Edukasi

Aktivis GMNI Merauke Putra Rahayaan Bersama Linmas Berjibaku Padamkan Karhutla yang Ancam Jembatan Satu-satunya di Kampung Tanas, Elikobel

MERAUKE – Di tengah krisis kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kabupaten Merauke dengan 5.543 titik api, seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Merauke, Bung Putra Rahayaan bersama anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, berjibaku memadamkan api yang mengancam jembatan vital penghubung kampung.

Peristiwa tersebut terjadi di Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Api diketahui merambat cepat mendekati jembatan utama yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk warga.

“Jembatan ini bukan sekadar kayu dan besi. Ini urat nadi kehidupan kami. Kalau putus, kami terisolir total,” ujar seorang warga Tanas di lokasi, Senin.

Bung Putra Rahayaan yang turun langsung bersama Linmas terlihat bergotong royong dengan peralatan seadanya, ember, parang, dan ranting pohon untuk memadamkan kobaran api yang terus mendekat.

Aksi spontan tersebut dilakukan demi mencegah api menjalar lebih jauh dan membakar tiang penyangga jembatan yang sebagian besar masih berbahan kayu.

Menurut data BPBD Merauke dan laporan Bupati per 9 Oktober 2026, karhutla tahun ini telah melanda 10 distrik, namun penanganan di tingkat kampung masih sangat minim. Warga di Tanas mengaku belum pernah melihat bantuan Damkar atau BPBD datang ke titik api di sekitar jembatan mereka.

Kader GMNI Merauke itu menegaskan, semangat gotong royong masyarakat tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan.

“Jangan tunggu jembatan rusak dan akses putus baru negara hadir. Kami di Tanas butuh tindakan nyata, bukan sekadar imbauan di media sosial,” tegas Putra Rahayaan di sela pemadaman.

Pihaknya mendesak empat langkah cepat:

1. Pemerintah Kabupaten Merauke dan Distrik Elikobel segera mengerahkan tim Damkar dan BPBD dengan peralatan memadai ke Jembatan Tanas.
2. Membuat sekat bakar dan pos pantau titik api di sekitar permukiman.
3. Menetapkan Status Darurat Bencana Karhutla sebagaimana desakan YLBHI dan LBH Papua pada 12 Oktober 2026.
4. Melakukan koordinasi lintas instansi TNI-Polri, DLHK, dan Pemerintah Kampung untuk mitigasi berkelanjutan.

Ia mengingatkan, jika jembatan tersebut lumpuh, dampaknya akan sistemik. Warga akan kesulitan mengangkut hasil kebun, anak sekolah tidak bisa ke sekolah, warga sakit tidak bisa dirujuk ke Puskesmas, hingga distribusi bantuan pangan dan air bersih terhambat.

Aksi gotong royong di Tanas ini menjadi potret bahwa di tengah lemahnya respons negara, solidaritas rakyat masih menjadi benteng terakhir penyelamat kampung.

Hingga berita ini diturunkan, api di sekitar Jembatan Tanas dilaporkan berhasil dikendalikan sementara oleh warga, namun potensi muncul kembali masih sangat tinggi mengingat angin kencang dan lahan gambut yang kering.

DPC GMNI Merauke, menyatakan akan terus mengawal kasus karhutla di Elikobel dan mendorong konsolidasi akbar evaluasi 2 tahun program pemerintah pusat pada Minggu, 19 Oktober 2026.

Dwi

Exit mobile version