Oleh: Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman
Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua | Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC), Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC), Baptist World Alliance (BWA)
JAYAPURA, Sebagai pendahuluan dari artikel ini, saya mengutip perkataan TUHAN Allah kepada bangsa Israel yang terdapat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama:
“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3).
“Diberkatilah orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau” (Bilangan 24:9).
Para pembaca yang mulia, waktu delegasi Indonesia dan beberapa negara sekitar 70 Negara walkout sebagai sikap protes terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Sidang Umum PBB ke-81 di New York pada 24 September 2026, saya teringat pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump:
“We are unshakeable and unbreakable relationship between America and Israel.”
Donald Trump telah berulang kali menegaskan komitmennya terhadap “ikatan yang tak tergoyahkan” (unbreakable bond) antara Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa kesempatan penting sepanjang masa kepresidenannya, di antaranya:
1. Pada 15 Februari 2017: Saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di White House, Washington. Trump secara eksplisit menyatakan, “Dengan kunjungan ini, Amerika Serikat kembali menegaskan ikatan tak tergoyahkan kami dengan sekutu tercinta kami, Israel.”
2. Pada 22 Mei 2017: Ketika ia mendarat di Tel Aviv dalam kunjungan resmi pertamanya ke Israel. Donald Trump berpidato dan menyatakan, “Saya datang ke tanah kuno yang sakral ini untuk menegaskan kembali hubungan tak tergoyahkan (unbreakable bond) antara Amerika Serikat dan negara Israel.”
3. Pada 23 Mei 2017: Keesokan harinya, Trump kembali menegaskan pesan tersebut dalam pidato bersejarahnya di Museum Israel di Yerusalem, berjanji bahwa pemerintahannya akan selalu berdiri bersama Israel.
Sikap walkout Indonesia atas nama kemanusiaan, keadilan, kesamaan hak dan kedamaian adalah sikap yang patut dihargai. Karena nilai kemanusiaan, keadilan, kesamaan derajat dan perdamaian adalah nilai-nilai universal.
Sikap Indonesia sudah jelas menjadi pendukung kemerdekaan Palestina sebagai sebuah negara berdaulat. Terbukti dengan Presiden Prabowo Subianto menyerukan “Free Palestine” pada Sabtu, 19 September 2026 pada peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Seruan tersebut diteriakkan sebanyak tiga kali oleh Presiden Prabowo saat menyapa Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun.
Presiden Prabowo Subianto lupa bahwa di halaman rumahnya ada Free West Papua yang adalah sebuah negara atau pemerintahan yang pernah dianeksasi oleh Ir. Sukarno dengan maklumat Trikora pada 19 Desember 1961.
Indonesia dan sekitar 70 negara walkout itu sikap sangat terpuji kalau ada suara juga menentang kekejaman dan kejahatan organisasi teroris Hamas (Harakat al-Muqawwamah al-Islamiyyah adalah Gerakan Perlawanan Islam) terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang, melukai 5.400 orang dan 240 orang yang disandera.
Kalau walkout itu atas nama kemanusiaan, keadilan, kesamaan derajat dan perdamaian, maka Indonesia dan 70 negara yang walkout seharusnya juga berdiri bersama Benjamin Netanyahu untuk mengutuk organisasi teroris HAMAS yang menewaskan rakyat Israel pada 7 Oktober 2023. Memang, kita sadar, faktanya, bangsa Israel tidak membutuhkan dukungan dan pengakuan Indonesia, karena Israel sudah ada sejak dulu sebagai bangsa pilihan Allah dan biji mata Allah. “—sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya” (Zakharia 2:8).
Walaupun Indonesia dan 70an negara walkout, tetapi kita pelajari pengalaman selama ini bangsa Israel tetap berdiri kokoh, kuat dan teguh dari ancaman-ancaman negara-negara Muslim yang mengelilinginya. Faktanya, belum satu negara Muslim pun menang melawan bangsa Israel sejak bangsa Israel merdeka pada 14 Mei 1948 yang dideklarasikan oleh David Ben Gurion di Tel Aviv.
Memang pilihan sikap seperti ini adalah berat, karena dua pihak rakyat sipil menjadi korban, yaitu rakyat Israel maupun rakyat Palestina karena berada di wilayah konflik perpanjangan antara pasukan Israel dengan organisasi teroris HAMAS. Kedua-duanya menjadi korban dan perlu ada solusi yang jujur untuk perdamaian antara Israel dan Palestina.
Akhir dari artikel ini, saya mengutip Firman TUHAN pengalaman raja Filistin Goliat dengan Daud. Daud berkata kepada raja Filistin Goliat:
“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan nyawamu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami” (1 Samuel 17:45-47).
Jadi, melawan Israel berarti melawan Amerika, menghina Israel berarti menghina Amerika. Di sinilah dilema bagi Indonesia seperti memakan buah simalakama buah dimakan ayah mati dan buah tidak dimakan ibunya mati
Kita berdiri bersama-sama untuk kemanusiaan, keadilan, kesamaan derajat, hak asasi manusia untuk perdamaian abadi untuk semua umat manusia. Dan penting kita perlu tahu bahwa konflik antara Israel dan Palestina adalah konflik kepentingan politik, bukan konflik agama.
Selamat membaca. Tuhan memberkati. (DW)
Penulis:
Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman
Kontak: 08124888458




















