Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Hukum

Operasi Rahasia Dan Kebijakan Luar Negeri

×

Operasi Rahasia Dan Kebijakan Luar Negeri

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Jakarta,-Kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi militer presisi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) bersama Israel pada akhir Februari lalu mengguncang politik global.

Serangan yang berlangsung cepat dan sangat terarah itu dirancang sebagai decapitation strike—serangan yang secara spesifik menargetkan pusat kepemimpinan sebuah negara.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Dalam hitungan jam pasca operasi tersebut, ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam. Iran melancarkan serangan balasan, menutup jalur strategis minyak Selat Hormuz, pasar energi global bereaksi, dan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan kembali mengemuka.

Peristiwa ini bukan sekadar episode konflik regional, tetapi memperlihatkan sebuah pola yang semakin menguat dalam geopolitik kontemporer: penggunaan operasi rahasia dan operasi militer khusus sebagai instrumen kebijakan luar negeri.

Dalam beberapa dekade terakhir, negara-negara besar semakin mengandalkan operasi presisi berbasis intelijen dan teknologi militer mutakhir untuk mencapai tujuan strategis tanpa terlibat dalam perang terbuka.

Edisi khusus Time berjudul Special Ops: The Hidden World of America’s Toughest Warriors menggambarkan bagaimana pasukan operasi khusus AS berkembang menjadi instrumen penting dalam kebijakan keamanan global Washington.

Unit seperti Navy SEALs dan Delta Force dirancang untuk menjalankan misi mulai dari operasi rahasia, pembebasan sandera, hingga eliminasi target strategis dan intervensi militer presisi tinggi.

*Warisan Operasi Rahasia*

Dalam beberapa bulan terakhir, pola penggunaan operasi khusus ini terlihat semakin jelas. Operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro menjadi preseden penting.

Tanpa perang terbuka, kepemimpinan politik sebuah negara dapat berubah melalui operasi khusus yang cepat dan terbatas.

Baca Juga :  Perjuangan Atase Hukum Malaysia Tangani 150 WNI Terancam Hukuman Mati

Jika operasi di Venezuela menunjukkan kemampuan menangkap pemimpin negara melalui intervensi presisi, maka operasi terhadap Iran memperlihatkan bentuk yang lebih ekstrem: eliminasi langsung terhadap pemimpin tertinggi negara.

Fenomena ini menandai transformasi dalam cara great power politics dijalankan dalam hubungan internasional.

Dalam perspektif realisme Hans Morgenthau, dan yang diperdalam oleh John Mearsheimer dalam The Tragedy of Great Power Politics, persaingan kekuatan besar tidak lagi selalu diwujudkan melalui perang terbuka, melainkan semakin sering melalui operasi rahasia dan intervensi militer presisi.

Praktik semacam ini sesungguhnya memiliki akar sejarah panjang dalam kebijakan luar negeri AS. Sejak masa Perang Dingin, operasi rahasia telah menjadi bagian penting dari strategi geopolitik Washington.

Dalam banyak kasus, AS tidak selalu menggunakan kekuatan militer secara terbuka. Sebaliknya, pemerintah AS memanfaatkan jaringan intelijen, covert operations, serta dukungan terhadap aktor lokal untuk memengaruhi arah politik suatu negara.

Sejarah mencatat pada 1953, operasi intelijen AS bersama Inggris berperan dalam menggulingkan pemerintahan Mohammad Mossadegh di Iran. Setahun kemudian di Guatemala, pemerintahan Jacobo Árbenz dijatuhkan melalui operasi yang didukung CIA.

Pada 1973, kudeta militer di Chile berhasil menggulingkan Presiden Salvador Allende, atas dukungan politik Washinton.

Sejumlah kajian kritis melihat peristiwa tersebut sebagai bagian dari pola intervensi geopolitik yang lebih luas dalam kebijakan luar negeri AS.

Dalam The Jakarta Method, Vincent Bevins menjelaskan bahwa operasi politik dan militer di Indonesia pasca-1965 merupakan bagian dari strategi global menahan pengaruh komunisme pada era Perang Dingin, melalui dukungan intelijen, koordinasi dengan aktor lokal, dan jaringan diplomatik internasional.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi APH, Lapas Purwodadi Gelar Forum Komunikasi Publik Dukung Layanan Kunjungan Tahanan Online

Sementara itu, Vijay Prashad dalam Washington Bullets, menunjukkan bahwa intervensi politik melalui operasi rahasia merupakan praktik yang berulang dalam kebijakan luar negeri Washinton sepanjang abad ke-20.

Dari Timur Tengah hingga Amerika Latin, dari Asia Tenggara hingga Afrika, operasi intelijen sering digunakan untuk memengaruhi konfigurasi kekuasaan domestik negara lain.

*Fase Baru Hubungan Internasional*

Pendekatan kritis dalam studi hubungan internasional menawarkan cara lain untuk membaca fenomena ini.

Dalam International Relations in the New Critical Perspective yang diedit oleh Nicholas J. Kiersey dan Doug Stokes, sejumlah penulis menggunakan pemikiran Michel Foucault untuk memahami politik global sebagai jaringan relasi kekuasaan.

Dalam perspektif ini, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui dominasi militer terbuka, tetapi juga pengawasan, kontrol keamanan, dan praktik institusional yang membentuk perilaku politik.

Dalam konteks tersebut, operasi terhadap Iran mencerminkan evolusi dari praktik lama tersebut. Jika pada masa Perang Dingin operasi rahasia sering bergantung pada dukungan kudeta atau perubahan rezim melalui aktor lokal, maka pada abad ke-21 kemajuan teknologi memungkinkan tindakan yang jauh lebih presisi.

Meski demikian, logika strategisnya tetap sama: operasi rahasia digunakan untuk mencapai tujuan geopolitik tanpa menanggung biaya perang besar.

Dalam perspektif ekonomi politik global, pendekatan ini memberi fleksibilitas strategis bagi negara besar untuk menekan lawan melalui operasi militer terbatas dengan risiko korban dan dampak politik domestik yang lebih terkendali.

Baca Juga :  Anang Iskandar Pakar Hukum Narkotika, Mantan Kepala BNN Usul Penyalahguna Narkotika Ditangani Layaknya Pelanggar Lalu Lintas

Namun praktik ini juga membawa konsekuensi serius bagi stabilitas internasional. Operasi rahasia sering berlangsung di wilayah abu-abu hukum internasional.

Mereka tidak selalu disertai deklarasi perang resmi dan kerap dilakukan tanpa mandat lembaga internasional. Akibatnya, batas antara diplomasi, intelijen, dan perang menjadi semakin kabur.

Peristiwa di Iran menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase baru dalam hubungan internasional—fase di mana operasi rahasia dan operasi militer presisi menjadi instrumen utama dalam perebutan pengaruh geopolitik.

Perubahan kepemimpinan politik suatu negara dapat terjadi melalui operasi presisi yang berlangsung dalam hitungan jam.

Pertanyaannya adalah apakah praktik tersebut akan membuat dunia lebih stabil atau justru lebih rapuh.

Sejarah menunjukkan bahwa intervensi rahasia sering menghasilkan konsekuensi jangka panjang yang sulit diprediksi. Konflik domestik, ketidakstabilan politik, bahkan perang saudara sering menjadi dampak lanjutan dari intervensi semacam itu.

Karena itu, meskipun operasi presisi tampak efisien dalam jangka pendek, dampak strategisnya bagi tatanan internasional tetap menjadi pertanyaan besar.

Jika semakin banyak negara menjadikan operasi rahasia sebagai instrumen kebijakan luar negeri, dunia berpotensi memasuki era geopolitik baru—konflik tidak selalu diumumkan secara resmi, melainkan berlangsung dalam bayang-bayang operasi militer dan intelijen yang semakin canggih.

Penulis adalah Direktur Institute for Climate Policy and Global Politics.

Oleh : Eko Sulistyo/Dwi

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600