Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

IHSG Bergejolak Imbas MSCI: 2 Strategi Investasi

×

IHSG Bergejolak Imbas MSCI: 2 Strategi Investasi

Sebarkan artikel ini
IHSG Bergejolak Imbas MSCI: 2 Strategi Investasi — Ilustrasi pergerakan IHSG dengan grafik naik turun dan teks MSCI, menggambarkan gejolak pasar modal Indonesia
Rencana reklasifikasi MSCI memicu gejolak IHSG dan mendorong investor menyusun strategi investasi.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Rencana MSCI mereklasifikasi pasar modal Indonesia menjadi standalone market membuka peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham berkualitas saat harga tertekan. Namun, Komisaris Independen Pinnacle Investment Indonesia John Rachmat menyarankan investor tidak terburu-buru membeli sebelum dampak perubahan klasifikasi tersebut benar-benar terealisasi.

Dalam diskusi bertajuk Bagaimana Cuan dari IHSG pada Sabtu (17/10/2026), John memaparkan dua strategi yang bisa dimanfaatkan investor di tengah gejolak pasar. Keduanya menuntut kesabaran dan pemahaman risiko, bukan sekadar mengejar harga murah.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

John memperkirakan sekitar 60%—70% investor asing yang memiliki saham Indonesia merupakan index fund. Arus keluar dana dari kelompok investor ini berpotensi meningkat apabila MSCI benar-benar mengeluarkan Indonesia dari indeks emerging market saat ini.

Karena itu, ia menyarankan investor menunggu hingga dampak reklasifikasi terealisasi sebelum mulai mengakumulasi saham.

“Tapi pesan saya, jangan lakukan metode ini sampai MSCI mengumumkan bahwa kita di-downgrade.”

— John Rachmat, Komisaris Independen Pinnacle Investment Indonesia

Membeli Saham Berkualitas Saat Harga Terkoreksi

Strategi pertama adalah membeli saham berfundamental kuat ketika harganya terkoreksi tajam. Alih-alih merekomendasikan saham tertentu, John menyarankan investor berfokus pada kualitas fundamental dan kemampuan perusahaan menghasilkan dividen secara berkelanjutan.

Menurutnya, emiten dengan manajemen yang baik berpeluang meningkatkan dividen per saham dari waktu ke waktu. Sebaliknya, saham dengan imbal hasil dividen tinggi belum tentu menarik apabila pembagian dividennya justru terus menurun.

John menambahkan, investor perlu membeli saham ketika harga berada pada level murah. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah dividend yield.

Pada umumnya, investor menggunakan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sebagai acuan investasi. Dengan asumsi imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun saat ini sebesar 5,3%, tingkat imbal hasil yang dianggap menarik adalah dengan spread 5% atau mencapai sekitar 10,3%.

Perubahan status Indonesia menjadi standalone market berpotensi memicu tekanan jual dari index fund asing, sehingga harga saham bisa turun lebih dalam sebelum kembali mencerminkan nilai fundamentalnya.

Strategi tersebut, lanjutnya, dapat diterapkan ketika pasar mengalami tekanan ekstrem akibat perubahan status Indonesia menjadi standalone market. Investor perlu bersabar menunggu harga saham mencerminkan risiko yang muncul, alih-alih terus melakukan pembelian ketika harga masih berpotensi turun.

Short Selling sebagai Alternatif

Selain membeli saham ketika harga tertekan, John menyebut short selling sebagai strategi kedua yang dapat dimanfaatkan investor. Berbeda dengan strategi pertama yang mengandalkan pemulihan harga saham dan pendapatan dividen, short selling memungkinkan investor mengambil posisi untuk memperoleh keuntungan dari penurunan harga saham.

Menurut dia, strategi ini dapat mulai dipertimbangkan tanpa harus menunggu dampak reklasifikasi MSCI. Dari lima saham yang dapat ditransaksikan lewat fasilitas tersebut, ia menyarankan investor memusatkan perhatian pada saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Astra International Tbk. (ASII).

  • Sekitar 60%—70% investor asing pemilik saham Indonesia adalah index fund.
  • Dividend yield menarik dinilai berada di kisaran 10,3%, mengacu pada US Treasury 10 tahun sebesar 5,3% ditambah spread 5%.
  • BBCA dan ASII menjadi dua saham yang disorot untuk strategi short selling.

Menurut John, kedua saham tersebut menarik dicermati karena pergerakannya berkaitan dengan aktivitas transaksi investor asing. Ia mencatat investor asing masih membeli saham BBCA dan ASII sebelum pengumuman rencana reklasifikasi MSCI.

John menilai manajer investasi asing yang ingin mengurangi eksposur di Indonesia akan mempertimbangkan momentum transaksi untuk keluar secara efisien. Kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi pelaku short selling mengambil posisi ketika harga saham mengalami kenaikan.

Namun, John juga mengingatkan strategi tersebut bukan tanpa risiko. Pergerakan harga saham dapat berlawanan dengan perkiraan, terutama ketika terjadi kenaikan harga secara tajam. Karena itu, ia menilai saham berisiko tinggi dengan pergerakan yang rentan dipengaruhi spekulasi lebih sulit diprediksi.

Meski melihat peluang keuntungan dari strategi tersebut, John mengakui short selling tidak cocok bagi semua investor, khususnya mereka yang memiliki profil risiko rendah. Strategi ini membutuhkan pemahaman mekanisme transaksi, pemantauan pergerakan harga, serta disiplin dalam mengelola risiko.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Pertanyaan Umum

Apa yang dimaksud reklasifikasi Indonesia menjadi standalone market oleh MSCI?

Reklasifikasi adalah perubahan status pasar modal Indonesia dari indeks emerging market menjadi standalone market dalam klasifikasi MSCI. Perubahan ini berpotensi memicu arus keluar dana dari index fund asing yang memiliki saham Indonesia.

Mengapa investor disarankan menunggu sebelum membeli saham?

John Rachmat memperkirakan sekitar 60%—70% investor asing pemilik saham Indonesia adalah index fund. Arus keluar dana dari kelompok ini berpotensi meningkat jika MSCI benar-benar mengeluarkan Indonesia dari indeks emerging market, sehingga harga saham masih bisa tertekan lebih jauh.

Berapa tingkat dividend yield yang dianggap menarik?

Dengan asumsi imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sebesar 5,3%, tingkat imbal hasil yang dianggap menarik adalah dengan spread 5%, atau mencapai sekitar 10,3%.

Sumber: Bisnis.com

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Baca Juga :  5 Juni 2026: Saham BBRI dan BBCA Anjlok, Apakah Sudah Waktunya Memborong?
Banner Iklan Harianesia 120x600