Gelombang protes terhadap kenaikan biaya hidup di Prancis berujung ricuh pada Sabtu (17/10). Aksi penjarahan terjadi di sejumlah kota, mulai dari Paris hingga Marseille, dengan sasaran yang beragam: gerai merek mewah, toko telekomunikasi, supermarket, hingga toko roti.
Di Paris, kaca depan sebuah toko produk perawatan kulit pecah. Para penjarah melemparkan produk kecantikan ke arah puluhan orang yang berkumpul di luar toko. Aksi serupa terjadi di sebuah toko telekomunikasi, tempat mereka membobol dan melemparkan telepon seluler ke kerumunan.
Monumen utama di Place de la République dipenuhi coretan grafiti. Batu-batu trotoar di sekitarnya dicongkel, sementara sebuah bar bernama La Barrique dilalap api. Sejumlah pemuda juga membobol supermarket di dekat lokasi dan mengambil botol minuman beralkohol serta kaleng minuman untuk dilemparkan ke arah polisi.
- Penjarahan melanda Paris, Marseille, Lille, dan Nice pada Sabtu (17/10).
- Sasaran mencakup gerai mewah Hermès, Apple Store, toko kosmetik, hingga toko roti.
- Monumen di Place de la République dipenuhi grafiti dan sebuah bar dilalap api.
Di Marseille, kota terbesar kedua di Prancis, para pengunjuk rasa merusak puluhan toko. Selain gerai merek mewah Hermès, sasaran mencakup toko perhiasan, pakaian, kosmetik, peralatan rumah tangga, dan roti. Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api di sebuah toko sepatu.
Di Lille, Prancis utara, sejumlah toko dirusak. Wali Kota Lille Arnaud Deslandes menyatakan para penjarah secara khusus membobol Apple Store di pusat kota. Sementara itu di Nice, Prancis selatan, sejumlah toko menjadi sasaran, termasuk gerai pakaian olahraga dan dealer sepeda motor.
“Para penjarah secara khusus membobol Apple Store di pusat kota.”
— Arnaud Deslandes, Wali Kota Lille
Akar Persoalan Daya Beli
Daya beli masyarakat Prancis telah merosot sejak 2024. Tekanan ekonomi semakin meningkat setelah harga bahan bakar melonjak tajam menyusul pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran pada awal tahun ini.
Kemarahan publik menajam dalam beberapa pekan terakhir. Momentumnya menjelang pemilihan presiden tahun depan untuk menggantikan Emmanuel Macron. Gelombang protes dipicu, antara lain, oleh dugaan kebrutalan polisi terhadap aksi demonstrasi siswa sekolah menengah.
Unjuk rasa soal daya beli berubah menjadi kerusuhan properti di empat kota besar Prancis dalam satu hari, menambah tekanan politik menjelang pemilu presiden.
Rangkaian kerusakan ini menempatkan aparat keamanan pada posisi sulit. Di satu sisi mereka menghadapi massa yang marah soal ekonomi, di sisi lain harus melindungi ratusan titik usaha yang menjadi sasaran tepat di pusat kota.
Hingga laporan ini diturunkan, belum ada keterangan resmi soal jumlah kerugian material maupun korban jiwa akibat aksi penjarahan tersebut.
Pertanyaan Umum
Kapan dan di mana penjarahan terjadi?
Penjarahan terjadi pada Sabtu (17/10) di sejumlah kota Prancis, termasuk Paris, Marseille, Lille, dan Nice.
Apa saja yang menjadi sasaran penjarah?
Beragam jenis toko, mulai dari gerai merek mewah Hermès dan Apple Store, toko kosmetik, perhiasan, pakaian, peralatan rumah tangga, toko roti, gerai pakaian olahraga, hingga dealer sepeda motor.
Apa pemicu gelombang protes ini?
Protes dipicu oleh kenaikan biaya hidup dan merosotnya daya beli sejak 2024, diperparah lonjakan harga bahan bakar setelah perang antara Amerika Serikat dan Iran. Kemarahan publik juga meningkat menyusul dugaan kebrutalan polisi dalam demonstrasi siswa sekolah menengah.
Sumber: Katadata


















