Edukasi

Bukan Sekadar Jabatan! Inilah Rahasia Ahmad Basarah Bisa Bertahan 5 Periode di Senayan Tanpa Tergoyahkan

Jakarta_Dalam dunia politik yang dinamis dan penuh kejutan, bertahan di kursi parlemen selama satu atau dua periode saja sudah merupakan tantangan besar. Namun, sosok Ahmad Basarah berhasil mencatatkan rekor fenomenal dengan mengamankan posisinya di Senayan selama lima periode kedewanan.

Apa rahasia di balik daya tahan politiknya yang luar biasa ini? Ternyata, bagi pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1968 ini, politik bukan sekadar soal mengejar jabatan, melainkan tentang pengabdian ideologis yang berakar kuat.

1. Akar Rumput yang Dirawat Sejak Mahasiswa
Ahmad Basarah tidak muncul secara instan di panggung nasional. Ia adalah aktivis tulen yang ditempa oleh kerasnya perjuangan mahasiswa. Sebagai mantan Sekretaris Jenderal Presidium GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) periode 1996-1999, Basarah memiliki basis massa dan jaringan intelektual yang sangat solid.

Pengalaman memimpin gerakan mahasiswa saat meruntuhkan rezim Orde Baru memberinya insting politik yang tajam. Ia mengerti cara berkomunikasi dengan rakyat bawah, sebuah modal utama yang membuatnya tetap dicintai konstituen di daerah pemilihan Jawa Timur V.

2. Loyalitas Tanpa Batas dan Menjadi “Tangan Kanan” Tokoh Bangsa
Rahasia lain dari ketangguhan Basarah adalah loyalitasnya yang teruji. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan almarhum Taufiq Kiemas. Kedekatan mereka bukan sekadar hubungan senior-junior, melainkan hubungan ideologis yang sangat dalam. Basarah sering disebut sebagai “bayangan” Taufiq Kiemas karena selalu mendampingi sang tokoh dalam misi-misi kebangsaan yang krusial.

Kepercayaan ini berlanjut hingga ke lingkaran inti Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Dipercaya sebagai Ketua DPP Partai, Basarah membuktikan bahwa loyalitas dan integritas terhadap organisasi adalah kunci untuk tetap relevan dalam struktur kekuasaan.

3. Sang Penjaga Api Pancasila
Di saat banyak politisi terjebak dalam isu-isu pragmatis, Ahmad Basarah memilih jalan sebagai ideolog. Ia secara konsisten memposisikan dirinya sebagai pengawal gagasan Pancasila yang dibumikan oleh Bung Karno.

Perannya di MPR RI selama bertahun-tahun—termasuk saat menjabat sebagai Wakil Ketua MPR—selalu fokus pada penguatan nilai-nilai kebangsaan. Konsistensi ini membuatnya memiliki identitas politik yang unik dan kuat. Masyarakat melihatnya bukan hanya sebagai wakil rakyat, tapi sebagai penjaga fondasi negara.

4. Menyatukan Nasionalisme dan Spiritualitas
Salah satu pencapaian strategis Basarah adalah menjadi formatur pembentukan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi). Melalui wadah ini, ia berhasil menunjukkan bahwa nasionalisme dan nilai-nilai Islam dapat berjalan beriringan. Langkah ini sangat efektif dalam merangkul berbagai lapisan masyarakat dan mematahkan sekat-sekat perbedaan yang sering muncul di tahun politik.

Kesimpulan: Politik adalah Nafas Panjang
Keberhasilan Ahmad Basarah menduduki kursi DPR/MPR RI sejak tahun 1999 hingga periode 2024-2029 adalah bukti bahwa politik dengan “nafas panjang” membutuhkan kombinasi antara kecerdasan intelektual, loyalitas organisasi, dan keberpihakan yang jelas pada ideologi bangsa.

Bagi Ahmad Basarah, Senayan adalah mimbar untuk bersuara, bukan sekadar kursi untuk bertahta.(DW)

Exit mobile version