Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Berita

Kematian ilmuwan Rusia di pusat penelitian wabah pes Siberia

×

Kematian ilmuwan Rusia di pusat penelitian wabah pes Siberia

Sebarkan artikel ini
Kematian ilmuwan Rusia di pusat penelitian wabah pes Siberia — Ilustrasi laboratorium penelitian dengan simbol biohazard dan teks tentang kematian teknisi di Siberia
Seorang teknisi laboratorium Rusia meninggal di pusat penelitian wabah pes di Siberia, memicu kekhawatiran internasional.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington tengah “mencermati dengan sangat serius” kasus seorang teknisi laboratorium Rusia yang meninggal di sebuah pusat penelitian wabah pes di Siberia. Pernyataan itu disampaikan ketika sejumlah pihak mulai mempertanyakan risiko penyebaran pes pneumonik dari insiden tersebut.

Saat ditanya apa langkah yang akan diambil Washington terkait potensi penyebaran wabah pes dari Rusia, Trump mengaku belum membicarakan hal itu dengan Kremlin.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

“Saya prihatin mereka mengalaminya,” kata Trump, lalu menambahkan: “Kami akan membantu. Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami akan selalu membantu.”

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan Washington memantau perkembangan kasus ini dengan saksama di tengah kekhawatiran bahwa insiden tersebut dapat menyebabkan penyebaran pes pneumonik. Meski demikian, ia menegaskan tidak ada alasan untuk khawatir.

Kasus ini menarik perhatian internasional karena pes pneumonik dapat menular antar-manusia, berbeda dari bentuk pes yang ditularkan melalui gigitan hewan pengerat.

Perempuan yang meninggal tersebut, yang disebut media Rusia bernama depan Daria dan berusia akhir 20-an, baru-baru ini mengunjungi wilayah Buryatia di perbatasan dengan Mongolia.

Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengumumkan penyebab kematian perempuan itu sebagai “pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui”. Ia menambahkan bahwa “tidak ditemukan mikroorganisme” yang berkaitan dengan pekerjaannya dalam “sampel biologisnya”.

Ratusan orang yang pernah kontak dengan korban dipantau

Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengutip badan pengawas perlindungan konsumen dan kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan belum ada laporan mengenai staf lain dari lembaga penelitian wabah pes tersebut yang mencari pertolongan medis sejak teknisi laboratorium itu meninggal.

Baca Juga :  Optimistis Destry Damayanti Mampu Bawa Bank Indonesia ke Arah yang Lebih Kuat

Rospotrebnadzor menyatakan tim keamanan hayati telah memeriksa Institut Anti-Wabah Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk dan tidak menemukan situasi darurat di sana.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, meminta masyarakat agar tidak “mendengarkan berbagai rumor”, melainkan “berpegang pada pernyataan resmi Rospotrebnadzor”.

  • Hampir 200 orang yang diketahui pernah berkontak dengan korban berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.
  • Rospotrebnadzor menyatakan tidak menemukan situasi darurat di Institut Anti-Wabah Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk.
  • Belum ada laporan staf lain dari lembaga penelitian tersebut yang mencari pertolongan medis sejak korban meninggal.

Menlu AS: “Kami terus mengawasi”

Ketika seorang wartawan meminta “perkembangan terbaru mengenai dugaan kasus pes di Rusia”, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan pernyataan langsung.

“Tampaknya ada seorang pekerja di laboratorium yang terinfeksi dan ada kekhawatiran bahwa infeksi itu mungkin telah menyebar, setidaknya secara internal. Kita telah melihat mereka melakukan karantina dan langkah-langkah semacam itu.”

— Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS

“Jika sesuatu seperti ini menyebar ke luar, penyakit itu bisa dengan cepat meluas. Jadi, kami mengawasi dan memantaunya dengan saksama. Saya rasa ini bukan alasan untuk panik, tetapi memang perlu mendapat perhatian dan terus diawasi, dan itulah yang sedang kami lakukan,” ujar Rubio.

Kaitan dengan pandemi Black Death abad ke-14

Bakteri penyebab pes, atau Yersinia pestis, yang menewaskan hingga separuh populasi Eropa pada abad ke-14 ketika wabah itu dikenal sebagai Black Death, ditemukan pada hewan pengerat seperti marmot di wilayah tersebut.

Institut Anti-Pes Siberia dan Timur Jauh didirikan lebih dari 100 tahun lalu sebagai respons terhadap wabah yang terjadi pada dekade 1920-an.

Dr Simon Clarke, profesor madya mikrobiologi seluler di University of Reading, mengatakan kepada program PM di BBC Radio 4 bahwa pes pneumonik yang disebabkan oleh Yersinia pestis hampir selalu berakibat fatal jika tidak diobati, tetapi dapat ditangani dengan antibiotik.

“Pes pneumonik dapat menular dari orang ke orang dan itulah yang menimbulkan kekhawatiran,” kata Clarke.

Namun, ia menambahkan: “Tentu saja, setiap kali terjadi wabah penyakit menular, pikiran orang langsung tertuju pada… karantina wilayah dan Covid. Namun, bukan itu yang akan terjadi dalam kasus ini.”

“Orang-orang berpikir, ‘Oh, pes, penyakit itu sudah hilang, sudah lenyap ratusan tahun lalu,’ tetapi kenyataannya tidak demikian,” kata Clarke. “Penyakit ini masih ada dan di sejumlah wilayah di dunia, penyakit ini menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Itulah sebabnya penyakit ini perlu diteliti.”

Kemungkinan senjata biologis

Ketika ditanya apakah patogen tersebut mungkin diteliti untuk kemungkinan digunakan sebagai senjata biologis, Clarke mengatakan hal itu mungkin saja terjadi.

“Karena ini terjadi di Rusia, pikiran orang mengarah ke sana, tetapi saya kira penjelasan saya sebelumnya lebih mungkin,” kata Clarke.

Pernyataan sejumlah pejabat AS itu muncul setelah media Rusia melaporkan pekan lalu bahwa hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan perempuan yang meninggal tersebut berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.

Pertanyaan Umum

Apa penyebab kematian teknisi laboratorium Rusia tersebut?

Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengumumkan penyebab kematian perempuan itu sebagai “pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui”. Ia menyatakan “tidak ditemukan mikroorganisme” yang berkaitan dengan pekerjaannya dalam “sampel biologisnya”.

Berapa orang yang dipantau setelah kontak dengan korban?

Media Rusia melaporkan hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan perempuan yang meninggal itu berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.

Apakah Amerika Serikat akan membantu Rusia menangani kasus ini?

Presiden Donald Trump mengatakan AS akan membantu. “Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami akan selalu membantu,” katanya. Namun, Trump mengaku belum membicarakan hal itu dengan Kremlin.

Sumber: BBC News Indonesia

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600