Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Kesehatan

ISPA Serang 62.400 Balita di 7 Provinsi Karhutla, Darurat Kesehatan

×

ISPA Serang 62.400 Balita di 7 Provinsi Karhutla, Darurat Kesehatan

Sebarkan artikel ini
ISPA Serang 62.400 Balita di 7 Provinsi Karhutla — Ilustrasi anak balita memakai masker saat kabut asap karhutla
Sebanyak 62.400 balita di tujuh provinsi menderita ISPA akibat kabut asap karhutla.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Sedikitnya 62.400 balita usia 0–5 tahun di tujuh provinsi terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Pakar kesehatan menilai angka itu sudah masuk kategori kedaruratan kesehatan.

Penilaian itu disampaikan Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, yang meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih besar karena masih ada kasus yang tidak tercatat dan tidak terdiagnosis.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

“Jadi kasus ISPA ini seperti fenomena gunung es saja, ratusan ribu mungkin sudah angkanya. Dan ini tidak hanya di satu wilayah, tapi dua pulau besar terutama Kalimantan serta Sumatra,” ujarnya kepada BBC News Indonesia, Jumat (16/10).

Data Kementerian Kesehatan per 12 Oktober 2026 mencatat 277.075 kasus ISPA akibat karhutla di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah itu, 62.400 kasus atau 22,5% menimpa anak usia 0–5 tahun.

Kedaruratan kesehatan — kondisi darurat ketika ada ancaman penyakit menular atau bahaya kesehatan serius yang dapat menyebar cepat dan berdampak luas pada masyarakat.

Menurut Hermawan, jika ISPA tidak ditangani cepat, program pemerintah seperti pengendalian stunting, tuberkulosis, hingga MBG berpotensi mandek bahkan gagal. Ia mendesak Kemenkes memperkuat tindakan penyelamatan di tingkat puskesmas, mulai dari penyediaan masker, oksigen, hingga tenaga kesehatan.

Penguatan sistem rujukan juga dinilai penting karena penderita penyakit komorbid—stroke, jantung, gangguan ginjal, diabetes—sangat terpengaruh kabut asap yang memperparah kondisi mereka.

Korban anak dan duka keluarga

Kabar duka datang dari Samarinda, Kalimantan Timur. Balita berusia 14 bulan bernama Yazlyn Syanindita—akrab disapa Canin—meninggal pada Rabu (15/10) pukul 06.47 WITA di ruang rawat inap setelah kondisinya memburuk dan sempat dirawat di PICU.

“Kami baru merayakan ulang tahun pertama Canin pada 15 Agustus lalu. Tapi, adik meninggal tepat usianya 14 bulan, di tanggal yang sama dengan tanggal lahirnya,” ucap Cindy, sang ibu, lirih.

Cindy bercerita, kesehatan anaknya mulai menurun drastis sebulan terakhir, tepat ketika kabut asap mengepung perkampungan mereka di Kecamatan Palaran. Karhutla terbaru terjadi di Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, kawasan itu, pada 14 Oktober malam hingga 15 Oktober siang.

Baca Juga :  Diduga lakukan Kelalaian Pasca Operasi Batok Kepala Pasien Sempat Hilang, Pihak Keluarga : Minta Pertanggung Jawaban RSUD Ulin Banjar Masin

Puncaknya pada 13 Oktober malam, Canin susah bernapas. Keesokan harinya ia dilarikan ke puskesmas yang merujuknya ke rumah sakit karena tarikan napasnya sudah berat.

Meski sudah masuk IGD, pihak rumah sakit sempat menyatakan kondisi Canin “normal” dan menyarankan rawat jalan. Setelah surat rujukan keluar, Canin diopname dan mendapat terapi nebulizer. Kondisinya sempat membaik, sebelum memburuk pada Rabu tengah malam.

Dokter spesialis anak dari RS Mulya Medika Samarinda yang merawat Canin, Ikhsan Ali, belum bisa memastikan apakah kabut asap menjadi penyebab gangguan pernapasan yang berujung kematian balita itu. Gangguan pernapasan pada anak, katanya, bisa disebabkan berbagai faktor, salah satunya pneumonia.

“Kalau terkait apakah ini penyebabnya karhutla, saya tidak bisa pastikan. Yang pasti pasien ini mengalami gangguan pernapasan,” ujarnya di RS, Sabtu (17/10).

“Pemerintah jangan buta. Jangan bilang kondisi asap tidak parah. Banyak yang kena ISPA. Tolong jangan sepelekan asap karhutla.”

— Cindy, ibu Yazlyn Syanindita

Di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Nurul Khadafit kehilangan anak keduanya, Anya Shezan Banafsya, yang berusia enam tahun. Bocah itu menjalani perawatan enam hari sejak 8 Oktober dan mengembuskan napas terakhir pada 14 Oktober.

Surat kematian rumah sakit mencatat penyebabnya gagal napas akibat Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) disertai syok sepsis. Nurul mengisahkan anaknya semula hanya demam, lalu kondisinya memburuk dengan dehidrasi hingga bibir pecah-pecah, dan hasil rontgen menunjukkan infeksi paru-paru serta infeksi bakteri di kaki.

Kabut asap di Kayong Utara sudah berlangsung berbulan-bulan, dengan luas lahan terbakar tercatat 2.244 hektare. RS Jamaludin I Sukadana yang sempat menangani Anya belum memberi keterangan resmi soal penyebab kematian dan rekam medis pasien.

Mengapa anak paling rentan

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Respirasi, Fifi Sofiah, menjelaskan asap karhutla menghasilkan partikel PM10 dan PM2.5 yang jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia—diameter rambut sekitar 50–70 mikrometer.

Karena ukurannya sangat kecil, partikel itu bisa masuk ke saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian terdalam paru-paru dan aliran darah.

“Yang kita khawatirkan [partikel itu] bisa berpindah ke aliran darah, sehingga akan mengakibatkan gangguan-gangguan kesehatan pada seorang anak,” ucapnya.

Partikel dari lahan gambut tropis yang terbakar, kata Fifi, memiliki komposisi kimia yang berbeda dan cenderung lebih toksik sehingga berisiko mengiritasi saluran pernapasan. Anak-anak lebih rentan karena mereka bernapas lebih sering dibanding orang dewasa, sementara sistem imun mereka masih berkembang.

Bayi bisa bernapas kurang dari 60 kali per menit, anak 2 bulan–1 tahun kurang dari 50 kali per menit, dan anak 1–5 tahun kurang dari 40 kali per menit. Anak dengan penyakit jantung bawaan atau gangguan sistem paru berisiko lebih tinggi.

Melindungi anak di tengah kabut asap

Fifi menyarankan orang tua memantau kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Air Quality Index (AQI). Nilai ISPU 0–50 tergolong baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya.

Di dalam rumah, keluarga sebaiknya menyiapkan satu ruang berudara bersih dengan pintu dan jendela tertutup, serta menggunakan pembersih udara portabel jika tersedia. Jika memakai AC, pilih mode sirkulasi udara dalam ruangan.

  1. Pantau ISPU/AQI wilayah dan batasi aktivitas luar ruangan anak saat kualitas udara memburuk.
  2. Siapkan satu ruang bersih di rumah, tutup pintu-jendela, dan hindari sumber polusi dalam ruangan seperti asap rokok, lilin, dan obat nyamuk semprot.
  3. Jika terpaksa keluar, kenakan pakaian tertutup, kacamata pelindung, dan masker yang sesuai—bayi di bawah dua tahun sebaiknya tetap di dalam ruangan.

Orang tua juga perlu menghindari kegiatan yang menghasilkan banyak asap seperti memanggang atau menggoreng, serta membatasi penggunaan penyedot debu yang dapat membuat partikel beterbangan. Obat-obatan yang diresepkan dokter, termasuk pereda asma, harus tersedia di rumah.

Baca Juga :  SMPN 17 Kota Tangerang Gelar Uji Coba Program Makan Bergizi Gratis: Kepala Sekolah Harap Gizi Anak Terpenuhi

“Jika anak mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas, sulit makan dan minum, tampak sangat mengantuk, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis,” tegas Fifi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengimbau kelompok rentan mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa keluar, ia meminta masyarakat memakai masker, kacamata, dan pakaian berlengan panjang, lalu segera membersihkan tubuh setelah beraktivitas.

“Kalau sudah kondisinya seperti ini, kita tahu alamnya sudah begini, kita sebagai manusia harus segera beradaptasi dan usahakan stay di rumah. Jangan keluar kecuali benar-benar perlu,” ujar Menkes kepada wartawan, Kamis (15/10).

Hermawan menilai pemerintah tidak bisa menyangkal kematian anak-anak bukan disebabkan asap, dan harus menindaklanjuti kasus-kasus tersebut. Menurutnya, semua kematian pada kelompok rentan di tengah kabut asap patut dicurigai diakibatkan asap.

“Kalau bicara risiko populasi, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan manusia terpapar dengan keadaan yang buruk dan berdampak terhadap kesehatan,” katanya.

Jurnalis Muhamad Fauzi di Kalimantan Barat dan Rita Lavenia di Kalimantan Timur berkontribusi untuk laporan ini.

Pertanyaan Umum

Berapa jumlah balita yang terkena ISPA akibat karhutla?

Kemenkes mencatat 62.400 kasus ISPA pada anak usia 0–5 tahun dari total 277.075 kasus di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak, berdasarkan data per 12 Oktober 2026.

Apakah kasus ini sudah disebut kedaruratan kesehatan?

Ketua Umum IAKMI Hermawan Saputra menyebutnya sudah masuk kategori kedaruratan kesehatan karena berisiko menyebar cepat dan berdampak luas, terlebih angka riil diperkirakan lebih tinggi akibat kasus yang tidak tercatat dan tidak terdiagnosis.

Bagaimana cara melindungi anak dari paparan asap?

Pantau kualitas udara, siapkan ruang bersih di rumah, hindari sumber polusi dalam ruangan, batasi aktivitas luar ruangan, dan gunakan masker yang sesuai bila terpaksa keluar. Bayi di bawah dua tahun sebaiknya tetap berada di dalam ruangan.

Sumber: BBC News Indonesia

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600