Investigasi

Pandeglang Banten Darurat Jalan Rusak: Janji Program Gubernur Dipertanyakan

Pandeglang — Kerusakan jalan di berbagai wilayah Kabupaten Pandeglang kian memprihatinkan dan disebut sudah memasuki tahap darurat. Hampir seluruh ruas jalan desa, kabupaten hingga provinsi di wilayah ini dilaporkan rusak parah dan tak kunjung diperbaiki secara permanen.

Di ruas Jalan Nyoreang–Cadasari, kerusakan jalan bahkan telah berlangsung bertahun-tahun. Lubang besar di badan jalan hanya ditutup tanah dan pasir seadanya, yang kemudian kembali rusak saat hujan turun. Kondisi ini terus berulang tanpa solusi nyata dari pemerintah daerah maupun provinsi.

Kritik juga diarahkan kepada Pemerintah Provinsi Banten di bawah kepemimpinan Gubernur Andra Soni dan Wakil Gubernur Achmad Dimyati Natakusumah. Program pembangunan jalan yang kerap diklaim sebagai unggulan dinilai belum memberi dampak signifikan bagi wilayah selatan Banten, khususnya Pandeglang dan Lebak.

Warga menilai perhatian pemerintah provinsi lebih banyak terserap ke wilayah perkotaan seperti Tangerang Selatan, sementara daerah asal wakil gubernur sendiri, Pandeglang, masih tertinggal dalam perbaikan infrastruktur dasar.

Korban Jiwa Akibat Jalan Rusak, Kerusakan jalan tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi warga, tetapi juga memicu kecelakaan fatal. Di Kampung Gardu Tanjak, depan Hotel Pandeglang Raya, seorang pengendara motor meninggal dunia setelah terpeleset saat menghindari lubang jalan dan terlindas ambulans desa yang melintas.

Kasus serupa terjadi di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Seorang siswi SMK tewas setelah sepeda motor yang ditumpanginya terjatuh saat menghindari jalan berlubang di ruas Jalan Cikande–Rangkasbitung, Desa Citeras (6/2/2026).

Di wilayah utara Banten, empat orang dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan di Jalan Raya Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, tepatnya di depan PT Victory Chingluh Indonesia. Warga menduga kuat kerusakan jalan menjadi faktor utama kecelakaan beruntun tersebut.

Darurat Infrastruktur Selatan Banten, Kondisi ini mempertegas ketimpangan pembangunan infrastruktur di Banten. Jalan rusak ditemukan hampir di setiap sudut Pandeglang, termasuk pusat kota, ruas Cadasari–Serang, hingga akses pedesaan di Patia dan Cimanggu.

Jika program pembangunan jalan provinsi benar-benar berjalan efektif, masyarakat menilai kondisi Pandeglang dan Lebak seharusnya tidak separah saat ini. Fakta di lapangan justru menunjukkan wilayah selatan Banten masih tertinggal jauh dibanding kawasan penyangga ibu kota.

Warga mendesak pemerintah pusat turun tangan karena pemerintah provinsi dinilai belum mampu menjadikan perbaikan jalan Pandeglang sebagai prioritas utama.

Dwi

Exit mobile version