Edukasi

Diduga Ada Manipulasi Data Dapodik, SMP Al-Khafi Boarding School Disorot Warga

Kabupaten Bandung Barat_HARIANESIA.COM_ Dugaan adanya manipulasi data Dapodik mencuat di lingkungan SMP Al-Khafi Boarding School yang beralamat di Kampung Gunungbatu RT 01/RW 06, Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Sorotan publik bermula dari besarnya anggaran bantuan revitalisasi pembangunan yang diterima sekolah tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun, SMP Al-Khafi Boarding School menerima bantuan revitalisasi pembangunan yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 dengan nilai mencapai Rp1.877.985.000.

Besarnya anggaran tersebut menuai pertanyaan dari masyarakat sekitar. Pasalnya, warga menilai jumlah peserta didik di sekolah tersebut sangat minim dan dinilai tidak sebanding dengan anggaran pembangunan yang dikucurkan pemerintah.
“Warga pada heran, muridnya sedikit tapi bantuan bangunannya besar sekali,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (10/5/2026).

Menindaklanjuti adanya aduan masyarakat, awak media kemudian melakukan penelusuran terhadap data pokok pendidikan (Dapodik) sekolah tersebut. Dari hasil penelusuran diketahui jumlah peserta didik yang tercatat dalam Dapodik mencapai 49 siswa.

Namun saat awak media mendatangi lokasi sekolah pada Kamis (14/5/2026), kondisi di lapangan justru memunculkan tanda tanya baru. Di lokasi pembangunan, awak media hanya bertemu dengan sejumlah pekerja bangunan. Sementara untuk aktivitas belajar mengajar, hanya terlihat satu ruang kelas yang sedang digunakan.

Di dalam ruang kelas tersebut, awak media melihat lima siswa laki-laki yang sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dari jumlah tersebut, empat siswa diketahui merupakan siswa kelas VII dan satu siswa kelas IX.

Kondisi itu memunculkan dugaan adanya ketidaksesuaian antara jumlah peserta didik yang tercatat dalam Dapodik dengan jumlah siswa aktif yang terlihat di lapangan.

Selain itu, proyek revitalisasi yang sedang berjalan diketahui meliputi pembangunan dua ruang kelas baru dan satu ruang perpustakaan. Besarnya pembangunan di tengah minimnya jumlah peserta didik pun menjadi perhatian warga.

Saat hendak dikonfirmasi, kepala sekolah diketahui tidak berada di lokasi. Salah seorang mandor bangunan menyarankan agar awak media kembali di lain waktu untuk menemui pihak sekolah secara langsung.

Upaya konfirmasi kemudian dilakukan melalui pesan singkat WhatsApp kepada Kepala Sekolah, Dadang Zaenal. Dalam pesan tersebut, Dadang Zaenal meminta waktu untuk memberikan keterangan pada Sabtu (16/5/2026).

Pada Sabtu (16/5/2026), awak media kembali mendatangi SMP Al-Khafi Boarding School guna meminta klarifikasi dan memberikan hak jawab kepada pihak sekolah.

Dalam keterangannya, Kepala Sekolah Dadang Zaenal menjelaskan bahwa jumlah siswa SMP Al-Khafi memang tercatat sebanyak 49 siswa. Menurutnya, sebagian siswa berada di kelas jauh yang saat ini masih dalam proses perizinan.

“Kami mempunyai kelas jauh yang masih memproses perizinan, seperti NIP dan izin tetangga. Sedangkan yang khusus di sini adalah siswa yang mondok. Untuk yang mondok normalnya sekitar 15 orang dari berbagai jenjang, mulai kelas VII sampai kelas IX,” ujar Dadang.

Dadang juga mengakui bahwa operasional kelas jauh tersebut belum sepenuhnya memiliki izin resmi. Namun, menurutnya, hal itu dilakukan demi menyelamatkan siswa agar tetap bisa mengikuti kegiatan pendidikan.

Terkait besarnya dana revitalisasi yang diterima sekolah, Dadang menyebut bantuan tersebut merupakan bagian dari program pemerintah pusat.

“Ini program Prabowo supaya sekolah-sekolah menjadi lebih baik. Pemerintah melakukannya secara bertahap, mungkin Al-Khafi mendapatkan lebih dulu. Dari kementerian juga pernah ke sini untuk melakukan pengecekan, tetapi saat datang sore hari sehingga murid tidak ada. Kalau sekolah lain ingin mendapatkan bantuan revitalisasi, segera perbaiki data Dapodiknya,” ungkapnya.

Di lokasi yang sama, salah seorang pekerja bangunan yang mengaku sebagai tokoh masyarakat turut memberikan tanggapan. Ia meminta awak media agar tidak memberitakan hal-hal yang dinilai dapat mencoreng nama baik sekolah. Bahkan, yang bersangkutan sempat melontarkan pernyataan bernada intimidatif dengan menyebut adanya “wartawan bodrex”

Di sisi lain, sejumlah sekolah di beberapa wilayah masih ditemukan melakukan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas rusak bahkan di luar ruangan akibat keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.

Karena itu, masyarakat berharap pihak terkait, mulai dari Dinas Pendidikan hingga aparat pengawas internal pemerintah, dapat melakukan pemeriksaan dan verifikasi secara menyeluruh terhadap data peserta didik serta penggunaan anggaran revitalisasi di SMP Al-Khafi Boarding School.

Warga menilai, apabila benar terdapat ketidaksesuaian data dalam Dapodik, maka hal tersebut berpotensi merugikan keuangan negara serta mencederai rasa keadilan bagi sekolah lain yang dinilai lebih membutuhkan bantuan pembangunan.

Pewarta: Agus Nugroho/Lepi

 

Exit mobile version