Berita

Krisis air warga Batam di tengah proyek pusat data

Krisis air warga Batam di tengah proyek pusat data — Ibu rumah tangga berunjuk rasa di depan KEK Nongsa, Batam, menuntut aliran air ke permukiman dipulihkan
Warga Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Batam, menggelar demonstrasi menuntut aliran air ke permukiman mereka dipulihkan setelah terhenti sekitar tiga bulan.

Ratusan warga Bakau Serip, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, yang mayoritas ibu rumah tangga, menggelar demonstrasi di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa pada Senin, 5 Oktober 2026. Mereka menuntut aliran air ke permukiman mereka dipulihkan setelah terhenti sekitar tiga bulan. Aksi berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 13.00 WIB.

Warga menolak ketergantungan pada distribusi air menggunakan mobil tangki. Salah seorang peserta demo, Dewi Susanti, menyatakan warga tetap membayar tagihan meski layanan air tidak berjalan.

“Kami melakukan demo supaya air mengalir ke rumah kami. Kami tidak mau air tangki. Airnya kotor, keruh, [dan] bau. Kami hanya mau air mengalir.”

— Dewi Susanti, warga Bakau Serip

Dewi menambahkan gangguan air mulai terjadi setelah pembangunan pusat data di kawasan tersebut. Sebelumnya, menurut dia, pasokan air ke permukiman berjalan lancar. Di KEK Nongsa terdapat beberapa pusat data yang sedang dibangun.

Warga mengaku sudah melaporkan keluhan ke otoritas terkait, termasuk pengelola data center, namun belum membuahkan hasil.

Deputi Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Denny Tondano, menampik anggapan pusat data mengganggu pasokan air. Ia menyatakan penurunan pasokan di kawasan Nongsa dipengaruhi kemarau berkepanjangan yang membuat waduk-waduk utama Batam terdampak.

“Kondisi kemarau dan ditunjang dengan el nino ini bukan hanya di Batam yang kesulitan air,” tandasnya.

Bulan-bulan tanpa air mengalir

Keluhan serupa datang dari Palem Raya, Batuampar. Dede, 32 tahun, sudah hampir setahun menjalani rutinitas menunggu pasokan air dari mobil tangki setiap dua hari sekali. Air ledeng yang disalurkan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) BP Batam nyaris tak pernah mencapai kediamannya.

Meski tak menerima air, Dede tetap membayar tagihan Rp30.000 per bulan, belum termasuk ongkos listrik untuk menyedot air dari penampungan. Jika hujan turun, ia bisa sedikit bernapas lega. Namun saat kemarau tiba, semua penampungan cepat mengering.

“Sudah berapa hari enggak ada hujan. Keringlah air yang kami tampung,” kata Dede saat ditemui BBC News Indonesia pada awal Agustus 2026.

Dede khawatir kondisi ini merembet ke penghuni kamar kosnya. Ketika air habis, mereka terpaksa membeli galon atau menunggu mobil tangki yang kadang baru datang pukul 2 dini hari. Dede juga tak pernah benar-benar tahu dari mana sumber air tangki berasal.

“Yang penting ada air dulu,” tegasnya.

Waduk menyusut, defisit air membesar

Batam tidak memiliki sumber air alami seperti sungai atau mata air. Kota ini bergantung pada air hujan yang ditampung di sejumlah waduk. Pasokan air baku berasal dari setidaknya enam waduk: Sei Harapan, Nongsa, Sei Ladi, Duriangkang, Tembesi, dan Muka Kuning.

Laporan organisasi lingkungan Akar Bhumi Indonesia (ABI) menyoroti penurunan tinggi muka air (TMA) di waduk-waduk tersebut. Di Waduk Nongsa, TMA menyusut sekitar empat sentimeter per hari, terakumulasi mencapai 4,5 meter hingga awal Oktober 2026.

Simulasi ABI memperkirakan Waduk Nongsa hanya mampu bertahan sekitar 34 hari tanpa hujan. Waduk ini menyumbang hampir 2 juta meter kubik kebutuhan air masyarakat, terutama di Batam bagian timur.

Posisi Waduk Nongsa kian krusial karena memasok kawasan Batam timur, wilayah yang kini menjadi pusat pembangunan industri digital.

“Penyusutan dipicu menurunnya fungsi daerah tangkapan air [DTA], minimnya curah hujan, serta peningkatan kebutuhan yang telah melampaui kapasitas produksi,” terang pegiat ABI, Hendrik Hermawan.

Catatan pemerintah menyebut curah hujan di kawasan Nongsa sepanjang Januari hingga Juli 2026 hanya 925,50 milimeter, jauh di bawah kondisi normal 1.800 sampai 2.500 milimeter per tahun. Elevasi waduk menurun sekitar 7 meter.

Pemandangan serupa ditemukan di Sei Harapan, Sei Ladi, dan Muka Kuning yang turut mengalami penurunan TMA 3 sentimeter per hari. Waduk Muka Kuning bahkan masuk kategori kritis karena mendekati batas cadangan minimum atau dead storage. Sementara Waduk Tembesi turun 2 sentimeter per hari dan Duriangkang 1 sentimeter per hari.

Data pemerintah Batam menunjukkan kebutuhan air bagi 1,39 juta penduduk pada 2026 mencapai 280 juta meter kubik, sedangkan ketersediaan tahunan hanya 139 juta meter kubik. ABI menegaskan terjadi defisit air baku 141 juta meter kubik, setara setengah dari total kebutuhan.

“Krisis air itu sudah terjadi,” tukas Hendrik.

Hendrik mencontohkan kebijakan penjatahan air (water rationing) dan pendistribusian tangki ke permukiman sebagai indikator krisis. Ia juga menyoroti beban tambahan yang kini dipikul waduk untuk melayani pusat data.

Pusat data dan konsumsi air yang besar

Pusat data menjadi tulang punggung aktivitas digital. Fasilitas ini menampung infrastruktur teknologi informasi untuk menjalankan aplikasi dan layanan, sekaligus menyimpan dan mengelola data terkait.

Deretan server di dalamnya menghasilkan panas dalam jumlah besar, dan proses pendinginan membutuhkan air dengan kuantitas amat besar. Studi International Energy Agency (IEA) menyatakan pusat data berkapasitas 100 megawatt di Amerika Serikat dapat mengonsumsi sekitar 2 juta liter air per hari.

Di tingkat global, kebutuhan air untuk pusat data diprediksi menyentuh 9,3 triliun liter pada 2030. Kalkulasi itu setara kebutuhan air tahunan bagi 1,3 miliar penduduk di kawasan sub-Sahara Afrika.

Di Batam, sedikitnya 16 pusat data telah mengantongi izin dari BP Batam, dengan sekitar 20 pengajuan lain masih diproses. Dari 16 proyek itu, dua sudah beroperasi, lima dalam konstruksi, tiga memasuki persiapan konstruksi, dan enam di fase negosiasi.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyebut mayoritas proyek berada di kawasan Nongsa Digital Park (NDP) dan sebagian di Kabil.

BP Batam mengklaim nilai investasi pusat data melampaui US$20 miliar atau Rp320 triliun. Sejumlah pemain besar terlibat, mulai dari GDS Holding asal Shanghai, DayOne bersama Indonesia Investment Authority (INA), Princeton Digital Group (PDG), BW Digital, Golden Digital Gateway, hingga PT Equator Gate System Batam (EGSB).

Telkom Indonesia melalui NeutraDC Nxera Batam juga mengembangkan pusat data hyperscale berkapasitas 54 megawatt di Kabil Integrated Industrial Estate, bermitra dengan Singtel lewat Nxera dan Medco Power.

Wilayah berisiko dan pelajaran dari negara lain

Pertumbuhan pusat data di Indonesia berlangsung di tengah persoalan ketersediaan air. Manajer Riset Trend Asia, Zakki Amali, menyebut sejumlah pusat data berada di wilayah yang mengalami water stress, yakni di Pulau Jawa dan Kepulauan Riau.

Water stress — kondisi ketika permintaan air lebih besar dibanding ketersediaannya.

Pemetaan BP Batam hingga September 2026 mengidentifikasi 18 lokasi di Batam yang masuk klasifikasi water stress, mencakup Bengkong, Batuampar, Nongsa, Sekupang, Sagulung, hingga Batuaji.

Observasi Trend Asia menunjukkan jarak antara pusat data Neuviz Batam Data Center dengan daerah water stress di Tanjung Buntung hanya 1,35 kilometer.

“Kalau ke depan tidak mempertimbangkan lingkungan seperti ketersediaan air, akan muncul konflik antara masyarakat dengan data center,” ujar Zakki.

Di Amerika Serikat, jajak pendapat Gallup menunjukkan 7 dari 10 warga menolak pembangunan data center untuk mendukung pengembangan akal imitasi. Belanda menghentikan sementara pembangunan pusat data skala besar sejak 2022. Irlandia membatasi koneksi listrik untuk pusat data, memaksa Amazon dan Microsoft mengalihkan proyek ke London, Madrid, atau Frankfurt.

Singapura, yang berjarak hanya 20 kilometer dari Batam, sempat menghentikan pembangunan pusat data pada 2019 hingga 2022 karena keterbatasan lahan, tingginya kebutuhan listrik, dan tantangan iklim. Setelah moratorium dibuka, Singapura menerima proyek secara selektif.

Dampaknya, Johor di Malaysia menjadi penerima manfaat terbesar dengan investasi pusat data US$35 miliar pada periode yang sama. Namun pertumbuhan itu menimbulkan tekanan terhadap tata ruang, kelistrikan, dan jaringan air. Pada 2024, otoritas Johor dilaporkan menolak sekitar 30% proposal pusat data yang dinilai tidak memenuhi standar keberlanjutan. Setahun berselang, Johor menyetop izin baru untuk fasilitas pusat data yang membutuhkan banyak air.

Di tengah penolakan global, Batam justru membuka pintu investasi. Daya tariknya adalah kedekatan dengan Singapura, salah satu pusat ekonomi digital Asia. Realita ini sejalan dengan ambisi pemerintah Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat sudah ada 182 pusat data terbangun di seluruh Indonesia dengan kapasitas 580 megawatt, dan target 1,3 gigawatt.

Beban air yang diproyeksikan

Kebutuhan air untuk pusat data di Batam diproyeksikan menyentuh 20 sampai 50 juta liter per hari bila semuanya beroperasi. Angka itu setara 6-16% dari kapasitas produksi air Batam.

Profesor sumber daya air dan lingkungan Universitas Gadjah Mada, Agus Maryono, menilai pemerintah harus menetapkan batasan jelas penggunaan air untuk industri berdasarkan kemampuan riil Pulau Batam. Pemerintah perlu lebih dahulu menghitung proyeksi kebutuhan air masyarakat jangka panjang, setidaknya sepuluh tahun ke depan, sebelum memberi izin pemanfaatan air berskala besar.

Agus juga mengusulkan agar pengembang pusat data tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur air yang telah dimanfaatkan masyarakat. “Perusahaan data center diminta untuk membuat kolam sendiri. Patungan [dengan yang lain],” ujarnya.

Ia menegaskan pembangunan tidak boleh melangkahi kepentingan umum dan harus memperhatikan daya dukung lingkungan, khususnya ketersediaan air.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyatakan pada prinsipnya alokasi air bagi investasi “tidak boleh mengurangi hak masyarakat atas air bersih.” Ia meminta masyarakat tidak khawatir karena BP Batam tengah mengoptimalkan pasokan melalui interkoneksi jaringan pipa antarwaduk sehingga kebutuhan rumah tangga tetap menjadi prioritas utama.

Ariastuty menyebut pembangunan pusat data bertolak dalam kerangka keberlanjutan dan mengikuti tata ruang, ketentuan lingkungan, serta daya dukung kawasan. “Pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan harus berjalan bersama,” katanya.

Untuk mengantisipasi musim kemarau panjang dan seluruh pusat data beroperasi, ia menyatakan pemangku kewenangan menyiapkan langkah strategis, salah satunya pengembangan sumber air baru di luar waduk yang ada saat ini.

Warga tak tahu, beban bertambah

Sejumlah warga Batam mengaku belum pernah mendengar proyek pembangunan pusat data senilai triliunan rupiah maupun dampaknya terhadap sumber daya air. Ega, 45 tahun, warga Kampung Bagan, Sungai Beduk, menyatakan tidak pernah menerima informasi atau sosialisasi dari pemerintah.

“Soalnya ini kebutuhan kami. Kayak kemarin mati air sudah sibuk. Katanya pipa bocor, jam satu [malam] baru hidup,” ujarnya.

Marlinda, 48 tahun, mengaku baru mengetahui soal investasi pusat data saat diwawancarai. Ia berpendapat pemerintah tidak boleh hanya berfokus pada nilai ekonomi proyek, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dasar masyarakat.

“Jangan dia [pemerintah] duduk di atas [dan] mengiyakan saja. Turun ke bawah,” tutupnya.

Dewi Susanti menuturkan krisis air berimbas pada pengeluaran keluarga. Ongkos membeli air, menyediakan drum penampungan, hingga mencuci pakaian di tempat laundry membengkak.

“Uang yang seharusnya untuk beli beras digunakan beli drum. Pakaian kami laundry yang seharusnya bisa kami cuci sendiri,” ujarnya.

Penyediaan air menggunakan mobil tangki juga memicu ketegangan antarwarga yang harus berebut. “Semenjak tidak ada air, kami sering ribut, karena rebutan air. Gara-gara air jangan sampai kami terpecah belah,” imbuh Dewi.

Warga berharap pembangunan yang dilangsungkan pemerintah tidak memutus akses atas kebutuhan mendasar. “Jangan investasi yang nilainya miliaran [rupiah], kami masyarakat dijadikan korban. Kami bayar, kami tidak gratis,” pungkasnya.

Pertanyaan Umum

Mengapa warga Nongsa berdemonstrasi di depan KEK Nongsa?

Warga Bakau Serip memprotes terhentinya aliran air ke permukiman mereka selama sekitar tiga bulan. Mereka meminta layanan dipulihkan dan menolak distribusi air menggunakan mobil tangki karena kualitasnya dinilai kotor, keruh, dan berbau.

Apa penyebab penurunan pasokan air di Batam menurut BP Batam?

Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menyatakan penurunan pasokan di kawasan Nongsa dipengaruhi kemarau berkepanjangan yang diperparah fenomena el nino, sehingga waduk-waduk utama Batam ikut terdampak.

Berapa besar defisit air baku di Batam?

Kebutuhan air bagi 1,39 juta penduduk Batam pada 2026 mencapai 280 juta meter kubik, sedangkan ketersediaan tahunan hanya 139 juta meter kubik. Akar Bhumi Indonesia menyebut terjadi defisit 141 juta meter kubik, setara setengah dari total kebutuhan.

Sumber: BBC News Indonesia

Exit mobile version