Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Pengurus RW 04 Cilangkap Angkat Bicara soal Anggaran Maggot Rp159,89 Juta: Dari Sampah Jadi Manfaat

×

Pengurus RW 04 Cilangkap Angkat Bicara soal Anggaran Maggot Rp159,89 Juta: Dari Sampah Jadi Manfaat

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

DEPOK_HARIANESIA.COM, 15 Oktober 2026, Program budidaya maggot di RW 04, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Kota Depok, menjadi salah satu upaya pengolahan sampah organik berbasis masyarakat. Program yang tercatat memiliki anggaran Rp159.894.000 dari APBD Kota Depok Tahun Anggaran 2026 ini mendapat respons positif dari warga setempat.

Berdasarkan papan informasi kegiatan, program tersebut bernama Implementasi Pengolahan Sampah Berbasis Masyarakat dan Budi Daya Maggot RW 004 Kelurahan Cilangkap, dengan pelaksana Kelompok Masyarakat (Pokmas) RW 004.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Pengurus RW 04 memberikan klarifikasi mengenai proses pembangunan kandang, keterlibatan warga, serta hasil budidaya yang telah berjalan.

Menurut pengurus, lokasi yang kini digunakan sebagai kandang budidaya sebelumnya merupakan area yang dipenuhi tumpukan sampah. Kondisi tersebut mendorong pengurus RW berinisiatif membersihkan lokasi bersama warga hingga menjadi tempat budidaya maggot.

Baca Juga :  Diduga toko Jl. Gaga Rawa Kompeni no 14 Tutup Saat Dipantau, Warga Pertanyakan Aktivitas Penjualan obat keras golongan g,Tramadol dan Excimer

“Kami sebagai pengurus RW berinisiatif membersihkan lokasi bersama warga. Mulai dari proses pembangunan sampai menjadi kandang budidaya maggot, kami kerjakan bersama,” ujar pengurus RW 04.

Warga Dilibatkan, Peluang Pemberdayaan Terbuka

Keberadaan budidaya maggot dinilai membuka peluang pemberdayaan masyarakat, terutama melalui keterlibatan warga dalam pengumpulan sampah organik dan pengelolaan kegiatan budidaya.

Seorang warga RW 04 mengaku senang dengan perubahan kondisi lingkungan setelah program tersebut berjalan.

“Kami sebagai warga RW 04 sangat senang dengan adanya budidaya maggot. Dulu, sebelum ada budidaya maggot, banyak tumpukan sampah. Setelah ada program ini, warga yang lain mulai mengumpulkan sisa makanan untuk diberikan langsung ke kandang maggot,” tutur warga tersebut.

Kebiasaan mengumpulkan sisa makanan itu menjadi salah satu bentuk partisipasi warga dalam mengurangi sampah organik. Selain menjaga lingkungan, kegiatan ini juga berpotensi membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam proses pemilahan sampah, pemberian pakan, pemeliharaan maggot, hingga pengelolaan hasil panen.

Baca Juga :  Menkumham Resmikan POLTEKPIN: Langkah Strategis untuk Meningkatkan Efisiensi Tata Kelola Pendidikan Kemenkumham

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, program tersebut berpeluang dikembangkan sebagai kegiatan produktif yang memberikan manfaat lingkungan sekaligus membuka kesempatan pemberdayaan warga.

Pengurus Sampaikan Klaim Hasil Panen

Pengurus RW 04 juga menyampaikan bahwa budidaya maggot telah menghasilkan panen.

“Dari 20 gram telur bisa menjadi 70 kilogram maggot,” ujar pengurus RW 04.

Angka tersebut merupakan klaim hasil produksi yang disampaikan pengurus. Data pendukung, seperti periode pemeliharaan, catatan produksi, dan dokumentasi panen, diperlukan untuk mengonfirmasi hasil tersebut secara independen.

Informasi mengenai produktivitas menjadi penting untuk menilai perkembangan kegiatan, potensi pemanfaatan hasil panen, dan keberlanjutan budidaya di lingkungan RW 04.

Dari Pengelolaan Sampah Menuju Kegiatan Produktif

Baca Juga :  KPKB Siapkan Surat Resmi, Pertanyakan Transparansi Dugaan Komersialisasi Aset Pemkab Bogor: "Jangan Biarkan Publik Bertanya-tanya"

Anggaran kegiatan sebesar Rp159.894.000 tercantum pada papan informasi sebagai dana yang bersumber dari APBD Kota Depok Tahun Anggaran 2026. Pengurus RW 04 telah memberikan klarifikasi mengenai proses pembangunan dan pelaksanaan budidaya.

Keberadaan kandang maggot diharapkan tidak hanya membantu mengurangi tumpukan sampah organik, tetapi juga mendorong partisipasi warga dalam kegiatan yang produktif. Pelibatan masyarakat secara berkelanjutan dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan program.

Pada akhirnya, manfaat budidaya maggot tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, peluang pemberdayaan warga, serta keberlanjutan kegiatan di lingkungan setempat.

Program ini diharapkan terus berkembang sehingga upaya mengubah sampah menjadi manfaat dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat RW 04 Cilangkap.

Fakih

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600