Presiden Belarus luncurkan Piagam Eurasia, akademisi Indonesia tampil wakili Saint Petersburg State University
Minsk, 3 November 2026 Konferensi Internasional Minsk ke-4 tentang Keamanan Eurasia (IV Minsk International Conference on Eurasian Security) yang digelar di Minsk, Belarus, 3 November 2026, menjadi panggung penting gagasan tatanan dunia multipolar.
Presiden Republik Belarus Aleksandr Lukashenko menyerukan negara-negara Uni Eropa untuk mencari jalan kerja sama. “Keamanan dan ekonomi adalah dua sisi mata uang yang sama. Sudah saatnya berhenti memelihara ilusi bahwa siapa pun dapat dibentuk ulang,” tegas Lukashenko.
Dalam forum tersebut, Indonesia turut hadir melalui representasi akademis Prof. Connie Rahakundini Bakrie menjadi salah satu pembicara di konferensi bergengsi tersebut.
Dalam presentasinya bertajuk “From Principles to Operational Security”, Prof. Connie memaparkan arsitektur keamanan global baru di kawasan Eurasia. Ia tampil membawa representasi akademis dari Saint Petersburg State University (SPbGU), Rusia.
“Empat poin utama Prof. Connie di Minsk:”
1. A Practical Minsk Security Initiative
Upaya nyata untuk menginisiasi kerangka kerja sama keamanan yang operasional dan konkret di kawasan Eurasia, tidak hanya berhenti di deklarasi.
2. Eurasian Charter of Diversity & Multipolarity
Dorongan untuk menciptakan Piagam Eurasia abad ke-21 guna mendukung tatanan dunia yang inklusif, beragam, dan multipolar — sejalan dengan yang disampaikan Presiden Lukashenko.
3. Institutional Coherence
Penyelelarasan dan penguatan sinergi di antara organisasi-organisasi kawasan strategis seperti CSTO, SCO, CIS, EAEU, dan BRICS, agar tidak tumpang tindih dan saling memperkuat.
4. Sovereign Equality & Strategic Autonomy
Penekanan pada kesetaraan kedaulatan antarnegara dan hak otonomi strategis tanpa adanya intervensi pihak luar.
Konteks Piagam Eurasia
Poin-poin yang dipaparkan Prof. Connie sejalan dengan pidato Presiden Lukashenko yang secara resmi meluncurkan proses negosiasi Piagam Keragaman dan Multipolaritas Eurasia di Abad ke-21 di Majelis Umum PBB September 2026.
Lukashenko menyebut piagam ini menyatukan inisiatif besar: Belt and Road dan Inisiatif Keamanan Global dari Tiongkok, Kemitraan Eurasia Raya dari Rusia, Suara Selatan Global dari India, hingga integrasi ekonomi Eurasia dari Kazakhstan.
“Jika Akta Akhir Helsinki 1975 menjadi kerangka koeksistensi di era bipolar, maka Piagam Eurasia dirancang menjadi Akta Helsinki untuk era polisentris/multipolar yang baru,” ujar Lukashenko.
Ia menegaskan piagam ini bukan ancaman bagi Uni Eropa, OSCE, NATO maupun PBB. “Belarus adalah pusat geografis Eropa. Ini menawarkan harapan bagi semua negara.”(DW)
Sumber: Layanan Pers Presiden Republik Belarus president.gov.by, Kementerian Luar Negeri Rusia, SCO, dan dokumentasi IV Minsk International Conference on Eurasian Security.
Dwi




















