Edukasi

Hasil PISA 2025 Indonesia di Bawah Target dan Pengaruh AI

Hasil PISA 2025 Indonesia di Bawah Target dan Pengaruh AI — Ilustrasi siswa Indonesia menggunakan AI untuk belajar, dengan grafik hasil PISA 2025
Sebanyak 53 persen pelajar Indonesia berusia 15 tahun memakai AI untuk belajar, melampaui rata-rata global PISA 2025.

Sebanyak 53 persen murid berusia 15 tahun di Indonesia menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk belajar. Angka itu melampaui rata-rata global PISA 2025 yang berada di 46 persen dari 91 negara. Namun, sebagian besar pelajar Indonesia justru belum mencapai kompetensi minimum dalam membaca, matematika, dan sains.

Di ruang keluarga sebuah rumah di Jakarta, percakapan tentang AI sudah menjadi hal biasa. Valerica, orang tua murid di sebuah sekolah dasar swasta, mendampingi anak sulungnya, Lula, mengerjakan proyek sumatif tengah semester. Lula yang duduk di kelas 5 SD diminta membuat majalah kesehatan 10 halaman bertema penyakit gangguan cerna. Ia memilih GERD.

“Dicari dulu sumbernya. Jangan langsung copy-paste gitu,” ucap Valerica kepada Lula, seperti dikutip dari laporan yang mendokumentasikan percakapan itu.

Saat Lula mengetik “Apa saja gejala orang GERD?” di mesin pencari, hasil teratas yang muncul adalah AI Overview. Ia hampir menyalin isinya. Valerica lalu menunjukkan tautan ke sumber asli yang dikutip AI tersebut dan menjelaskan bahwa rangkuman buatan mesin bisa tidak akurat. Panduan sekolah juga mewajibkan pencantuman sumber asli.

Valerica tidak memperbolehkan anak-anaknya menjajal aplikasi seperti ChatGPT atau Gemini. Meski begitu, mereka tetap terpapar AI saat berselancar di mesin pencari. Karena itu ia berulang kali mengingatkan pentingnya merujuk sumber asli, sekaligus membuka ruang diskusi soal pelajaran dan temuan anaknya di AI.

Aturan serupa berlaku di keluarga Andi Sapto, orang tua murid SMP swasta di Bogor, Jawa Barat. Anaknya, Sena, hanya beberapa kali mencoba AI untuk tugas sekolah. Pertama, mencari penjelasan tentang rantai makanan, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Kedua, meminta AI membuat pantun, tapi hasilnya disebutnya aneh.

“Dia enggak pernah pakai lagi kalau untuk pelajaran. Karena aku dan ibunya juga sering pesan untuk enggak boleh, ternyata dia juga khawatir kalau jawaban dari AI enggak sama dengan yang diajarkan gurunya,” tutur Andi.

Sena kini memakai AI untuk memperdalam hobi bermain gitar, mencari informasi sepak bola, dan “ngobrol” di waktu senggang lewat Meta AI di WhatsApp. Andi rutin mengingatkan bahwa AI bisa merusak kemampuan berpikir jika hanya dipakai sebagai jalan pintas menemukan jawaban.

Hasil PISA 2025 dan Posisi Indonesia

PISA diselenggarakan OECD sejak 2000 dan menjadi acuan kualitas pendidikan global. Komponen utamanya matematika, sains, dan membaca. Beberapa tahun terakhir, PISA mulai memetakan pula AI dan pengaruh digitalisasi pada pendidikan.

Dari sisi skor, capaian Indonesia pada komponen membaca dan sains meningkat, sedangkan matematika turun tipis. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyatakan skor tersebut menunjukkan performa pendidikan Indonesia relatif stabil.

Direktur Barisan Pengkaji Pendidikan (Bajik), Dhitta Puti Sarasvati, menilai skor itu masih di bawah standar acuan 2025 dalam RPJPN 2025-2045. Untuk mencapai sasaran pembangunan 2045 dengan visi Indonesia Emas, masih ada selisih sekitar 100 poin.

“Dengan kata lain, capaian PISA 2025 Indonesia masih jauh dari sasaran yang ditetapkan dalam RPJPN 2025–2045,” ucap Dhitta.

Ia menekankan pembacaan hasil PISA tidak cukup dengan membandingkan skor antarperiode. Yang perlu didalami adalah kemampuan siswa yang tak berubah sejak Indonesia mengikuti PISA lebih dari dua dekade lalu.

“Kemampuan siswa Indonesia banyak yang masih berada di bawah level 2 dalam membaca, matematika, dan sains,” tutur Dhitta.

  • Membaca: 73% siswa Indonesia berada di bawah level 2
  • Matematika: 83% siswa berada di bawah level 2
  • Sains: 63% siswa berada di bawah level 2

Sisanya berhasil melampaui level 2, tetapi tidak ada satu pun yang menembus standar level 5 dan 6, tingkatan tertinggi PISA. Menurut Dhitta, makna “di bawah level 2” adalah siswa belum menunjukkan kemampuan dasar untuk konsisten menggunakan pengetahuan secara efektif dalam situasi sehari-hari.

“Ini bukan berarti siswa ‘tidak bisa membaca’, ‘tidak bisa matematika’, atau ‘tidak tahu sains’. Mereka memiliki sebagian pengetahuan dan keterampilan, tapi belum cukup konsisten untuk menggunakannya secara mandiri ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan pemahaman dan penerapan,” tutur Dhitta.

Ia menambahkan, jika sebagian besar siswa usia 15 tahun berada di bawah Level 2, itu merupakan sinyal serius bagi mutu pendidikan Indonesia. Pertanyaan mendasarnya bukan semata capaian siswa, melainkan seberapa efektif sistem pendidikan membangun pondasi kemampuan bernalar sejak pendidikan dasar.

Peneliti Pusat Riset Penggerak Indonesia Cerdas (PRPIC), Arkhadi Pustaka, memberi gambaran soal yang mayoritas bisa diselesaikan siswa Indonesia. “Untuk matematika, mereka cuma bisa menyelesaikan permasalahan seperti Budi butuh beli beras sebanyak tiga kilogram, lalu harga beras untuk satu kilogram itu Rp16.000, berapa Budi harus membayar? Level 2 itu sesederhana itu,” ujar Arkhadi.

“Melihat hasil PISA dengan 83% di bawah level 2, artinya lima dari enam anak belum bisa mengerjakan persoalan tadi,” kata Arkhadi.

Pada komponen membaca, Arkhadi menjelaskan siswa yang berada di bawah level 2 hanya mampu mencari fakta eksplisit dari bacaan. “Misalnya, ada bacaan lalu ditanya tentang apa ceritanya dan siapa tokohnya, mereka bisa jawab,” ujarnya.

“Tapi kalau diminta bikin interferensi atau menemukan makna yang tersirat itu agak sulit. Anak-anak yang bisa sampai ke sana hanya 27%, sekitar tiga dari 10 anak,” kata Arkhadi. “Artinya, tujuh anak lainnya masih susah membedakan fakta dengan opini, bahkan belum bisa bersikap kritis terhadap informasi.”

Menempatkan AI dalam Pendidikan

Kondisi itu menggambarkan mayoritas pelajar berusia 15 tahun belum mencapai kompetensi minimum, padahal sudah mengenyam wajib belajar sembilan tahun. Karena itu, penggunaan AI untuk belajar patut dicermati.

Peneliti dari Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), Anindito Aditomo, menilai AI “sebagai alat belajar itu justru bisa berbahaya”, kecuali berada di tangan yang tepat dengan keterampilan berpikir kritis.

“Kalau anak SD sudah diperbolehkan pakai AI, apalagi cuma disuruh gurunya, dibuatkan promptingnya. Diminta nulis dikit, pakai AI. PR dikit, difoto lalu dimasukkan AI untuk tahu jawabannya. Itu bahaya sekali. Kapan akan bisa melatih berpikir? Jadi, SD-SMP ini tidak perlu dulu pakai AI,” tutur Nino, sapaan akrab Anindito.

Sebab, AI pada dasarnya mengalihdayakan proses berpikir pada mesin yang kemudian hasilnya dianggap memuaskan sehingga menjadi candu. “Kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita tidak belajar apa-apa. Rasanya belajar dan merasa sudah pintar, padahal tidak. Jadi, seperti menipu diri sendiri,” ujar Nino.

Di tangan orang-orang yang punya regulasi diri tinggi dan sudah bisa berpikir kritis, Nino menilai AI bisa menjadi alat belajar yang powerful. “Mereka yang secara sadar menggunakan AI sebagai alat belajar ini proses belajarnya jauh lebih cepat karena tidak menjadikan sebagai jalan pintas,” tuturnya.

Ia mencontohkan penggunaan AI untuk memberi kuis, menguji diri sendiri, atau menjadi teman kritis untuk brainstorming. Menurutnya, cara penggunaan seperti itu akan membuat orang yang sudah kritis justru makin kreatif dan makin pintar karena tidak puas dan terus menggali sumbernya.

BBC pernah mengulas bahwa banyak penelitian menunjukkan “pengalihan beban kognitif” ke AI berdampak merusak kemampuan mental dan berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif. Penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) Media Lab yang dirujuk BBC menunjukkan kelompok yang membuat esai dengan ChatGPT mengalami penurunan aktivitas otak terkait kreativitas dan pemrosesan informasi.

Kelompok itu bahkan tidak mengingat materi atau gagasan apa yang ditulis dalam esai tersebut. Berbeda dengan kelompok yang hanya mengandalkan pikiran sendiri dan mesin pencari seperti Google. Aktivitas otak pada area visual cukup intens terlihat pada mereka yang memanfaatkan mesin pencari, sedangkan mereka yang murni berpikir sendiri memperlihatkan otak yang aktif di banyak area.

Untuk anak usia sekolah, Nino menegaskan kemampuan berpikirnya harus diasah lebih dulu. Apalagi dengan hasil PISA terbaru, Indonesia punya pekerjaan rumah mendesak agar anak-anak bisa mencapai kompetensi minimum ketimbang buru-buru mengejar AI dalam kurikulum.

Kemendikdasmen telah memasukkan mata pelajaran coding dan AI di kurikulum tingkat SD pada tahun ajaran 2025/2026, seiring pernyataan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka pada 2025. Namun, implementasinya hanya untuk sekolah yang sudah siap, kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Nino berpendapat kurikulum yang sudah ada sepatutnya diarahkan untuk menguatkan kemampuan berpikir dan penalaran anak. “Jangan sampai kurikulum coding dan AI itu mengajarkan atau memaparkan anak-anak SD, SMP pada AI secara tidak terpandu sehingga diam-diam ketergantungan,” ujarnya.

“Harusnya dikuatkan dulu melalui mata pelajaran dan peningkatan kompetensi literasi membaca, matematika, dan sains. Dilatih senang baca dulu, bisa baca buku yang panjang, bisa menganalisis, baru menggunakan AI secara terpandu dan terstruktur ketika SMA,” kata Nino.

Arkhadi menambahkan anak-anak dengan landasan keterampilan berpikir yang mapan dan memenuhi kompetensi minimum bisa dengan mudah mengejar penggunaan teknologi, termasuk AI. “Dilatih seminggu untuk pakai AI itu sudah cepat bisa. Yang terpenting keterampilan dasar berpikir dulu karena membangun keterampilan dasar berpikir itu lebih memakan waktu dan tidak bisa sambil bergantung pada AI,” ujarnya.

Dalam dunia kerja, AI memang memudahkan sehingga pekerjaan rutin lebih efektif dan efisien. “Hanya saja, ketika masuk dalam proses belajar maka itu merusak. Karena jadi tidak melatih anak berpikir. Walau bisa saja diberi tugas yang melatih untuk bernalar dan berpikir,” kata Arkhadi. “Tapi kan selama ini tugas yang diberikan lebih pada bagaimana anak dapat menjawab, jadi AI-nya dipakai untuk menjawab terus dan jadi malas berpikir.”

Ia menyarankan saat anak masih dalam mode membangun keterampilan berpikir kritis, sebaiknya dijauhkan dari AI terlebih dulu. New York memulainya pada awal September 2026. Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengumumkan siswa SD dan SMP dengan batas usia sampai 14 tahun tidak diizinkan menggunakan AI selama tahun ajaran depan.

“Anak-anak membutuhkan guru dan hubungan manusia mereka untuk belajar dan untuk tumbuh. Mereka perlu mengembangkan keterampilan bersama rekan-rekan mereka, membangun hubungan dengan para pendidik dan bergulat dengan masalah-masalah sulit sendiri.”

— Zohran Mamdani, Wali Kota New York

Uni Eropa juga mencoba mengatur penggunaan media sosial bagi anak, yang di dalamnya terdapat kontrol terhadap penggunaan AI untuk anak di bawah 18 tahun. Orang tua dilibatkan penuh sebagai pemegang kendali pemakaian media sosial dan AI bagi anaknya.

Hubungan Penggunaan AI dan Prestasi Siswa

Mengutip laporan PISA, hubungan antara penggunaan AI dan prestasi siswa bersifat kompleks karena bergantung pada tujuan dan cara pemakaiannya. Data PISA menunjukkan siswa yang menggunakan AI untuk tugas sekolah tertentu skornya lebih rendah daripada yang tidak menggunakan AI. Tugas tertentu itu termasuk merangkum teks, menyusun naskah, atau melakukan penelitian awal.

Dalam skenario ini, siswa yang tidak menggunakan AI rata-rata unggul sekitar 20 poin, setara telah menjalani satu tahun pendidikan lebih awal dibanding teman sebayanya. Namun bagi pelajar yang memanfaatkan AI untuk tujuan umum dengan durasi mingguan dan punya kesempatan mengembangkan keterampilan literasi AI di sekolah, skornya cenderung sedikit lebih tinggi dalam sains. Sayangnya, situasi itu lebih banyak diperoleh siswa dengan kondisi sosio-ekonomi tertentu.

Pemanfaatan AI untuk belajar 53%
Penelitian topik baru 32%
Merangkum teks bacaan 39%
Menyusun draf tugas menulis 30%

Semua persentase itu di atas rata-rata OECD. Satu elemen yang di bawah rata-rata OECD adalah murid yang tidak pernah menggunakan AI untuk tugas sekolah, hanya 7 persen, sedangkan rata-ratanya 14 persen. Dibandingkan sejumlah negara peringkat teratas PISA, kondisi penggunaan AI di Indonesia hampir setara dengan Korea Selatan dan Singapura.

Bedanya, sebagian besar anak di Korea Selatan dan Singapura kemampuan membaca, matematika, dan sainsnya jauh melampaui rata-rata OECD dalam mencapai kompetensi minimum. Persentase siswa kategori top performer sesuai standar level tertinggi PISA juga di atas rata-rata. Hal ini berkaitan dengan tingkat berpikir kritisnya. Meski secara keseluruhan, hasil dua negara itu juga turun karena dugaan paparan AI dan teknologi di waktu luang melebihi durasi yang dianjurkan.

Dhitta berkata anak perlu memiliki rasa ingin tahu, mengeksplorasi berbagai kemungkinan, belajar dari kesalahan, dan mencari solusi. Dari data PISA, anak-anak Indonesia punya modal berupa tingkat rasa ingin tahu 80 persen dan ketekunan 74 persen. “Tapi rasa ingin tahu saja tidak cukup. Anak juga perlu mampu memeriksa informasi, membandingkan berbagai sumber, mengevaluasi bukti, dan menggunakan penalaran untuk menentukan apakah suatu informasi dapat dipercaya,” ucap Dhitta.

Karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu dirancang untuk memperluas proses berpikir anak, bukan menggantikannya. Ini butuh dukungan sistem, antara lain kurikulum, pendidikan dan pengembangan profesional guru, asesmen, hingga kepemimpinan pendidikan. Dengan demikian, pembelajaran di setiap sekolah memberi ruang bagi anak untuk bertanya, mencari tahu, mencoba, membuat kesalahan, memeriksa kembali, berdiskusi, dan membangun kesimpulan dengan pikirannya sendiri.

“Kita tidak perlu menyiapkan anak untuk bersaing dengan AI, tapi kita perlu memastikan mereka memiliki kemampuan berpikir yang membuat AI menjadi alat untuk memperluas pikirannya, bukan menggantikan pikirannya.”

— Dhitta Puti Sarasvati, Direktur Bajik

Pertanyaan Umum

Berapa banyak pelajar Indonesia yang memakai AI untuk belajar?

Hasil PISA 2025 menunjukkan 53 persen murid berusia 15 tahun di Indonesia memanfaatkan AI untuk belajar, di atas rata-rata global 46 persen dari 91 negara yang diteliti.

Mengapa penggunaan AI untuk tugas tertentu dikaitkan dengan skor lebih rendah?

Data PISA menunjukkan siswa yang memakai AI untuk merangkum teks, menyusun naskah, atau penelitian awal skornya lebih rendah. Siswa yang tidak memakai AI rata-rata unggul sekitar 20 poin, setara satu tahun pendidikan lebih awal.

Pada usia berapa AI sebaiknya mulai digunakan dalam belajar?

Anindito Aditomo dari PSPK menilai SD dan SMP belum perlu memakai AI. Menurutnya, kompetensi literasi membaca, matematika, dan sains harus dikuatkan lebih dulu, baru AI digunakan secara terpandu dan terstruktur ketika SMA.

Sumber: BBC News Indonesia

Exit mobile version