BANDUNG_HARIANESIA.COM— Masalah akses pelayanan kesehatan bagi warga kurang mampu kembali memicu ketegangan. Seorang warga RW 09 Sukamulya, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul bernama Kusnandy Hendra, diduga mendapat kendala administrasi serius dan penolakan pelayanan medis di Rumah Sakit Santo Yusup Bandung saat hendak berobat menggunakan jaminan program Universal Health Coverage (UHC).
Akibat ketidakjelasan penanganan dan penolakan skema pembiayaan gratis tersebut, pihak keluarga pasien yang merasa telantar akhirnya mengambil keputusan sepihak untuk meminta pulang sekitar pukul 02.10 WIB dini hari. Langkah ini terpaksa diambil keluarga di tengah malam buta karena khawatir akan ketidakpastian perawatan medis di fasilitas kesehatan tersebut.
Ketua RW 09 Sukamulya, Diki Irawan, menyatakan kekecewaan mendalam atas insiden ini. Pasalnya, bangunan fisik RS Santo Yusup berdiri dan beroperasi langsung di lingkungan pemukiman warga setempat, namun dinilai kurang memiliki empati terhadap warga lokal yang sedang mengalami kondisi darurat.
“Rilis berita mengenai warga tidak mampu yang masuk rumah sakit tapi ditolak menggunakan UHC ini sangat memprihatinkan. Padahal atas nama Kusnandy Hendra ini adalah warga resmi kami di RW 09 Sukamulya. Yang membuat kami sangat kecewa, RS Santo Yusup ini berada langsung di lingkungan kami, berdampingan dengan warga, tapi mengapa akses untuk warga lokal yang sedang kesulitan justru dipersulit hingga keluarga terpaksa meminta pulang pukul 02.10 dini hari,” tegas Diki Irawan dalam keterangannya.
Hingga informasi ini diturunkan, pihak kewilayahan beserta perwakilan keluarga menuntut pertanggungjawaban dan klarifikasi resmi dari manajemen RS Santo Yusup. Mereka juga mendesak Dinas Kesehatan Kota Bandung dan BPJS Kesehatan Cabang Bandung untuk turun tangan mengevaluasi sistem penerapan UHC di hilir agar hak warga miskin untuk mendapatkan pertolongan pertama kedaruratan medis tidak terhambat oleh urusan administrasi.
Lepi


















