Kebumen- Bendahara DPC PDI Perjuangan Kebumen Toyib Khaerudin mengatakan peringatan Hari Pahlawan 10 November tidak boleh berhenti pada upacara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan. Menurut dia, semangat pertempuran Surabaya 1945 masih menyala dan relevan dengan persoalan hari ini di Kebumen: kemiskinan pesisir selatan, putus sekolah anak petani, dan keadilan bagi wong cilik.
“Setiap 10 November kita mengheningkan cipta di TMP. Tapi sebagai kader banteng Kebumen, kita tidak cukup hanya mengenang. Kita harus melanjutkan perjuangan itu di sawah, di tambak, di pesisir Ayah sampai Buluspesantren,” kata Toyib saat ditemui di Kantor DPC PDI Perjuangan Kebumen, Minggu, 2 November 2026.
Toyib mengaitkan pidato legendaris Bung Tomo menjelang pertempuran Surabaya dengan identitas kader PDI Perjuangan di Kebumen. Ia mengutip potongan pidato 9 November 1945 yang terekam dalam arsip:
_”Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.”_
Menurut dia, frasa “banteng-banteng Indonesia” yang dipakai Bung Tomo paralel dengan simbol partainya saat ini.
“Banteng-banteng itu adalah kita hari ini di Kebumen. Darah merah adalah ideologi keberpihakan pada wong cilik. Kain putih itu adalah kesucian cita-cita Bung Karno tentang Berdikari,” ujarnya.
Toyib kemudian menarik garis antara pertempuran Surabaya dengan sejarah perjuangan di Kebumen. Ia menyebut perlawanan Pangeran Diponegoro di benteng-benteng wilayah Bagelen, perlawanan rakyat Kebumen di era Benteng Van der Wijck Gombong, hingga semangat gotong royong petani Kebumen yang menolak tunduk pada penindasan.
“Semuanya berakar pada semangat yang sama: lebih baik mati bermartabat daripada hidup dijajah. Itu jiwa Satyam Eva Jayate,” kata Toyib.
Ia mengatakan medan juang di Kebumen telah bergeser. Kalau dulu mengangkat bambu runcing di medan perang, hari ini bambu runcing kader PDI Perjuangan Kebumen adalah kerja nyata.
“Kalau dulu bambu runcing, hari ini bambu runcing kita adalah kebijakan yang berpihak. Memastikan PKH dan BPNT tepat sasaran di Desa Argopeni sampai Surorejan, memastikan anak petani di Sempor tidak putus sekolah, memastikan program bedah rumah tidak salah alamat,” tegasnya.
Ia merumuskan apa yang disebutnya ” Tiga Perintah Juang Kader Banteng Kebumen” dalam kerangka Trisakti Bung Karno:
“Pertama, Berdaulat di bidang Politik” dengan memperkuat toleransi antar umat di Kebumen yang majemuk, dari Petanahan hingga Alian.
“Kedua, Berdikari di bidang Ekonomi” dengan membela petani padi, petani garam pesisir selatan, dan UMKM Kebumen agar tidak tergantung impor.
“Ketiga, Berkepribadian dalam Kebudayaan” dengan menanamkan ingatan sejarah perjuangan lokal Kebumen di ranting, PAC, dan di sekolah-sekolah.
Ia juga menyinggung semangat Barisan Laskar Rakyat dalam pertempuran Surabaya yang melibatkan Laskar Putri dan Ibu-Ibu Dapur Umum.
“Kemerdekaan ditopang semua elemen, bukan hanya yang angkat senjata. Sama seperti di Kebumen, kekuatan kita adalah ibu-ibu, petani, nelayan, guru ngaji, yang setiap hari menjaga lumbung pangan,” ujarnya.
Menjelang 10 November 2026, DPC PDI Perjuangan Kebumen Toyib Khaerudin mengatakan akan mengisi Hari Pahlawan dengan bakti sosial di panti asuhan, bersih-bersih tempat ibadah di wilayah pesisir dan perbukitan, serta pengajaran sejarah perjuangan bangsa di ranting-ranting.
“Api Surabaya belum padam. Api itu sekarang menyala di dapur rakyat Kebumen, di obor kader-kader banteng yang terus bergerak,” tutupnya.(DW)




















