JAKARTA_HARIANESIA.COM_ Pengamat pertahanan dan hubungan internasional, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, memaparkan karakteristik unik diplomasi publik Rusia yang menekankan pendekatan kemanusiaan dan budaya ketimbang tekanan politik atau militer.
“Secara umum, diplomasi publik adalah keterlibatan langsung dengan publik asing, bukan hanya dengan pemerintah negara lain. Ini instrumen utama soft power untuk membangun pengaruh tanpa paksaan, merujuk konsep Joseph Nye,” ujar Connie dalam sebuah forum kajian, Rabu (15/4/2026).
*Empat Pilar Diplomasi Publik*
Connie menjelaskan, area fokus diplomasi publik meliputi bidang budaya, pendidikan, media, dan hubungan antar-manusia atau _people-to-people ties_.
“Inti dari diplomasi publik adalah membangun preferensi pihak luar melalui daya tarik dan otentisitas. Bukan lewat ancaman atau kekuatan militer,” tegasnya.
*Karakter Unik Diplomasi Publik Rusia*
Dalam paparannya, Connie menyoroti pendekatan Rusia yang berbeda. “Rusia menggunakan istilah _Humanitarian Cooperation_ sebagai pilar utama diplomasi mereka,” ungkapnya.
Metode yang dipakai, kata Connie, menekankan pada dialog dan membangun koneksi atau _linking_ dengan publik negara lain. “Tujuan akhirnya jelas: membentuk preferensi pihak luar melalui daya tarik budaya dan otentisitas, bukan melalui tekanan politik atau militer,” jelas Connie.
Pendekatan ini, menurut Connie, menjadi pembeda diplomasi publik Rusia di tengah kontestasi global. “Mereka menjual narasi kemanusiaan dan kedekatan budaya. Itu cara Rusia memainkan _soft power_-nya,” tutupnya.(DW)
