Biak, Papua,— Minggu, 15 Februari 2026. Sekretaris Jenderal Pemuda Adat Biak, Arnold Randongkir, menyampaikan keberatan atas kehadiran sejumlah anggota Brigade Mobil (Brimob) di lorong Kompleks Yafdas, Kabupaten Biak Numfor, pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 18.30 WIT.
Ia menilai kehadiran aparat tersebut tidak disertai penjelasan resmi kepada masyarakat dan berpotensi menimbulkan keresahan.
Sekitar 40 personel Brimob dilaporkan memasuki dan keluar-masuk lorong Kompleks Yafdas menggunakan dua truk dan satu mobil patroli berwarna hitam. Aparat disebut masuk hingga ke lorong-lorong kompleks dan mendekati rumah warga.
Menurut Arnold, saat itu Pemuda Adat Biak tengah melakukan kegiatan penggalangan dana dan sumbangan terbuka di sekitar Taman Yafdas yang telah berlangsung selama sepekan dan direncanakan berlanjut beberapa minggu ke depan.
Ia menegaskan kegiatan tersebut bersifat sosial dan tidak melibatkan aktivitas melanggar hukum.
Pihak yang menyampaikan keberatan adalah Arnold Randongkir selaku Sekretaris Jenderal Pemuda Adat Biak. Aparat yang hadir disebut merupakan anggota Brimob.
Arnold juga mengaku telah melakukan konfirmasi kepada pihak Polres Biak Numfor guna memastikan dasar kehadiran pasukan tersebut.
Peristiwa berlangsung pada Minggu, 15 Februari 2026, sekitar pukul 18.30 WIT.
Kejadian terjadi di lorong Kompleks Yafdas dan area sekitar Taman Yafdas, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua.
Arnold menyatakan sebelumnya sempat terjadi insiden orang mabuk di kompleks tersebut, namun telah ditangani aparat kepolisian sekitar pukul 18.00 WIT dan dinilai tidak bersifat urgensi.
Berdasarkan hasil komunikasi yang disampaikannya, pihak Polres disebut tidak mengajukan permintaan tambahan bantuan pasukan. Hal ini yang kemudian menjadi dasar pertanyaan terkait legalitas dan prosedur kehadiran Brimob.
Ia juga mempertanyakan apakah kehadiran tersebut bagian dari patroli rutin atau operasi tertentu. Menurutnya, sesuai pemahamannya terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan Peraturan Kapolri, pasukan taktis seperti Brimob umumnya diterjunkan dalam kondisi atensi tinggi atau berdasarkan permintaan resmi.
Arnold mengaku sempat menanyakan langsung maksud kedatangan kepada salah satu anggota di lokasi, namun tidak memperoleh penjelasan rinci. Ia kemudian menyampaikan keberatan melalui media sosial pribadinya.
Dalam unggahan tersebut, ia menilai kehadiran aparat tanpa pemberitahuan resmi berpotensi menciptakan rasa takut di tengah masyarakat serta membangun stigma negatif terhadap kegiatan pemuda adat. Ia juga menyebut menerima ancaman pada malam yang sama dan mengaku ada aparat yang mendatangi hingga sekitar rumahnya.
Arnold berharap apabila terdapat kekeliruan prosedur dalam pelaksanaan patroli atau pengamanan, hal tersebut dapat dikoreksi oleh pimpinan institusi terkait demi menjaga profesionalitas dan kepercayaan publik.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya menghubungi pihak Brimob maupun kepolisian setempat untuk memperoleh klarifikasi resmi guna memenuhi asas keberimbangan dan akurasi sesuai Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers.(Tim/Dwi)
