Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

Inflasi Pangan September 2026 Tembus 5%, BI Ungkap PR Pemerintah

×

Inflasi Pangan September 2026 Tembus 5%, BI Ungkap PR Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Inflasi Pangan September 2026 Tembus 5% — Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan keterangan mengenai inflasi pangan September 2026
Gubernur BI Destry Damayanti menyoroti inflasi pangan bergejolak yang menembus 5% pada September 2026.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Inflasi pangan bergejolak atau volatile food menembus 5% pada September 2026, melampaui batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia yang ditetapkan 3,5%. Angka ini menjadi perhatian utama bank sentral di tengah upaya menjaga daya beli masyarakat.

Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan inflasi inti masih terkendali di level 2,8% pada September 2026. Meski begitu, tekanan harga pada kelompok pangan bergejolak dinilai masih perlu diwaspadai.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

“Memang kami juga laporkan yang memang perlu menjadi perhatian adalah inflasi di pangan volatile food inflation, yang memang mencapai 5 persen,” kata Destry dalam konferensi pers usai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10).

Dalam rapat tersebut, BI melaporkan perkembangan inflasi kepada Presiden Prabowo Subianto. Untuk mengendalikan kenaikan harga pangan, BI akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian.

“Bagaimana kita bisa menjaga untuk volatile food inflation agar masuk di dalam koridor BI 2,5% plus minus 1%,” kata dia.

Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Global

Di sisi lain, Destry memastikan BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi Amerika Serikat yang berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.

Tantangan bagi rupiah lainnya adalah perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah ditempuh melalui berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging.

Destry menyebut insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Turun Rp 61.000/Gram Dalam Sepekan, Simak Harga Terbaru!

“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry.

IndikatorNilai September 2026
Inflasi pangan bergejolak5%
Inflasi inti2,8%
Sasaran inflasi BI2,5% plus minus 1%

Dana Masuk dari Insentif Hedging

Aliran dana senilai US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar itu menjadi salah satu hasil dari insentif hedging yang dirancang BI untuk menarik devisa dan menstabilkan pasar valuta asing domestik.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi bank sentral menghadapi volatilitas global, seiring masih tingginya ketidakpastian arah suku bunga The Fed.

Koordinasi dengan Kementerian Pertanian

Untuk menekan inflasi pangan bergejolak, BI menempuh jalur koordinasi lintas lembaga. Penguatan kerja sama dengan Kementerian Pertanian diarahkan agar harga pangan kembali berada dalam koridor sasaran inflasi.

Langkah ini menjadi penting karena kelompok pangan bergejolak kerap dipengaruhi faktor pasokan, cuaca, dan distribusi yang berada di luar kendali kebijakan moneter.

Pertanyaan Umum

Berapa inflasi pangan bergejolak pada September 2026?

Inflasi pangan bergejolak atau volatile food mencapai 5% pada September 2026, melampaui batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 3,5%.

Bagaimana kondisi inflasi inti?

Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan inflasi inti masih terkendali di level 2,8% pada September 2026.

Apa langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah?

BI memanfaatkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward, serta insentif biaya lindung nilai atau hedging yang telah mendatangkan aliran dana sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar.

Sumber: Katadata

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600