – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan dari dua arah pada perdagangan pekan depan. Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara dari luar, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi penentu sentimen terhadap dolar AS.
Melansir Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.899 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (9/10/2026), menguat 0,09% dari sehari sebelumnya di Rp 17.915 per dolar AS. Namun secara akumulatif dalam sepekan, rupiah justru tercatat melemah 0,95%.
Pergerakan serupa terlihat pada kurs JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate). Rupiah JISDOR menguat tipis 0,03% secara harian menjadi Rp 17.884 per dolar AS, dan menguat 0,78% secara mingguan.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.780–Rp 18.060 per dolar AS sepanjang pekan depan.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Rupiah spot (9/10/2026) | Rp 17.899 per dolar AS |
| Perubahan harian | Menguat 0,09% |
| Perubahan sepekan | Melemah 0,95% |
| Rupiah JISDOR | Rp 17.884 per dolar AS |
| Proyeksi pekan depan | Rp 17.780–Rp 18.060 |
Tekanan dari Sisi Fiskal
Salah satu sentimen domestik yang paling diperhatikan adalah perkembangan defisit APBN hingga September 2026. Menurut catatan Ibrahim, defisit anggaran per September 2026 mencapai Rp 319 triliun, atau setara 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka itu melebar dibandingkan posisi Agustus 2026 yang sebesar 0,9% terhadap PDB. Pelebaran tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan belanja negara yang melampaui penerimaan.
Ibrahim menyampaikan pendapatan negara naik 25,5% secara tahunan atau year on year (YoY), sedangkan belanja negara meningkat 19% YoY.
“Pendapatan negara mencatatkan kenaikan 25% dan belanja negara naik 19%, tercatat senilai Rp 2.341,5 triliun per September 2026, realisasinya 74,2% dari target pendapatan negara tahun ini senilai Rp 3.153,6 triliun.”
— Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas
Menurut Ibrahim, besarnya belanja dibandingkan pendapatan negara itulah yang membuat APBN mengalami defisit Rp 319 triliun, atau setara 1,24% terhadap PDB.
- Defisit APBN per September 2026 mencapai Rp 319 triliun atau 1,24% terhadap PDB.
- Posisi Agustus 2026 lebih rendah, yaitu 0,9% terhadap PDB.
- Pendapatan negara naik 25,5% YoY, sementara belanja negara naik 19% YoY.
Harga Minyak dan Beban APBN
Selain perkembangan fiskal, pergerakan harga minyak mentah dunia juga perlu dicermati. Ibrahim menyebut, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel dapat menambah beban APBN sekitar Rp 6 triliun.
Komponen ini menjadikan harga minyak sebagai salah satu variabel yang dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia, sekaligus pada akhirnya turut membentuk arah pergerakan rupiah.
Sinyal dari Data Ekonomi AS
Dari eksternal, pasar akan mencermati perkembangan ekonomi AS. Data yang dirilis pada Kamis menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197.000 dari 199.000 pada pekan sebelumnya. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 200.000.
Selanjutnya, perhatian pasar tertuju pada survei sentimen konsumen University of Michigan untuk Oktober. Data itu diperkirakan memberikan gambaran mengenai pandangan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi dan inflasi di AS.
Perkembangan data ekonomi AS berpotensi mempengaruhi sentimen investor terhadap dolar AS dan turut menentukan pergerakan rupiah pada pekan depan.
Pertanyaan Umum
Berapa proyeksi rupiah pekan depan?
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.780–Rp 18.060 per dolar AS pada perdagangan pekan depan.
Apa sentimen domestik yang membayangi rupiah?
Pelaku pasar mencermati perkembangan defisit APBN hingga September 2026 yang tercatat Rp 319 triliun atau setara 1,24% terhadap PDB, melebar dari 0,9% terhadap PDB pada Agustus 2026.
Data eksternal apa yang menjadi perhatian pasar?
Pasar mencermati data ekonomi AS, khususnya klaim awal tunjangan pengangguran yang turun menjadi 197.000, serta survei sentimen konsumen University of Michigan untuk Oktober.
Sumber: Kontan
