Ekonomi

Perluasan Sanksi Ekonomi AS ke Iran: Negara yang Terdampak

Bendera Amerika Serikat dan Iran di atas peta dunia dengan tanda sanksi ekonomi
Amerika Serikat mengumumkan sanksi ekonomi baru yang menargetkan negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran.

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan kampanye sanksi baru yang disebut sebagai “D-Day ekonomi” untuk mengisolasi Iran dari perekonomian global. Langkah ini menargetkan negara-negara dan pihak yang masih berbisnis dengan Teheran, serta mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap para “enabler” yang memfasilitasi perdagangan dengan Iran. Meskipun rincian penegakan masih belum jelas, kebijakan ini berpotensi memicu benturan antara Washington dengan sejumlah mitra dagang utama Iran.

Kampanye ini merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat untuk memutus jalur kehidupan perdagangan yang telah menopang ekonomi Iran selama hampir enam bulan masa perang. Sejak konflik meletus pada akhir Februari lalu, Teheran tetap bertahan berkat pendapatan dari ekspor minyak dan jalur perdagangan alternatif. Dengan sanksi yang lebih ketat, AS berharap dapat menekan Iran agar mengubah kebijakannya. Berikut adalah negara-negara yang diprediksi paling terdampak oleh kebijakan tersebut.

Negara-negara yang Terdampak

China

China merupakan pembeli terbesar minyak Iran dan berperan sebagai penghubung krusial bagi Teheran ke ekonomi global. Menurut pemerintah AS, China menyerap sekitar 90% dari ekspor minyak Iran. Sebagian besar minyak tersebut diserap oleh kilang-kilang independen China, yang sering kali melabeli ulang minyak mentah sebagai produk dari Malaysia atau Indonesia. Pembayaran pun diselesaikan melalui perantara di luar sistem dolar, sehingga sulit dilacak.

Menurut Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China, nilai perdagangan bilateral tercatat sebesar US$9,96 miliar pada tahun 2025. Angka ini belum termasuk ekspor minyak mentah Iran yang tidak dilaporkan ke China, yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar US$31,2 miliar. Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa kilang China tahun ini, namun belum menyasar lembaga keuangan negeri Tirai Bambu tersebut.

Beijing secara terbuka menentang sanksi AS terhadap Iran, dengan argumen bahwa tekanan ekonomi tidak akan menyelesaikan sengketa. Pada bulan Mei lalu, China memerintahkan perusahaan domestik untuk mengabaikan sanksi AS terhadap lima kilang yang terkait dengan perdagangan minyak Iran. Namun, menurut Dan Wang, direktur wilayah China di Eurasia Group, meskipun Beijing kemungkinan tidak akan melawan secara langsung, mereka akan “diam-diam meningkatkan kepatuhan” di kalangan bank milik negara dan perusahaan minyak agar tidak ikut terkena dampak.

“Otoritas China lebih mementingkan akses dolar dalam pembiayaan serta akses pasar ke AS.”

— Dan Wang, Eurasia Group

Uni Emirat Arab

Uni Emirat Arab (UEA), yang terletak hanya 50 mil dari Iran di seberang Teluk Persia, telah lama menjadi pusat perdagangan utama bagi Teheran. Nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar US$28 miliar pada tahun 2024. UEA menjadi sumber impor terbesar bagi Iran, dengan kontribusi lebih dari 30%, dan juga merupakan tujuan ekspor terbesar ketiga bagi Iran, mencakup 12% dari total pengiriman barangnya, atau lebih dari US$7 miliar.

Hubungan kedua negara mengalami kendala pekan lalu ketika UEA menangguhkan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran, menyusul peluncuran dua rudal balistik ke arah wilayah UEA, yang salah satunya menargetkan kapal tanker milik UEA. Iran selama ini mengandalkan bank dan sistem keuangan UEA untuk mengakses ekonomi global melalui transaksi ilegal yang sering kali tidak transparan.

Menurut Matthew Levitt, mantan pejabat Departemen Keuangan AS, sebagian besar aktivitas transshipment, penyelundupan, dan shadow banking Iran terjadi di Dubai. Ia menekankan bahwa Washington perlu bekerja sama dengan para pemimpin nasional UEA di Abu Dhabi untuk meyakinkan dan membujuk para pemimpin Dubai agar mau bekerja sama menindak aktivitas tersebut.

Turki

Turki menjalin hubungan komersial yang signifikan dengan Iran, terutama dalam sektor energi. Perdagangan bilateral antara Turki dan Iran mencapai US$5,7 miliar pada tahun 2024, menurut Kementerian Luar Negeri Turki. Ankara terutama mengekspor mesin dan suku cadang, produk kimia, serta produk pertanian, sementara mengimpor produk energi dari Teheran, terutama gas alam.

Di bawah kontrak pasokan gas berdurasi 25 tahun yang berakhir pada akhir Juli lalu, impor gas Iran oleh Turki melonjak tahun ini. Pangsa Iran dalam total impor gas alam Turki naik menjadi 18,6%. Meskipun Ankara berupaya melakukan diversifikasi ke pemasok lain—dengan meningkatkan impor dari Azerbaijan dan Rusia—sejauh ini mereka belum menunjukkan niat untuk menghentikan pasokan dari Iran. Ketergantungan ini membuat Turki rentan terhadap tekanan AS, namun juga memberi Ankara posisi tawar dalam negosiasi.

Irak

Irak yang bergantung pada listrik dan gas Iran, secara historis memiliki nilai perdagangan miliaran dolar dengan Teheran. Pada Maret 2024, Iran memperbarui kontrak lima tahun untuk memasok hingga hampir 660 miliar kaki kubik gas alam per tahun ke Irak. Impor listrik dari Iran menyumbang lebih dari 30% dari total pembangkitan listrik Irak pada tahun 2023, menurut U.S. Energy Information Administration.

Nilai perdagangan Irak-Iran mencapai lebih dari US$10 miliar pada tahun 2025, di mana Teheran mengekspor bahan pangan, barang konsumsi, dan produk lainnya ke pasar Irak. Namun, perdagangan menurun tahun ini akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan serta gangguan di perbatasan sejak perang dimulai. Irak dilaporkan membayar Iran sekitar US$4 miliar hingga US$5 miliar per tahun untuk gas alam yang digunakan dalam pembangkitan listrik, sehingga sanksi baru berpotensi memperparah krisis energi di Irak.

Pertanyaan Umum

Mengapa AS menyebut kampanye ini sebagai “D-Day ekonomi”?

Istilah “D-Day” merujuk pada operasi pendaratan Sekutu di Normandia pada Perang Dunia II yang menjadi titik balik besar. AS menggunakan analogi ini untuk menggambarkan skala dan urgensi upaya mengisolasi Iran secara ekonomi, dengan harapan dapat memutus sumber pendanaan yang digunakan Teheran dalam konflik regional.

Negara mana yang paling terpukul oleh sanksi baru ini?

China adalah yang paling terdampak karena menjadi pembeli utama minyak Iran. Namun, Uni Emirat Arab dan Turki juga menghadapi risiko besar karena menjadi pusat perdagangan dan transit barang. Irak, yang sangat bergantung pada pasokan energi Iran, kemungkinan akan mengalami krisis listrik yang lebih parah.

Apakah sanksi ini akan efektif mengubah kebijakan Iran?

Efektivitas sanksi sangat bergantung pada penegakan dan kerja sama internasional. Jika China, UEA, dan Turki tetap mempertahankan hubungan dagang dengan Iran, tekanan ekonomi mungkin tidak cukup untuk memaksa Teheran mengubah kebijakannya. Namun, jika AS berhasil menekan lembaga keuangan dan perusahaan pelayaran, isolasi Iran bisa semakin dalam.

Sumber: Katadata

Exit mobile version