Bogor – Ada masa dalam hidup ketika kita tidak lagi memilih untuk berjalan kita harus berjalan. Pagi datang tanpa menunggu kesiapan, tanggung jawab menuntut tanpa kompromi, dan cinta belajar menampakkan wajahnya yang paling nyata: bukan sebagai perasaan, melainkan sebagai keharusan untuk bertahan.
Rumah pernah begitu penuh. Tawa anak-anak menggema di dinding, langkah-langkah kecil berlarian tanpa arah, dan hari-hari habis oleh lelah yang terasa wajar. Di masa itu, kebahagiaan tidak selalu tampak indah, tetapi terasa benar. Kita bahagia bukan karena hidup mudah, melainkan karena hidup punya tujuan.
Lalu waktu bekerja dengan caranya yang sunyi. Anak-anak tumbuh, berani bermimpi, dan akhirnya memilih jalannya sendiri. Kita melepas mereka dengan doa yang panjang dan senyum yang berusaha tegar. Ada bangga yang tulus, ada rindu yang diam-diam, dan ada kehilangan kecil yang tak pernah kita siapkan. Kebahagiaan dan perpisahan berjalan beriringan, tanpa saling meniadakan.
Di titik inilah hidup mengajukan pertanyaan yang tak bisa dihindari:
ketika semua musim berlalu, siapa yang tetap tinggal?
Jawabannya sederhana, namun mengguncang: pasangan kita.
Rumah kembali sepi. Kursi makan berkurang. Percakapan menjadi lebih jarang, tetapi lebih jujur. Yang tersisa hanyalah dua orang yang dulu memulai segalanya—dengan tubuh yang mulai melemah, dengan wajah yang menyimpan jejak waktu, dan dengan hati yang telah melewati banyak hal bersama.
Jika sejak awal kita hanya membangun hubungan di atas peran—sebagai ayah dan ibu, pencari nafkah dan pengatur rumah—maka sepi akan terasa asing dan menakutkan. Namun jika kita merawat cinta sebagai persekutuan jiwa, sepi justru menjadi ruang untuk kembali pulang: pulang satu sama lain.
Kesunyian mengajarkan kita berbicara dengan cara yang baru. Ia menuntut kejujuran tanpa topeng. Ia mempertemukan kita kembali dengan pasangan—bukan sebagai orang tua dari anak-anak, tetapi sebagai dua insan yang pernah saling memilih dan kini memilih kembali, dengan cara yang lebih dewasa.
Tidak semua hari terasa hangat. Ada lelah yang tak terucap, ada diam yang panjang, ada doa yang hanya mampu dipanjatkan dalam hati. Namun di sanalah keteguhan menemukan maknanya. Keteguhan bukan sikap keras kepala, melainkan kesediaan untuk tetap tinggal—meski tidak selalu mudah, meski perasaan tidak selalu berpihak.
Perjalanan hidup akhirnya mengajarkan satu kebenaran yang sederhana, tetapi menuntut:
anak-anak adalah musim, tetapi pasangan adalah perjalanan.
Musim datang dan pergi, meninggalkan kenangan. Perjalanan menuntut langkah yang setia, meski kaki melambat.
Maka kebahagiaan tidak lagi diukur dari keramaian, melainkan dari kesediaan untuk duduk berdua setelah semuanya pergi—dan tetap merasa cukup. Dari genggaman tangan yang tidak lagi kuat, dari percakapan yang tidak lagi panjang, dari doa yang lebih banyak diam, tetapi penuh makna.
Dan pada akhirnya, ketika hidup telah memberi dan mengambil cukup banyak, kerinduan terdalam setiap pasangan menjadi sangat sederhana: tetap berdampingan sampai akhir. Berdampingan dalam doa. Berdampingan dalam diam. Berdampingan dalam sisa waktu yang Tuhan izinkan.
Bahkan ketika waktu benar-benar menutup kisah, harapan itu tidak berubah:
berdampingan pula dalam satu lahat—
bukan karena kematian yang mempersatukan,
melainkan karena hidup yang telah dijalani bersama dengan setia.
Firman Tuhan berbisik lembut, seolah meneguhkan perjalanan ini:
“Kasih tidak berkesudahan.”
(1 Korintus 13:8)
Karena cinta yang sejati tidak hanya ingin hidup bersama,
tetapi juga ingin pulang bersama hingga ke peristirahatan terakhir.
Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
