Ekonomi

IHSG Naik 5,65% ke 5.278 pada 20 Oktober, Asing Jual Rp1,97 T

IHSG Naik 5 — Grafik pergerakan IHSG menguat 5,65 persen ke level 5.278,89 pada 20 Oktober
IHSG ditutup naik 5,65 persen ke 5.278,89 pada Selasa (20/10), meski asing mencatat net sell Rp1,97 triliun.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan sebesar 282,28 poin atau 5,65 persen ke level 5.278,89 pada perdagangan Selasa (20/10). Meski mencatatkan lonjakan besar, investor asing justru membukukan penjualan bersih (nett sell) hingga Rp 1,97 triliun.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan investor dalam negeri yang mencatatkan total pembelian atau net buy sebesar Rp 1,97 triliun. Dengan demikian, penguatan indeks pada sesi tersebut ditopang oleh aliran dana domestik, sementara asing memilih keluar dari pasar.

Sepanjang perdagangan, sebanyak 964 saham bergerak naik, 226 saham turun, dan 135 saham stagnan. Dominasi saham yang menguat memperlihatkan bahwa kenaikan indeks tidak hanya ditopang segelintir emiten, meski empat saham bank besar menjadi motor utama.

Empat bank besar jadi penopang utama

Salah satu penyebab IHSG naik cukup signifikan adalah pertumbuhan empat saham bank besar di Indonesia yang masing-masing mencatat kenaikan di atas lima persen.

Saham PT Bank Central Asia (BBCA) naik 380 poin atau 7,9 persen ke level 5.200. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 250 poin atau 9,8 persen ke level 2.790.

Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (BMRI) naik 330 poin atau 9,8 persen ke level 3.690, dan saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 260 poin atau 8,8 persen ke level 3.220.

Saham BBCA naik 380 poin (7,9 persen) ke 5.200
Saham BBRI naik 250 poin (9,8 persen) ke 2.790
Saham BMRI naik 330 poin (9,8 persen) ke 3.690
Saham BBNI naik 260 poin (8,8 persen) ke 3.220

Kenaikan serentak keempat saham tersebut menjadikan sektor perbankan sebagai pendorong terbesar indeks pada sesi itu. Keempatnya tercatat tumbuh di atas lima persen, jauh melampaui rata-rata kenaikan saham lain di bursa.

Respons analis dan faktor buyback

Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan penguatan IHSG sejalan dengan proyeksi teknikal yang telah disampaikan pada laporan pagi hari. Menurut dia, masih terdapat peluang penguatan indeks dalam jangka pendek.

“Penguatan yang terjadi pada IHSG ini sejalan dengan yang kami sampaikan pada report teknikal pagi ini. Di mana terdapat peluang penguatan IHSG dalam jangka pendek dan masih kami asumsikan sebagai technical rebound dahulu.”

— Herditya Wicaksana, Analis Teknikal MNC Sekuritas

Herditya menambahkan, rencana pembelian kembali saham (buyback) oleh sejumlah emiten juga menjadi salah satu katalis yang mendorong penguatan IHSG. Aksi tersebut kemungkinan telah mulai dilakukan oleh sejumlah perusahaan.

“Di sisi lain, dengan adanya rencana buyback (yang mungkin sudah dilakukan) oleh para emiten juga menjadi salah satu katalis dari penguatan IHSG ini,” pungkasnya saat dihubungi Jawapos.com, Selasa (20/10).

Lonjakan indeks yang disertai net sell asing menunjukkan penguatan kali ini lebih bertumpu pada dana domestik dan aksi korporasi, bukan arus masuk investor global.

Dengan posisi nett sell asing dan nett buy domestik yang sama-sama Rp 1,97 triliun, sesi Selasa (20/10) memperlihatkan pergeseran sisi permintaan di bursa. Investor dalam negeri menyerap saham yang dilepas asing, sementara indeks tetap melaju ke level 5.278,89.

Pertanyaan Umum

Berapa kenaikan IHSG pada perdagangan Selasa (20/10)?

IHSG ditutup menguat 282,28 poin atau 5,65 persen ke level 5.278,89.

Bagaimana posisi investor asing saat IHSG menguat?

Investor asing mencatatkan nett sell sebesar Rp 1,97 triliun, berbanding terbalik dengan investor dalam negeri yang membukukan net buy dengan nilai yang sama.

Apa saja saham bank besar yang mendorong penguatan indeks?

BBCA naik 7,9 persen ke 5.200, BBRI naik 9,8 persen ke 2.790, BMRI naik 9,8 persen ke 3.690, dan BBNI naik 8,8 persen ke 3.220.

Sumber: JawaPos

Exit mobile version