Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Menulis di Tengah Bisu: Ketika Pena Menjadi Perlawanan di Papua

×

Menulis di Tengah Bisu: Ketika Pena Menjadi Perlawanan di Papua

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Oleh : Gembala Dr. A.G. Sochrates Yoman

Jakarta_HARIANESIA.COM_ Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman kembali menulis. Ia tidak sedang menyusun khotbah. Ia sedang menyalakan lilin. Dalam esai terbarunya, _Saya Tahu dan Mengerti Penderitaan Bangsku, Karena Itu Saya Terus Berbicara dengan Menulis_, Yoman menegaskan posisi: menulis adalah cara melawan.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Ia mengutip Mayon Sutrisno dalam _Arus Pusaran Sukarno_: “Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara.” Kutipan itu bukan pemanis. Ia menjadi doktrin. “Kitipan ini menginspirasi saya untuk menulis dan menulis dan terus menulis untuk martabat bangsaku,” tulis Yoman.

Di titik ini, Yoman bukan sekadar penulis. Ia memposisikan diri sebagai penyambung lidah dari mereka yang disebutnya “bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu”. Ia mensejajarkan langkahnya dengan Kartini, Multatuli, Hatta, Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo. Tokoh-tokoh yang, dalam narasinya, “menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan”.

Yoman punya target waktu. Ia menulis, “Melalui buku ini, saya bermimpi dan mempunyai doa dan harapan bahwa 5 sampai 10 tahun ke depan tepatnya tahun 2031 atau 2036, sejarah palsu Indonesia di atas TANAH ini akan hilang sendirinya. Generasi muda bangsa Papua Barat akan berdiri dengan kebenaran sejarah dan ideologinya sendiri.”

Baca Juga :  Anggota DPRD Provinsi Banten Yeremia Mendrova, Bersama Komunitas Muda HAMKA, Menggelar Kembali Sunatan Massal

Kalimat itu keras. Ia menyebut ada “sejarah palsu” dan membayangkan lenyapnya narasi itu dalam satu dekade. Ia menutup proposisinya dengan keyakinan: “Sebab, yang palsu tidak pernah berumur panjang.”

Apa yang hendak dilawan Yoman dengan tulisan? Daftarnya panjang. Ia menulis untuk “menghapus air mata dan penderitaan bangsaku”. Untuk “kemuliaan dan kehormatan bangsaku”. Untuk “martabat bangsaku”. Ia ingin “umumkan secara terbuka kepada semua orang tentang krisis dan tragedi kemanusiaan berkepanjangan yang dialami bangsaku”.

Ia merinci sumber tulisannya: dari apa yang ia tahu, mengerti, lihat, saksikan, alami, pikir, dan rasakan. Ia menulis untuk “bangsaku yang tertindas dan terjajah”, “yang terabaikan”, “yang dibuat tidak berdaya”, “yang terpinggirkan dari tanah leluhur mereka”. Dalam diksinya, ia menyebut penguasa Indonesia sebagai “Firaun dan Goliat moderen” dan menyatakan menulis untuk “menyelamatkan bangsaku yang sedang dimusnahkan”.

Baca Juga :  PONPES ATTOHIRIYAH DI RONGGA AMBRUK DITERJANG LONGSOR, SATU SANTRIWATI MENINGGAL DUNIA

Di sini esai Yoman bergerak dari personal ke politikal. Ia tidak hanya bicara soal ekspresi. Ia bicara soal eksistensi. Tentang sejarah, harga diri, identitas, dan harapan masa depan “bangsaku Melanesia di West Papua”.

Namun Yoman juga memberi batas. Ia sadar menulis punya pagar. “Saya tahu, sadar dan mengerti menulis tidak melukai dan tidak membunuh, menulis adalah menyalakan lilin kecil untuk menerangi lorong-lorong kecil yang gelap.” Baginya, menulis adalah “pertanggungjawaban iman dan ilmu pengetahuan serta panggilan hati nurani”.

Tujuannya spesifik: “Tugas dan kewajiban saya dengan jalan menulis dapat mengubah cara pandang dan berpikir orang Melayu Indonesia, terutama penguasa, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsaku.”

Terlepas dari setuju atau tidak pada diksi dan klaim Yoman, esainya memotret satu hal yang tak bisa dibantah: ada sebagian warga Papua yang memilih pena sebagai jalan. Di tengah tudingan kekerasan dari berbagai pihak, Yoman menawarkan narasi lain. Bahwa perlawanan tidak selalu lewat peluru. Bisa lewat paragraf.

Baca Juga :  Dalam Rangka Peringati Hari Guru, Yayasan Pendidikan BHAKTI INSANI Menggelar Upacara Bendera

Sejarah Indonesia sendiri mencatat itu. Kartini menulis dari Jepara. Hatta menulis dari pengasingan. Pramoedya menulis dari Pulau Buru. Tulisan mengendap. Lalu meledak jadi kesadaran.

Yoman kini mengambil peran itu. Ia menulis dari Ita Wakhu Purom, 17 Februari 2026. Ia mencantumkan nomor telepon di akhir esai: 08124888458. Seolah berkata: saya bertanggung jawab atas kata-kata saya.

Negara punya dua pilihan merespons tulisan seperti ini. Pertama, membungkam. Kedua, mendengar. Pilihan pertama tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia hanya menunda ledakan. Pilihan kedua pahit, tapi perlu. Mendengar bukan berarti membenarkan. Mendengar berarti mengakui bahwa ada luka yang belum sembuh, ada cerita yang belum selesai.

Menulis, seperti kata Yoman, memang tidak membunuh. Tapi diam terlalu lama bisa.

(DW)

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600