Ekonomi

MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI, Celios Sebut 2 Penyebabnya

MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI — Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menjelaskan dua faktor penyebab MSCI berencana menurunkan status pasar saham Indonesia.
Celios menilai akuisisi saham Bayan dan afiliasi antar pemain bursa menjadi penyebab MSCI berencana menurunkan status pasar saham Indonesia.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai ada dua faktor utama yang mendorong Morgan Stanley Capital International (MSCI) berniat menurunkan status pasar saham Indonesia. Penurunan status itu berpotensi memindahkan Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market atau pasar mandiri.

Faktor pertama, kata Bhima, menyangkut akuisisi saham Bayan yang dianggap tidak transparan dan terindikasi melibatkan kredit agunan saham ke Bank Mandiri. Menurutnya, transaksi itu memperlihatkan adanya afiliasi antar pemain di bursa saham, sementara proses transaksinya tidak terang.

Faktor kedua adalah rencana Danantara membeli saham Bursa Efek Indonesia (BEI) pasca-demutualisasi bursa. Rencana itu, menurut Bhima, menimbulkan kekhawatiran soal independensi pengawasan bursa.

“Pasti ada konflik kepentingan disitu. Pemain dan wasit jadi tercampur. Padahal harusnya kan terpisah.”

— Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios

Dua Pemicu di Balik Wacana Penurunan Status

Laporan terbaru MSCI yang ramai dibicarakan pada Jumat (16/10) membuka peluang Indonesia turun status dari emerging market menjadi standalone market. Bhima menyampaikan penilaiannya kepada JawaPos.com pada Minggu (18/10).

Ia menilai rencana Danantara menjadi penstabil pasar (market stabilizer) juga berisiko mengurangi kapasitas investasi langsung yang mampu menyerap tenaga kerja. Investasi di pasar saham, katanya, berbeda dengan investasi langsung yang dapat mendorong pembangunan pabrik dan menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Menurut Bhima, langkah Danantara masuk ke pasar saham berpotensi tidak menyelesaikan persoalan mendasar yang membuat investor asing menarik dananya dari Indonesia. Persoalan kepercayaan investor, katanya, perlu ditangani lebih dulu agar arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.

  • Akuisisi saham Bayan dinilai tidak transparan dan terindikasi melibatkan kredit agunan saham ke Bank Mandiri.
  • Rencana Danantara membeli saham BEI pasca-demutualisasi memunculkan kekhawatiran soal independensi pengawasan bursa.
  • Bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets Index turun dari 1,16 persen menjadi 0,43 persen.

Ia menyebut risiko lain dari langkah tersebut adalah upaya yang sia-sia. Menurut Bhima, keluarnya dana asing dari saham terjadi karena isu kepercayaan, sehingga aksi Danantara dinilai tidak memperbaiki ekspektasi apa pun.

Bobot Indonesia Menyusut Tajam

Bhima menilai persoalan ini perlu perhatian serius karena bobot Indonesia dalam indeks saham global turun tajam. Bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index turun dari 1,16 persen menjadi 0,43 persen.

Artinya, porsi relatif Indonesia dalam indeks tersebut menyusut sekitar 63 persen. Kondisi itu berpotensi mengurangi alokasi dana investor global ke pasar saham Indonesia, terutama investor yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi.

Indikator Nilai
Posisi saat ini Pasar negara berkembang (emerging market)
Status yang berpotensi dituju Pasar mandiri (standalone market)
Bobot di MSCI Emerging Markets Index Turun dari 1,16 persen menjadi 0,43 persen
Penyusutan porsi relatif Sekitar 63 persen

Bhima menegaskan masalahnya cukup gawat. Sejak freezing indeks Indonesia, terjadi penyusutan tajam nilai pasar saham Indonesia yang diperhitungkan dalam indeks investasi global. Pemerintah, katanya, menyatakan MSCI bukan satu-satunya indeks, tetapi persoalannya MSCI merupakan rujukan pembobotan dari indeks global lainnya.

Mengapa MSCI Tetap Jadi Rujukan

Menurut Bhima, MSCI menjadi salah satu acuan bagi investor institusi global, termasuk pengelola dana pasif, dalam menentukan alokasi investasi. Ketika bobot Indonesia dalam indeks menyusut, peluang pasar saham domestik menarik dana dari investor yang mengikuti indeks ikut berkurang.

Ia menambahkan arus dana asing turut memengaruhi sentimen investor domestik, baik institusi maupun ritel. Karena itu, penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI berpotensi menambah tekanan terhadap pasar saham nasional setelah pengumuman tersebut.

Untuk mengatasi persoalan itu, Bhima mendorong pemerintah dan otoritas pasar modal segera menuntaskan persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta kecukupan bukti penegakan aturan.

“Segera selesaikan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum memadainya bukti penegakan aturan. Masalah kredibilitas harus segera dituntaskan.”

— Bhima Yudhistira

Pertanyaan Umum

Apa yang dimaksud status standalone market bagi Indonesia?

Itu adalah status pasar mandiri, yaitu posisi ketika Indonesia tidak lagi dimasukkan sebagai pasar negara berkembang dalam klasifikasi MSCI. Laporan terbaru MSCI pada Jumat (16/10) membuka peluang perubahan status tersebut.

Mengapa bobot Indonesia di indeks MSCI penting?

MSCI menjadi acuan bagi investor institusi global, termasuk pengelola dana pasif, dalam menentukan alokasi investasi. Bobot Indonesia turun dari 1,16 persen menjadi 0,43 persen, sehingga peluang menarik dana dari investor yang mengikuti indeks ikut berkurang.

Apa yang dinilai perlu segera diselesaikan?

Bhima mendorong pemerintah dan otoritas pasar modal menuntaskan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta kecukupan bukti penegakan aturan demi memulihkan kredibilitas pasar.

Sumber: JawaPos

Exit mobile version