Edukasi

Korupsi di Negeri Ini Bermula dari Sikap, Bukan Sekadar Citra

Jakarta -Korupsi di negeri ini tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan, berakar dari sikap mental yang salah, bukan semata-mata dari citra atau penampilan yang dibangun di hadapan publik. Banyak pelaku korupsi tampil rapi, berwajah ramah, dan berbicara lantang soal integritas, namun sikap kesehariannya justru bertolak belakang dengan nilai kejujuran.

Ketua Umum LSM Kumpulan Pemantau Korupsi Banten Bersatu (KPKB) Dede Mulyana menulis dalam rilisnya “Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan korupsi bukan hanya soal lemahnya sistem pengawasan, tetapi juga kegagalan membangun karakter. Jabatan diperlakukan sebagai alat kekuasaan, bukan amanah.

” Kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk melayani rakyat justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Ironisnya, budaya pencitraan sering kali menjadi tameng. Prestasi dikemas dengan slogan, program ditampilkan dalam baliho besar, namun di balik layar terjadi praktik manipulasi anggaran, suap, dan penyalahgunaan wewenang. Citra menjadi topeng, sementara sikap jujur dan tanggung jawab ditinggalkan.

Dede Mulyana menilai, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan penindakan hukum. Penjara dan hukuman berat memang penting, tetapi tidak akan efektif jika tidak dibarengi perubahan sikap sejak dini. Pendidikan integritas, keteladanan pemimpin, serta keberanian berkata benar harus menjadi fondasi utama.

Rakyat hari ini semakin cerdas. Mereka tidak lagi mudah percaya pada simbol dan janji. Yang ditunggu adalah sikap nyata: kejujuran dalam bertindak, kesederhanaan dalam hidup, dan keberanian menolak korupsi meski ada kesempatan.
Selama sikap masih dikalahkan oleh pencitraan, korupsi akan terus menemukan ruang. Negeri ini tidak kekurangan aturan, tetapi kekurangan teladan. Dan perubahan sejati selalu bermula dari sikap, bukan dari citra.

Penulis : Dede Mulyana Konsultan Hukum Keramat Nusantara

Exit mobile version