Sumatera Utara,-Udara pengap bercampur debu, keringat, dan bau lembap masih menyelimuti posko pengungsian Kelurahan Tukka, Desa Hutanabolon, Sabtu (24/1/2026) siang.
Di ruang sempit yang dijejali tikar dan barang seadanya itu, warga korban bencana berkumpul untuk menerima bantuan kemanusiaan yang didistribusikan Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Drs Rapidin Simbolon MM dan Sekretaris PDIP Sumut Sutarto Msi, dan Bendahara Meriahta Sitepu.
Tikar-tikar tipis terhampar. Kardus bekas menjadi meja. Sudut-sudut ruangan menyimpan kisah yang tak sempat diucapkan.
Pendistribusian bantuan dibuka melalui tiga gerai yang dipantau langsung oleh Rapidin, didampingi Sekretaris PDIP Sumut Sutarto MSi.
Bantuan tersebut dikategorikan dalam dua jenis, rumah rusak berat menerima Rp1 juta, sedangkan rumah rusak ringan menerima Rp500 ribu.
Penyerahan bantuan dilakukan oleh Sorta Ertaty Siahaan, Ketua Komisi B DPRD Sumut sekaligus kader PDIP, bersama Bendahara PDIP Sumut Meriahta Sitepu.
Sejumlah kader DPC turut hadir, di antaranya Jimmy Tambunan dan Tiur Silitonga dari DPC Taput.
Di barisan depan, dua nama terus bergerak nyaris tanpa jeda, Ahokli Marpaung dan Agus Hutagalung.
Mereka mengatur antrean, memanggil nama, mengangkat barang. Keduanya kader. Keduanya juga korban. Di tubuh mereka, lelah dan pengabdian bertemu tanpa sekat.
Di antara warga yang menunggu, Ratna Juita berdiri sambil menggenggam kertas kecil dari kepala lingkungan. Kertas itu tipis merupak data korban banjir. Tapi hari itu, nilainya seperti pegangan.
Saya dianggil Kepling. Terima kasih kepada Bapak Rapidin Simbolon dan Ibu Megawati dari masyarakat Hutanabolon. Walaupun rumah kami rusak ringan, diterjang lumpur dan banjir, terima kasih banyak bantuannya,” katanya.
Warga korban bencana menunjukkan bantuan uang tunai yang diterima di posko pengungsian Kelurahan Tukka, Desa Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sabtu (24/1/2026). Bantuan tersebut merupakan inisiatif PDI Perjuangan untuk warga dengan rumah rusak ringan dan rusak berat.
Ia lalu menambahkan, seperti membuka isi hatinya perlahan. “Bukan cuma uang yang kami dapat, tapi juga air minum bersih dan perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu, buku, topi, dasi,”ucap Ratna Juita.
Tentang Megawati Soekarnoputri, suaranya melembut. “Terima kasih atas bantuannya, Ibu Mega, karena masih mengingat kami di sini. Mudah-mudahan ibu panjang umur dan selalu sehat,”harapnya.
Ia tak menyembunyikan kenyataan hidupnya. “Ini sangat membantu. Selama ini kami cuma dapat sembako. Sekarang ada uang, bisa kami pakai untuk kebutuhan penting. Mata pencaharian sudah tidak ada, suami tidak ada pekerjaan. Modal mau jualan juga tidak ada,”ucap Juita.
Kader PDIP Jimmy Tambunan menyerahkan bantuan kemanusiaan PDI Perjuangan kepada warga korban bencana di posko pengungsian Kelurahan Tukka, Desa Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sabtu (24/1/2026).
Dan seperti banyak warga lainnya, ia menitipkan doa di ulang tahun Megawati yang ke-79. “Mudah-mudahan panjang umur dan selalu sehat,”sebutnya.
Ronda Sitompul menyampaikan terima kasih dengan suara pelan. “Yang rusak ringan dapat lima ratus ribu, yang rusak berat dapat satu juta. Ini sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih kepada Bapak Rapidin Simbolon dan Ibu Megawati. Rumah saya memang rusak parah,”tuturnya.
Di sudut posko, Siti Aslina Panggabean berdiri dengan tatapan yang masih menyimpan sisa malam panjang itu. “Di sini saya menjemput bantuan dari Rapidin Simbolon. Terima kasih saya ucapkan karena rumah saya rusak,”demikian cerita Arlina.
Ketika mengingat hari banjir, kalimatnya pecah menjadi kejujuran paling sederhana.
“Dengan sedih saya lari. Saya pikir saya tak hidup lagi,”ucapnya lirih.
Tak ada metafora yang cukup untuk kalimat itu. Ia berdiri sendiri. Telanjang. Dan justru karena itu, ia menghantam paling dalam.
Bagi Lesdi Tambunan, bantuan itu adalah jeda kecil dari kepanikan panjang.
“Kami menerima bantuan dari Bapak Rapidin Simbolon. Cukup membantu bagi kami bantuan tersebut,” ujarnya
Sedangkan Salma Tambunan berkata dengan jujur tanpa lapisan. “Terima kasih kepada Ibu Megawati dan Bapak Rapidin Simbolon. Barang-barang kami sudah hilang, rumah rusak. Saya senang dapat uang dari Ibu Mega,”katanya.
Kalimat-kalimat itu sederhana. Tapi di tempat seperti Tukka hari itu, kesederhanaan justru menjadi bentuk paling jujur dari kesaksian.
Di hadapan warga, Rapidin Simbolon tak membangun harapan dengan janji besar. Ia memilih kata-kata yang jujur.
“Rp1 juta tidak mungkin bisa membangun rumah, Ttapi sekecil ini pun yang bisa kami serahkan, semoga bisa membantu bapak dan ibu misalnya untuk membeli perlengkapan sekolah, ongkos sekolah, dan kebutuhan lainnya,”ujar Rapidin.
Lalu ia menambahkan sesuatu yang tak tertulis di amplop bantuan mana pun, tetapi terasa lebih luas maknanya. “Saya percaya Tukka bisa bangkit. Pelan-pelan, bersama-sama. Warga di sini kuat. Kami akan terus bersama masyarakat agar kehidupan bisa berjalan kembali.”
Sore pelan-pelan turun di Hutanabolon. Antrean berkurang. Anak-anak kembali duduk di tikar. Ibu-ibu merapikan plastik belanja. Duka belum pergi. Trauma masih tinggal di sudut-sudut ingatan.
Bantuan itu tak membangun rumah yang roboh. Tak menghapus malam panjang saat air datang. Tapi hari itu, sejuta rupiah berubah makna.
Ia bukan sekadar angka. Ia menjadi simbol kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar, bahwa di tengah kehilangan, masih ada yang datang. Masih ada yang tinggal. Masih ada yang percaya bahwa Tukka layak untuk bangkit.
Editor : Dwi Wahyudi
